Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan TTS, Matilda Kase. (Foto: L. Uan/Vox NTT).
>alterntif text

Soe,Vox NTT-Dua minggu belakangan wabah penyakit malaria dan demam berdarah dengue (DBD) mulai merambah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS).

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupatem TTS, Matilda Kase yang diwawancarai VoxNtt.com, Senin (14/01/2019) kemarin, mengungkap data mulai mewabahnya malaria dan DBD di TTS.

Kabid P2P ini, merinci, sejak periode tanggal 01 Desember 2018 hingga 14 Januari 2019 ada 15 kasus DBD.

Sementara itu, untuk penyakit malaria ada 12 kasus. Khusus DBD, penyebaran paling banyak yaitu di Kota SoE dengan jumlah 11 kasus, Kecamatan Siso 2 kasus, Kie dan Batuputih 1 kasus.

Mencegah wabah dua penyakit endemik ini, pihak Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, jelas Matilda, telah mengeluarkan sistem kewaspadaan dini KLB DBD.

“Dinas Kesehatan TTS, sudah bangun sistem kewaspadaan dini dengan memberikan surat kepada semua Puskesmas, rumah sakit pemerintah maupun swasta yang ada di wilayah TTS agar ikut mengantisipasi makin mewabahnya DBD maupun malaria,” jelasnya.

Dijelaskannya, bulan Januari sampai Maret merupakan waktu puncak wabah penyakit malaria dan DBD.

Oleh karena itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten TTS, dokter Eirene Ina Dieke Ate, dalam surat himbauan kewaspadaan dini itu, juga meminta pihak rumah sakit dan Puskesmas di wilayah TTS intensif melakukan pemantauan harian, melakukan koordinasi lintas sektor maupun lintas program.

Selain itu, hal penting, jelas Matilda adalah penyuluhan kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan yang bersih dan bebas dari sektor nyamuk malaria dan DBD.

“Kita berharap di musim hujan seperti ini, lokasi-lokasi yang kotor dan kumuh harus dibersihkan sehingga tidak menjadi sarang nyamuk Aedes Aegypti yang menyebabkan DBD dan nyamuk anopheles untuk malaria,” imbau Matilda Kase.

Penulis: L. Ulan

Editor: Boni J