Bupati Manggarai Deno Kamelus saat mengunjungi tempat penanaman hortikultura milik Poktan Kampung Wune, Desa Tungku, Kecamatan Cibal, Senin (15/04/2019) (Foto: Ardy Abba/ Vox NTT)

Ruteng, Vox NTT- Hasil penjualan hortikultura di Kabupaten Manggarai selama tiga terakhir mencapai 19 miliar lebih.

Hal itu diungkapkan Bupati Manggarai Deno Kamelus saat rapat kerja bersama Gubernur NTT dan para pelaku usaha di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Senin (10/06/2019).

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Deno mengaku, pemasaran hortikultura tidak lagi sebatas di wilayah Manggarai Raya (Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur).

Namun, pemasaran hortikultura sudah meluas hingga ke wilayah Sumba dan sekitarnya.

Menurut dia, saat ini komoditas unggulan di Manggarai yakni hortikultura dan kopi.

Untuk kopi sendiri, beber Deno, total produksi di Kabupaten Manggarai sebanyak 2.702 ton.

Total penghasilan penjualan kopi green bean sebesar 148 miliar,  kopi olahan sekitar 15 miliar,  dan kopi bubuk sebesar 4,7 miliar.

“Kabupaten Manggarai tiga tahun terakhir fokus pada pengembangan hortikultura. Kenapa begitu,  pertama,  dilihat dari sisi kontribusi PDRB terbesar berasal dari sektor pertanian.  Kedua,  serapan  tenaga kerja di sektor pertanian sebesar 51 persen,”  kata Bupati Deno sebagaimana dilansir dalam rilis Humas dan Protokol Pemkab Manggarai yang diterima VoxNtt.com, Selasa (11/06/2019).

Ia menjelaskan, selain instansi teknis,  Pemerintah Kabupaten Manggarai juga berkoordinasi dengan Badan Pertanahan, Bank NTT,  dan Pertamina dalam rangka memaksimalkan potensi kopi dan hortikultura.

“Dengan Badan Pertanahan,  saya berkoordinasi supaya petani-petani saya diberi sertifikat gratis.  Tahun lalu,  melalui CSR Bank NTT,  kami dapat 250 juta dan itu langsung dimanfaatkan untuk mensertifikatkan tanah petani hortikultura maupun kelompok pengembangan.  Dengan Pertamina, akan dibantu 2 unit cool storage atau pendingin agar sayur-sayur bisa disimpan hingga dua minggu,”  katanya.

Dalam paparannya, Bupati Deno menyarankan agar pelabuhan Reo dan Kupang harus menjadi pelabuhan ekspor. Sehingga devisa dari ekspor kopi Manggarai dapat dicatat di Provinsi NTT.

Hal itu diungkapkannya, mengingat kopi-kopi Manggarai selama ini dicatat sebagai hasil pengolahan di Provinsi Jawa Timur.  Akibatnya, devisa ekspor kopi Manggarai dicatat pihak Pemprov Jawa Timur.

Selain itu, Bupati Deno berharap agar ada kolaborasi untuk meningkatkan dengan memberi dukungan penuh kepada para pedagang kopi.

Terpisah, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat meminta agar konsep sistem pertanian terintegrasi (Simantri) dan program hortikultura yang telah digagas Kabupaten Manggarai dapat diadopsi oleh kabupaten lain.

Baca Juga: Tahun 2018, Hasil Penjualan Hortikultura dari Poktan di Manggarai Capai 9 Miliar

Gubernur Viktor beralasan, pertama, konsep dan program tersebut bukan hanya untuk pertumbuhan ekonomi saja, tetapi dalam perspektif mendukung pariwisata.

Kedua, semua sektor, dinas dan perangkat daerah harus mengambil peran untuk suatu target capaian yang telah direncanakan bersama.

“Saya tadi lihat cara mendesain pekerjaan dan program yang dilakukan oleh Bupati Manggarai, konsep seperti ini sebenarnya dilakukan dalam rangka pengembangan pariwisata.  Kalau di Kabupaten Manggarai sudah siap, Provinsi tidak perlu lagi buat program. Anggaran yang kami punya akan didrop ke program milik kabupaten tersebut,”  pungkas Gubernur Viktor.

Penulis: Pepy Kurniawan
Editor: Ardy Abba