Kelompok Jata Dara Wolojita ditetapkan sebagai kelompok masyarakat peduli Elang Flores di Kabupaten Ende (Foto: Ian Bala/Vox NTT)

Ende, Vox NTT-Kelompok Jata Bara di Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, NTT mencatat populasi Elang Flores di kawasan hutan adat Otoseso, Wolojita.

Populasi itu diamati kelompok ini sepanjang tahun 2018 hingga tahun 2019. Di kawasan hutan adat tersebut, tersisa hanya empat ekor (dua pasang) Elang Flores.

Sekretaris Kelompok Jata Bara, Yolus Dhalu menyebutkan, satu ekor elang betina saat ini sedang dirawat oleh kelompok di Resor Wolojita akibat patah tulang.

Cedera itu diduga terjadi saat perebutan makanan. Warga menemukan elang itu di hutan Otoseso kemudian dibawa ke Resor untuk dilakukan perawatan.

“Bukan karena kejahatan manusia. Tapi kita duga karena masalah diantara mereka (elang). Jadi, saat ini yang masih dihutan tiga ekor dan kita sedang melakukan perawatan satu ekor yang sedang sakit,” ungkap Yolus usai Workshop di Pesanggrahan Belanda Danau Kelimutu, Kamis (21/03/2019).

Ia menjelaskan, Elang Flores berbeda dengan jenis elang-elang lainnya. Ada keunikan yang terdapat pada elang tersebut.

Keunikan itu, jelas Yolus, pada warna bulu. Misalnya, tubuh elang pada bagian perut dan bagian kepala berwarna putih.

Kemudian warna cokelat kehitaman pada tubuh bagian atas hingga bagian ekor.

“Kalau masih kecil warna bulu bagian atas berwarna hitam. Kalau sudah besar warna sudah berubah menjadi cokelat kehitaman,” katanya.

“Elang jantan semua berwarna putih. Tapi ada sedikit hitam bagian kepala,” ucap Yolus.

Ia menjelaskan, pengujung dapat melihat Elang Flores sebelum jam 10 pagi di sarangnya kawasan hutan adat Otoseso. Itu dapat dilakukan dengan seremonial adat sebelum berkunjung ke kawasan itu.

Yolus mengatakan, seremonial adat itu dilakukan agar seluruh rangkaian pengunjung di lokasi dapat dilaksanakan secara lancar.

Selain itu, karena kawasan hutan tersebut merupakan kawasan adat selayaknya menjadi tradisi adat Lio pada umumnya.

“Kalau seremonial adat itu wajib. Karena sesuai tradisi kita,” ucap Yolus.

Terancam Punah

Data lain yang diperoleh VoxNtt.com dari berbagai situs menerangkan, Elang Flores (Nisaetus Floris) merupakan salah satu raptor (burung pemangsa) yang hanya dapat ditemukan di Pulau Flores, Sumbawa, Lombok, Satonda, Paloe, Komodo dan Pulau Rinca.

Populasi raptor endemik Flores ini di alam bebas diperkirakan tidak lebih dari 250 ekor individu dewasa. Ini berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN) tahun 2005.

Kelompok ini juga bertugas untuk melestarikan Elang Flores dan burung jenis lainnya di Kawasan Danau Kelimutu (Foto: Ian Bala/Vox NTT)

Kecenderungan populasi Elang Flores yang terus menurun membuat IUCN menetapkannya sebagai jenis kritis (Critically Endangered/CR).

Elang Flores semula dikelompokkan sebagai anak jenis (subspecies) dari Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) dengan nama ilmiah Spizaetus cirrhatus floris. Elang Flores ini ditetapkan sebagai spesies tersendiri pada tahun 2005.

Adapun ciri-ciri Elang Flores yang memiliki daya unik. Pada umumnya, Elang Flores berbulu putih dan mempunyai garis-garis berwarna coklat pada bagian mahkota.

Baca Juga: Elang Flores, Burung Langka di Dunia yang Terancam Punah

Tubuh berwarna coklat kehitam-hitaman. Sedangkan dada dan perut ditumbuhi bulu berwarna putih dan corak tipis berwarna coklat kemerahan.

Kehidupan Elang Flores mendiami hutan-hutan dataran rendah dan hutan submontana sampai ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba