Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Saat Ansy Lema dan Pius Rengka Merajut Mimpi Generasi Milenial
HEADLINE

Saat Ansy Lema dan Pius Rengka Merajut Mimpi Generasi Milenial

By Redaksi21 Maret 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Rian Seong (kiri), Ansy Lema (tengah) dan Pius Rengka (kanan) dalam diskusi bersama generasi milenial kabupaten Kupang, NTT beberapa waktu lalu (Foto: Ronis/VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Olemasi, Vox NTT-Meski malam kian larut, puluhan pemuda itu tampak hanyut dalam diskusi bertajuk Bebas Tafsir, Bebas Mimpi.

Keterhanyutan mereka bukan karena terlena hidup dalam mimpi, melainkan karena mimpi-mimpi dalam hidup yang diutarakan politisi muda PDIP sekaligus caleg DPR RI dapil NTT 2, Ansy Lema dan jurnalis senior, Pius Rengka.

Diskusi yang berlangsung di teras rumah Bapak Sil Neno, Kompleks Pemancar Tilong, Kabupaten Kupang ini berlangsung sederhana dan akrab.

Peserta diskusi terdiri dari Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah VII St. Agustinus Paroki Simon Petrus, Komunitas Teater Perempuan Biasa, Komunitas Secangkir Kopi, para undangan dan para jurnalis.

Meski panggung pematerinya dibuat di depan teras rumah, namun aksesoris yang didesain bak acara Televisi Nasional dengan ornamen lampu hias bergaya glamour, membuat aura diskusi tampak elegan.

Diskusi diawali dengan sambutan Gusty Rikarno selaku Ketua komunitas secangkir kopi.

Gusti menyampaikan, mendorong diskusi sebagai salah satu unsur literasi menjadi keharusan dalam menapaki demokrasi digitial saat ini.

Diskusi (selain membaca dan menulis), merupakan proses pengasahan budaya berpikir kritis agar kaum milenial mampu tajam membedakan kebohongan dan kebenaran, keaslian dan kepalsuan serta bijak dalam memakai piranti digital seperti media sosial.

Sementara Pius Rengka membuka topiknya dengan menyentil sosok Ansy Lema.

Bagi Pius, Ansy merupakan sosok muda yang memiliki alur berpikir yang sistematis dan berisi.

Generasi muda NTT, kata Pius, harus berbangga memiliki Ansy karena eks aktivis 1998 ini, berani tampil di level nasional dengan menyumbangkan gagasan berbobot bagi kemajuan bangsa. Bisa dikatakan, Ansy adalah model dari generasi muda NTT yang patut diteladani.

Karena itu, Pius mendorong anak muda NTT untuk berani bermimpi. Ansy adalah contoh putra asli NTT yang terus merajut mimpi itu meski di tengah situasi yang serba bernasib tak tentu.

Mimpi yang ditawarkan Pemimpin Umum VoxNtt.com ini adalah mimpi yang menjadikan kaum muda kreatif dan bisa melakukan perubahaan sosial.

Pius berujar, bahwa kreativitas hanya mungkin muncul pada orang yang tercengang dan gelisah.

“Jika tercengang, maka realitas dengan kesadaran akan bertabrakan. Kesadaran itu kemudian membangkitkan tindakan bagi banyak orang. Menurut saya kaum milenial harus merasa tercengang dengan realitas sosial,” jelasnya.

Sementara dalam menghadapi pemilu 2019 yang akan datang, mimpi perubahaan, menurut Pius, hanya terwujud jika kaum muda memilih sosok yang cerdas dan berintegritas.

“Pemimpin harus pintar dan memiliki integritas karena mereka akan mengelola kepentingan banyak orang,” tandasnya.

Selain itu, generasi muda juga harus berpartisipasi aktif dalam setiap tahap demokrasi hingga pemilihan.

Budaya Literasi

Ansy Lema, dalam pemaparan materinya menekankan pentingnya budaya Literasi.

Menurut dia, budaya literasi sangat penting demi merawat akal sehat dan menularkannya kepada banyak orang.

Sebaliknya, ruang publik yang tidak diisi oleh kemampuan literasi, akan didominasi oleh sensai dan manipulasi.

Jika terus dibiarkan, ruang publik malah akan melahirkan masyarakat yang ‘sakit’ dan bermoral rendah.

“Anak bangsa saat ini, gemar menggunakan ruang publik untuk menabur informasi dan gagasan sampah. Seolah-olah proses menalar itu mati. Ini bisa jadi tanda dan lonceng kematian bagi sebuah peradaban”, jelas Ansy.

Karena itu, generasi milenial merupakan ikon untuk menularkan literasi.

“Orang muda adalah aktor dan meski selalu merawat akal sehat. Ingat! Republik ini didirikan oleh anak muda,” tegas Ansy.

Hawa diskusi selanjutnya berlangsung hangat karena diselingi oleh tanya jawab dari audiens sambil menikmati hidangan kopi dan kue.

Salah satu rekomendasi diskusi adalah penguatan gerakan literasi oleh pemerintah dan simpul-simpul gerakan masyarakat untuk menginvestasikan generasi milenial NTT demi meraih mimpi-mimpi mereka.

Diskui baru berakhir sekitar pukul 21.30 Wita.

Penulis: Ronis Natom

Editor: Irvan K

Ansy Lema Kabupaten Kupang Pius Rengka
Previous ArticleElang Flores, Burung Langka di Dunia yang Terancam Punah
Next Article Tersisa Empat Ekor Elang Flores di Wolojita Ende

Related Posts

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Sebina: Bertahan Hidup, Sekolahkan Anak di Tengah Kemiskinan Manggarai Timur

25 Februari 2026

Profil Desa Enoraen Kecamatan Amarasi Timur Kabupaten Kupang

24 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.