Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi: Zaman Kemurungan
Sastra

Puisi: Zaman Kemurungan

By Redaksi30 Maret 20191 Min Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: istimewa)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*)Puisi-Puisi Melki Deni

Zaman Kemurungan

Sejak dulu sabda kelahiraan membosankan,

Datang, bertamu, dan pergi.

Itu saja.

Kelahiran berarti kemartian subu.

Dan kau menangis rintih?

2 saja. Bertahan atau segera pamit dari tanah.

Aku selalu membendung.

 

Sejak dulu sabda kecintaan menjengkelkan,

Sata, dua, atau tiga.

Satu saja.

Kecintaan berarti keuangan.

Berapa yang diperkosa atau dieliminasi?

1 saja. Lelaki dan perempuan yang miskin segalanya.

Aku mau merenggut nyawa buana seusai ini.

 

Sejak dulu sabda kemanusiaan menyayat-nyayatkan,

Penciptaan, milenium pertama, kedua dan ketiga.

Sama saja.

Kemurungan tiada reda. Malah semakin terlilit rumit.

Kemanusiaan berarti kemodalan.

Berapa manusia yang diperdagang manusia?

21 ke atas. Sebab jemari hanya 20.

Aku meletih setelah bangun pagi-pagi.

Manusia Kemarin

Kemarin kita di dalam rumah ayah-bunda,

dikaruniai harta kebajikan terluhur, katanya.

Apa yang kau ingat? Aku, kita, dunia dan Tuhan.

Melintasi batas sabda-sabda epigram sebelum ini.

 

Kemarin kita di dalam rumah ibadah,

dijumpakan dengan Sang Maha, katanya.

Apa yang kau alami? Ada saja.

Melampaui abjad yang terwaris sampai nanti.

 

Kemarin kita di dalam rumah adat,

dihadiahkan benih-benih kebijaksanaan, katanya.

Apa yang kau buat? Tanam dalam diri saja.

Menebarkan buah-buahnya sampai buah lagi.

*Melki Deni, Mahasiswa semester II STFK Ledalero-Maumere.

Melkisedek Deni
Previous ArticlePuisi: Rupa-rupa Tangis
Next Article Puisi: Memungut Mimpi

Related Posts

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026
Terkini

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.