Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi: Andaikan Jubahmu Memelukku Lagi
Sastra

Puisi: Andaikan Jubahmu Memelukku Lagi

By Redaksi6 Oktober 20182 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

SVD

Andaikan jubahmu memelukku lagi

Dalam hatiku, sepi mati

Cahaya doa di kolam air mataku semakin memesona

 

Aku sebenarnya suka tinggal di rumah putihmu seperti

keduabelasan:

 

Merawat biji doa yang ditaburkan penabur sebagai gandum di antara lalang

 

Doa seperti kerja yang berseru mempersiapkan ladang

 

Aku sempat ingin lagi berteduh di pondok jubahmu

Saat turun hujan lapar-panas haus

Di sana aku bertemu,

Roti: tubuh-Nya yang dibagibagikan

Anggur: darah-Nya yang ditumpahkan

 

Tetapi jubah bulu unta dan ikat pinggang Yohanes mengajakku:

Mari kita nikmati sagu bakar yang dicampur sari buah merah

Sebagai cinta: tubuh-Nya yang pernah dibagi bagikan

Sebagai kenangan: darah-Nya yang kini tumbuh di tanah

 (2016/2017)

 

Taman Nukila

Pada matamu yang indah, Nukila kaki cintaku bagai daun gugur,

Berserakan melangkahkan jatuh

Di rumput hujan, cinta merendah

Mambasuh kaki rumput berdebu

 

Peluklah dinginku Nukila

Dengan hangat tangan air guraka

Sebab aku kini menjelma dingin kotamu

 

Berhembus mencari remah-remah senyummu yang sengaja kau simpan di lesung pipi taman

(Ternate 2018)

 

Jalan Kaki Kecil

Tak ada jalan beraspal menuju mata dan hatimu

Sebab matamu: kampung, kokoh menyimpan setapak berlumpur batu

Sedang hatimu: dusun, senantiasa terpencil

 

Berhari hari kaki kecilku berjalan

Sendirian

Pundakku seperti mama pulang kebun

Berbeban noken

Di tubuh keringat mengalir deras bagai sungai Ke’erom

 

Jalan kaki kecilku seperti sajak

Sunyi

 

Akankah kau mau menemaniku?

(Ubrub 2018)

 

 

 

puisi
Previous ArticleRevolusi Mental, Generasi Milenial dan Semangat Bangkitnya Pangan Lokal di NTT
Next Article Meski Ada Putusan Hukum, Tanah di Rohak Tetap Diserobot Warga

Related Posts

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.