Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KOMUNITAS»Persembahan Umat Waipaddi di Sepanjang Jalan Salib Jumat Agung
KOMUNITAS

Persembahan Umat Waipaddi di Sepanjang Jalan Salib Jumat Agung

By Redaksi29 Maret 20243 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Umat Stasi Waipaddi saat melaksanakan ibadah Jalan Salib, Jumat (29/3/2024)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Tambolaka, Vox NTT- Umat Katolik di seluruh dunia tengah merayakan peringatan Trihari hari suci Yesus Kristus. Begitu juga dengan umat Stasi Salib Suci Waipaddi, Paroki Waimarama Kodi Bangedo, Sumba Barat Daya, NTT.

Setelah berjaga bersama Tuhan semalaman dalam penyembahan Sakramen Maha Kudus, pada umat (29/3/2024) seluruh umat stasi Salib Suci Waipaddi hadir kembali mengikut ibadat Jalan Salib.

Gerimis pagi baru usai, jalan dan pepohonan masih basah, Romo Fidel, Pr, Romo Oris, Pr dan Pater Frans Seda, SVD berarak bersama seluruh umat mulai dari anak-anak, orang muda, orang tua dalam suasana hening dan mulai berkumpul tepat di depan gerbang Biara SCMM Waipaddi.

Jalan Salib dipimpin oleh Suster Pascalia, SCMM yang dimulai tepat pukul 09.00 waktu setempat. Seperti biasa umat Paroki Waimarama mengikuti ibadat Jalan Salib bersama melintasi jalan diperkampungan masyarakat sekitar Gereja Waipaddi. Kebiasaan Jalan Salib melintas perkampungan ini telah berlangsung selama dua tahun.

Jalan Salib pagi ini juga melewati perumahan dan perkebunan masyarakat. Para petugas dan OMK bersama umat telah menyiapkan beberapa tempat perhentian tepat di depan halaman rumah umat sebagai tempat untuk berdoa dan merenungkan kisah sengsara Tuhan Yesus Kristus.

Setiap perhentian tempat untuk berdoa dihiasi dengan beberapa lembar kain, bunga seadanya dan lilin bernyala oleh petugas bersama keluarga-keluarga.

Perhentian pertama tepat di depan gerbang biara SCMM dan perhentian terakhir di dalam Gereja Salib Suci Waipaddi.

Umat Stasi Waipaddi saat melaksanakan ibadah Jalan Salib, Jumat (29/3/2024)

Dalam suasana hening para peserta ziarah salib berdoa dan bernyanyi. Beberapa kali mendaraskan doa Bapa Kami, Salam Maria dan menyanyikan lagu-lagu sengsara Tuhan Yesus di sepanjang jalan.

Satu hal yang menarik dan berbeda dari Jalan Salib ini adalah kebiasaan umat Stasi Waipaddi di
mana di setiap perhentian, umat atau keluarga-keluarga mempersembahkan hasil karya mereka untuk Tuhan yang tersalib.

Umat membawa padi, jagung, buah-buahan, sayur-sayuran serta bahan persembahan lainnya di setiap perhentian Jalan Salib dan menaruh persembahan di samping gambar Yesus yang menderita. Ini persembahan sebagai silih atas dosa.

Persembahan tersebut disiapkan oleh keluarga yang rumahnya dipilih sebagai tempat perhentian untuk berdoa.

Umat memberi dengan senang hati dan dilihat sebagai persembahan imam kepada Tuhan Yesus yang rela menderita bagi dosa-dosa umat manusia.

Dalam keadaan terbatas dan berkekurangan umat Waipaddi tetap setia untuk berbagi. Spiritualitas berbagi dimulai dengan hal yang kecil dan sederhana.

Menurut Romo Fidel, kebiasaan ini baik untuk membantu umat dalam penghayatan iman. “Menurut saya kebiasaan ini sangat baik dan mereka luar biasa,”  katanya.

Menurut kesaksian Romo Oris, Pr, kali ini ada peningkatan jumlah umat dalam partisipasi baik kehadiran untuk berdoa maupun semangat memberi persembahan yang dibawa.

Yesus telah mempersembahkan diriNya secara total. Ia rela wafat di Salib sebagai persembahan tersuci untuk keselamatan umat manusia.

“Mari kita mempersembahkan diri seperti Tuhan bagi dunia dan sesama kita,” ajak Romo Oris.

Kontributor: Pater Fransiskus Seda, SVD

Paroki Waimarama Kodi Bangedo Stasi Waipaddi Sumba Barat Daya
Previous ArticleKapolsek Kuwus Pimpin Bakti Sosial Bersihkan Material Longsor
Next Article Kenang Kisah Sengsara Yesus, Mahasiswa Unika Ruteng Bawa Tablo Jalan Salib di Paroki Noa

Related Posts

HWDI NTT Gelar Workshop Advokasi Berbasis Bukti, Dorong Akses Layanan Inklusif

6 Mei 2026

Prosesi Patung Bunda Maria Penolong Abadi Jadi Ikon Ziarah Umat Paroki Karot

2 Mei 2026

Padma Indonesia Desak Polisi Usut Kekerasan terhadap Jurnalis di Sumba Barat Daya

26 April 2026
Terkini

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.