Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»OPINI»Analisis Ekopol NTT»Jefry Riwu Kore dan Herman Man: Dirajam Kritik Tiada Tara Tetapi Tetap Melangkah
Analisis Ekopol NTT

Jefry Riwu Kore dan Herman Man: Dirajam Kritik Tiada Tara Tetapi Tetap Melangkah

By Redaksi14 Januari 20195 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pius Rengka
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Pius Rengka

Satu tahun sudah waktu dihitung telah berlalu.  Walikota Kupang, Jefry Riwu Kore dan Herman Man, memimpin ini kota. Tetapi, ziarah kepemimpinan dua tokoh ini, tak jauh dari sembilu kritik. Saban hari keduanya dirajam kritik.

Bahkan, lebih dari itu, mereka dihina dan diolok-olok. Puncak hujatan itu hanya punya satu frasa yang pas bahwa dua pemimpin ini, lemah nian.

Di mana saja, ketika satu dua orang berkumpul, di sana pun gosip meruak. Dan, cibir remeh temeh. Walikota Kupang dinilai sangat lemah, tak sanggup memimpin kota ini.

Memang, sungguh mati. Tak diketahui pasti. Siapa gerangan para perajam krikil kritik itu, yang datang dari segala arah. Para tukang olok itu, berujar, Walikota Jefry Riwu Kore, pemimpin sangat lemah, mengecewakan. Bahkan ada yang tega nian mengatakan, Jefry bodoh, tanpa punya orientasi apa-apa.

Tudingan pun begitu juga, sama saja. Jefry Riwu Kore itu, dituding tak sanggup bertindak apa pun pada pegawai yang melakukan persekusi atas Wakil Walikota. Gosip pun kian meruak menjalar bak api tersiram bensin.

Wakil Walikota Kupang, Hermanus Man (Foto: Ist)

Konon, dua preman pegawai kota itu dikenal khalayak, sebagai pegawai berotak lemah untuk tidak disebut dungu.  Tapi, tak mengapa toh waktu terus mengalir, dua mahluk preman liar ini tetap nyaman di ketiak Walikota, kata gosip itu.

Bahkan gosip liar itu menyebutkan, dua preman pegawai negeri yang menyerang dokter Herman itu justru kini mengatur-ngatur langkah Walikota Jefry Riwu Kore. Diketahui juga, kata gosip itu, dua pegawai ini, manusia bodoh yang masih tersisa di muka bumi.

Begitulah serial kritik dan gosip itu datang bagai badai atas ladang wajah politik kepemimpinan Walikota Jefry Riwu Kore. Badai gosip dan kritik itu begitu padat dan kenyal sehingga nyaris tak lagi dapat dibedakan. Mana kritik, mana gosip. Campur aduk sedemikian rupa di  panggung publik, sampai-sampai para jurnalis asal menulis apa saja yang muncul di media sosial yang tersedia.

Walikota Kupang, Jefry Riwu Kore dan Pelaksana Tugas Bupati Ngada, Paulus Soliwoa. saat menandatangani kerja sama penyelenggaraan pelayanan tera, tera ulang dan pengawasan metrologi legal di ruang rapat Garuda Lantai 2 Kantor Walikota Kupang, Kamis, (05/04/2018).

Di panggung media sosial, nama Jefry berhimpitan dengan aneka peristiwa politik di level nasional. Tatkala tarung serang gosip Pilpres kian mengencang, tegangan konflik politik di kota pun kian mengeras. Anggota dewan kota tak segera setuju anggaran untuk memperindah taman kota.

Namun, di tengah gelombang kritik, hujatan sarkastik dan gosip keji yang berlari liar di panggung politik Kota Kupang, Walikota Dr. Jefry Riwu Kore, tetap berjalan gontai tak sekali pun menyahut kasar. Dia diam saja. Dan, diam-diam dia terus bergerak menurut apa yang dibayangkannya sebagai hal terbaik untuk pembangunan kota.

Kadang, sesekali tampak dalam siaran langsung, Jefry Riwu Kore sedang berinteraksi dengan rakyat yang dikunjunginya. Kali lain, ada siaran langsung dia memungut sampah di tepi jalan ketika hujan menyiram ini kota dengan badai sampah mengalir ke tempat rendah.

Sampah di Selokan Jalan Timor Raya, Oesapa, Kota Kupang (Foto: Sandry/VoxNtt.com)

Ketika Walikota bertindak tandas jelas dan tegas melakukan sirkulasi birokrasi di kota mulai dari para Lurah dan kepala desa, tampaknya, para juru gosip dan kritik, redup sejenak.

Namun, energi kritik mulai bangkit lagi ketika Walikota melakukan tindakan tanpa tedeng aling-aling atas lokasi prostitusi Karang Dempel di kawasan Tenau Kupang. Para juru kritik bangkit lagi. Ada narasi politik baru yang harus diisi tuntas. Perihal Karang Dempel dan kisah di sekitarnya, dibidik dari aneka arah.

Antara lain disebutkan, penutupan Karang Dempel, merupakan tindak tidak populer yang naif, dan tidak luas cakrawala. Walikota tidak memperhitungkan implikasi sosial dan ekses ekonomi atas keputusannya itu. Tetapi, toh Walikota Jefry tak sedikit pun berubah sikap.

Dia tenang dan jalan terus lalu terus berlanjut, hingga kini KD, sungguh-sungguh ditutup. Ke manakah para penghuni yang sudah mulai manja dengan bisnis kenikmatan itu? Ke manakah gerangan mereka pergi mengais rejeki dari modal dagang tubuh itu? Hingga tulisan ini dibuat, belum dapat dipastikan ke arah mana mereka berubah arah.

Penutupan Karang Dempel, jelas menimbulkan turbulensi sosial. Tak ketinggalan aktivis gereja pun ikut bersuara. Singkat kisah, tindakan penutupan Karang Dempel dinilai tindakan tanpa perikehidupan sosial kemanusiaan.

Lampu Jalan

Jefry Riwu Kore, dapat disebut pemimpin yang gemar berenang di arus. Dia diam-diam tak banyak omong, tak banyak pidato. Dia, pada satu malam, tiba-tiba meluncurkan 500 titik lampu dari Straat A hingga Lasiana, dan beberapa lampu hias yang merias kota ini.

Didahului sedikit seremonial seperlunya di sebuah kantor Kecamatan, tak jauh dari kantor Walikota,  Jefry Riwu Kore didampingi Wakil Walikota dr. Herman Man dan Ibu Hilda Manafe, mengumumkan peluncuran lampu jalan dan lampu hias.

Malam, tatkala launching lampu hias dan lampu jalan di Kota Kupang, para juru kritik dan tukang gosip, mungkin saja hadir di tengah peristiwa itu. Tetapi cahaya lampu yang memberi rona baru Kota Kupang, perlahan berubah, seolah-olah kota yang tadinya berwajah seperti seorang  nenek tua rentah bangun tidur berubah perlahan menjadi gadis molek genit yang mulai tahu cara berdandan. Kota pun mulai bercahaya.

Lampu hias di depan Kantor Camat Kelapa Lima Kota Kupang (Foto: Tarsi Salmon/ Vox NTT)

Rakyat Kota yang tahu akan peristiwa itu datang ke situ, lalu mulai beraksi dan bergaya dengan smartphone foto diri sambil memberi simbol victory. Menang.

Satu di antaranya yang ditanya, apakah yang dipikirkannya pertama kali tatkala melihat lampu kota menyala? Dengan enteng ibu setengah baya itu berkata,  Pak Jefry kerja diam-diam, tetapi mulai berhasil.

“Orang boleh saja kritik keras kepada Pak Jefry, karena mereka tak tahu apa-apa. Sebaiknya kita lihat hasil kerjanya saja,” ujarnya sambil menyiram senyum nan tulus.

Dia menambahkan, meski Pak Jefry terus dihujat, tetapi Beliau jalan terus. Kita warga kota mendukung.

Pius Rengka
Previous ArticleUnwar Bali Buka Penerimaan Mahasiswa Baru
Next Article Pengurus Pusat Pemuda Katolik Resmi Dilantik

Related Posts

Perjuangan Mama Sebina: Bertahan Hidup, Sekolahkan Anak di Tengah Kemiskinan Manggarai Timur

25 Februari 2026

Telan DAU 989 Juta, Proyek Lapen Lidang – Rambe Bermutu Buruk, Ada Dugaan Keterlibatan Kades

19 Desember 2025

Ayah Terjebak “Penipuan” Tabungan BNI Life, Anak Batal Kuliah

19 November 2025
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.