Kebeningan pantai dengan suguhan batu berbentuk setengah lingkaran menjadi incaran para pengunjung di pantai Mbawana, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (Foto: Ignas/VoxNtt.com)

Tambolaka, Vox NTT-Deburan ombak yang kian merdu diiringi gelak tawa penuh riang para pengunjung turut merenda keheningan pantai Mbawana, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).

Pantai yang menyajikan panorama alam nan eksotis ini mampu menghipnotis para pengunjung dengan keindahan hamparan pasir putih, laut yang bersih serta batu cadas yang menjulang.

Menjelang matahari terbenam, para pengunjung berebutan melakukan selfie atau wefie persis di bawah batu yang menjulang berbentuk setengah lingkaran itu.

Kebeningan pantai dengan suguhan batu berbentuk setengah lingkaran menjadi incaran para pengunjung di pantai Mbawana, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (Foto: Ignas/VoxNtt.com)

Mereka berpose dengan latar belakang matahari berwarna keemasan yang hampir tenggelam di ufuk barat. Biasan cahaya mentari pada air laut menambah efek ‘kecantikan’ pada setiap jepretan di pantai ini.

Selain pesona pantai Mbawana, masih ada lagi pantai Watu Malandong yang keindahannya juga tidak kalah menarik dari tempat wisata lainnya di Sumba Barat Daya.

Keindahan pantai Malandong di Kecamatan Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya (Foto: Ignas/VoxNtt.com)

Pantai ini  terletak di Kecamatan Kodi Bangedo yang juga berdekatan dengan pantai Mbawana. Keindahan pantai Watu Malandong disempurnakan oleh gugusan batu raksasa yang menjulang dengan rerumputan yang tumbuh pada dinding batu.

Gugusan batu itu berjejer sepanjang hamparan pasir putih. Keindahan dua pantai ini menunjukkan bahwa Sumba tidak hanya identik dengan pesona padang sabana yang luas dan gemuruh kaki seribu kuda seperti yang terlukis dalam puisi ‘Beri Daku Sumba’, karya Taufik Ismail.

Panorama keindahan Sumba Barat Daya terbentang dari pesisir pantai, merebak ke pegunungan dengan wisata air terjun yang memukau, menjalar ke perkampungan adat hingga danau air asin.

Pengunjung yang ingin berwisata ke pantai Mbawana dan pantai Watu Malandong, mesti menggunakan mobil pribadi atau jasa travel yang ditempuh dalam waktu 1 jam 45 menit – 2 jam dari Tambolaka, ibukota kabupaten Sumba Barat Daya.

Sementara itu, wisatawan dari luar daerah dapat menginap di beberapa tempat penginapan atau hotel yang berada di Tambolaka.

Untuk melengkapi kunjungan wisata ke Sumba Barat Daya, para wisatawan dapat membeli syal atau sarung tenun Sumba di beberapa tempat penjualan souvenir di Tambolaka.

Belum Diperhatikan Serius

Lantas, bagaimana sambutan pemerintah daerah mengenai pariwisata pada pulau terindah di dunia versi majalah Focus terbitan Jerman itu?

Khusus di Kabupaten Sumba Barat Daya, sampai saat ini belum ada tanda-tanda perhatian yang serius dari pemerintah kabupaten maupun provinsi. Kurangnya perhatian itu terutama dalam hal pembangunan infrastruktur jalan raya menuju lokasi pariwisata.

Keindahan pantai Malandong di Kecamatan Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya (Foto: Ignas/VoxNtt.com)

Kondisi jalan menuju pantai Mbawana dan pantai Watu Malandong tergolong sangat memprihatinkan. Pengelolaan tempat pariwisata pantai yang tidak diperhatikan dapat terlihat dari tidak adanya toilet dan alat bantu renang bagi wisatawan yang ingin berenang.

Selain itu, dari sisi kemanan, maraknya pungutan liar yang terjadi di lokasi pariwisata cukup mengganggu kenyamanan pengunjung.

Ayen, demikan ia disapa, salah satu pengunjung di pantai Mbawana dan pantai Watu Malandong, mengaku pernah diperas berulang kali di sekitar destinasi tersebut.

“Saya sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini. Saya dan keluarga diperas oleh orang-orang yang mengaku memiliki otoritas di sini. Mereka sering melakukan pungutan liar (pungli)”, kata Ayen saat ditemui di pantai Watu Malandong pada Senin (22/4/2019).

Kegelisahan pengunjung ini perlu direspon serius pemerintah mengingat pulau Sumba telah dinobatkan sebagai the most beautiful island in the world. Selama ini, pariwisata Sumba ibarat mutiara yang belum terjamah oleh pembangunan.

Meski belum diperhatikan secara serius, potensi pariwisata di daerah ini sangat menjanjikan, apalagi kalau pengelolaannya melibatkan komunitas masyarakat setempat.

Penulis: Ignas Sara

Editor: Irvan K