Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

*)Puisi-Puisi Patrisius Epin Du*

Kematian Kekasih

Kemarin kekasihku pergi merantau ke tanah yang jauh.

Katanya di sana rupiah berlimpah ruah,

“Walapun menjauh dari mu kan kupulang dengan sekarung uang.”

Pesannya sebelum pergi.

 

Kekasihku tak tahu entah kenapa

Tiba-tiba mati ditabrak sepeda motor saat ia memikul sekarung puisi

Hingga kata-kata berhambur pada badan jalan.

Hingga tak berdaya lagi.

 

Kekasihku dikabarkan mati, dan ingin dikubur bersama puisi-puisinya.

Pesanya agar ia terlelap di alam sana dengan kata-kata.

Ketika di batas senja lewat,

Segerombolan pemuda datang mencuri puisi-puisinya

Seraya berkata “apakah engkau beragama”

Kekasihku bingung, “Aku tak punya agama, aku hanya memiliki Tuhan yang memberi aku imajinasi. Agama hanya sandiwara manusia.”

Ia pun pergi menghadap Tuhan “Tuhan adakah tempat bagiku yang tidak beragama di surga”

Tuhan menjawab “Apakah engkau memberi aku makan ketika aku lapar, ketika aku telanjang,

Ketika aku seorang asing, dan melawat aku ketika di penjara.”

Kekasihku menulis secarik surat untukku dari Surga.

“Tuhan tidak bertanya agamamu apa. Tapi Tuhan lebih meminta

Apa yang telah engkau lakukan untuk sesamamu, apa yang kamu lakukan untuk sesama saudaraku yang paling hina, ini itu kamu lakukan untuk aku”

Aku menangis membaca mimpi dari surga itu

Selama ini Tuhan hanya berada dalam ritus yang kusembah.

Joyo Grand, 13 Maret 2019

Ich Liebe Dich

Semalaman aku membaca karya mas Joko Pinurbo

Ia menulis puisi pacar senja, padahal saat itu aku sedang jatuh cinta

Kepada bintang yang bertengger di ujung langit

Lihat dia ada di sana, di antara kumpulan bintang yang paling indah

Ia lupa dibawa pergi si senja, yang sedari tadi telah tiada

Tinggal aku dan rindu

Sembari membaca kata-kata ini kepadanya

Ich Liebe Dich..

Joyo Grand, 13 Maret 2019

*Penulis adalah Mahasiswa STFT Widya Sasana- Malang, sekarang Tinggal di Biara Pondok Kebijaksanaan-Malang