Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KOMUNITAS»Festival Pangan, WALHI Dukung Wilayah Kelola Rakyat
KOMUNITAS

Festival Pangan, WALHI Dukung Wilayah Kelola Rakyat

By Redaksi18 Maret 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Suasana pentas seni dalam Festival Pangan 2019 yang digelar Walhi dan ITA PKK. (Foto: Walhi NTT).
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT- Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Esksekutif Daerah Nusa Tenggara Timur (WALHI NTT) menggelar Festival Pangan bersama Ikatan Tokoh Adat Pencari Keadilan dan Kebenaran (ITA PKK) dari Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Festival Pangan tahun 2019 merupakan festival yang ketiga diselenggarakan WALHI NTT bersama ITA PKK sejak tahun 2017.

Kali ini mengusung tema “Haim Moem Natuin Tetus Nako Nasi, Talan Tia Haim Panat Nasi” yang artinya “Dari Hutan Kita Hidup, Maka Jagalah Hutan,”.

Tema Dari Hutan Kita Hidup, Maka Jagalah Hutan bermula dari ungkapan hati masyarakat yang terhimpun dalam ITA PKK. Sebab, masyarakat adat Pubabu menggantungkan hidupnya pada hasil hutan, sehingga isu tentang pelestarian sumber daya hutan sebagai sumber penghidupan menjadi sangat relevan dalam festival tersebut..

Direktur Eksekutif WALHI NTT, Umbu Wulang Tanamaahu Paranggi dalam sambutannya mengatakan, dalam festival itu setiap orang diajak, untuk tetap melestarikan sumber-sumber pangan yang sudah menjadi warisan sejak dahulu.

Hal itu kata Umbu. karena pangan-pangan tersebutlah yang membuat orang tetap bertahan hidup, bahkan secara kesehatan pun terjamin, karena proses pembuatannya, kebersihannya benar-benar diperhatikan.

“Pangan-pangan instan yang tersedia pada warung-warung sebenarnya secara kesehatan tidak terjamin, karena kita tidak paham proses pembuatannya. Dan juga membuat masyarakat ketergantungan, sehingga melupakan pangan lokal,” terang Umbu.

Berbagai acara yang dikemas dalam festival pangan ini yaitu, diskusi kampung, talk show, pameran pangan lokal dan pentas seni. Diskusi kampung membicarakan tentang aktivitas masyarakat adat Pubabu yang selama ini menggantungkan hidupnya pada kawasan hutan serta proses pelestarianya.

Sedangkan talk show, membicarakan perhutanan sosial sebagai sebuah peluang yang diberikan kepada masyarakat, untuk memanfaatkan sumber daya hutan. Dalam talk show ini menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi NTT dan Koordinator Divisi Advokasi WALHI Nasional.

Zenzi Suhardi dalam materinya menyampaikan, betapa pentingnya peran masyarakat adat dalam menentukan jalan mana yang akan dipilih akan jenis perhutanan sosial apa ke depannya. Karena, kata dia, hal tersebut akan sangat berdampak pada metode pengelolaan hutan. Terutama dalam melestarikan hutan sebagai sumber penghidupan masyarakat.

Selain diskusi dan talk show, masyarakat adat juga memamerkan berbagai pangan lokal yang dihasilkan dari hutan kepada peserta festival. Ada juga beberapa kerajinan yang ikut dipamerkan.

Selain itu, dalam festival juga beberapa pangan lokal dan kerjinan dilelang kepada peserta festival. Ada berbagai macam pangan lokal yang dipamerkan dalam festival ini misalnya, umbi-umbian, sayur-sayuran, jagung, asam, sorgum, obat-obatan, anyaman topi dan lain-lain.

Dalam festival ini juga diadakan pentas seni lokal. Karena kesenian lokal merupakan salah satu identitas masyarakat yang punya hubungan erat dengan pangan lokal dan kehidupan masyarakat setempat.

Kesenian lokal merupakan salah satu tolak ukur keberadaan atau kelestarian sebuah komunitas atau masyarakat adat. Sehingga pada festival ini, pentas seni pun menjadi salah satu mata acara penting.

Dalam festival itu juga, Umbu Wulang menutut festival pangan 2019 di Pubabu sebagai upaya mendukung wilayah kelola rakyat tetap berdaulat. “Tanpa pelestarian pangan lokal, maka akan sangat berpotensi hilangnya kedulatan rakyat atas tanah, hutan, dan air,” tegas Umbu.

Penulis: Boni J

Festival Pangan Walhi NTT
Previous ArticleMenyoroti Isu Ketenagakerjaan dalam Debat Cawapres
Next Article Ene Regina, “a Shaman” from East Manggarai

Related Posts

Romo Julivadis Tanto: Fasilitator Katekese Bukan Penguji Umat, tetapi Sesama Peziarah Iman

14 Februari 2026

GAMKI NTT Luncurkan Orela TV, Angkat Isu Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak

11 Februari 2026

Peringati Hari Pers Nasional, Wartawan di Manggarai Barat Salurkan Sembako ke Warga Pesisir

8 Februari 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.