Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Puisi-puisi Pelinong Wuwur
Sastra

Puisi-puisi Pelinong Wuwur

By Redaksi21 Juni 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: www.insatunesia.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Bersilah di Atas Kaca

Neraka mengejar jejak

Mereguk tawa

Mencumbu canda

Tapak-tapak retak

Aku terperanga

Takut pada remuk

Bersilah di atas kaca

 

Swiss Bellin Kristal

17/04/19

****

Waktu

Ada sejengkal waktu

Dipelototi, jangan

Ditapaki

Indah tapak sepatu, bukan

Ini tentang telapak mencecap keringat kolong langit

Tak hanya nikmat di atas pasir

Lembut di atas kasur

Ini tentang geliat jiwa mengecup duri

Bukan tentang membelai lara

Ini tentang menjahit luka

Menenun duri

Dalam kisah di ketiak waktu

 

SBK, 16/04/18

Aku

(dari Cerpen Ain Meni karya Feliks Nesi)

Kutatap nanar bilur-bilur itu

Mereka Lalu bangkit mengangkat cemeti mencambuk tubuhku

Aku mengerang

Ada kecewa terbahak di depan batang hidung

Ada rasa bersalah mencabik-cabik nurani

Maafkan telingaku yang menuli

Maafkan hatiku yang membatu

Maafkan taringku menumpul

Bahkan ompong

Bintang kita terlampau cemerlang

Aku telanjang di hadapannya

Sinarnya telah menguliti tubuhku

Suamiku terbata

Separu jiwaku mulai sekarat

Aku memanggil Tuhan

Namun Petrus terlampau culas

Aku mengadu pada leluhur

Nono berubah menjadi raksasa

Jelek dan menakutkan

Embun menjadi madu di halaman rumah

Kot-kotos berpesta menertawakan asa

Menebar pesing kematian

Aku hanya mampu meratapi tahi cair

Yang tertampung di jamban

 

Swiss Bellin Kristal

6/8/18

Rumah Tua

Rumah tua

Makin menua

Yang datang pun tua-tua

Bungkuk bengkok

 

Rumah tua

Di balkon

Bangkai terbungkus

Gagak patah sayapnya

 

SBK 7/5/19

*Pelinong Wuwur adalah pengajar pada SMKN 1 Kota Kupang

Pelinong Wuwur
Previous ArticleGelar Literasi Keuangan, OJK NTT: Hati-hati Tawaran Bunga Besar
Next Article Bandara Komodo Bakal Bertaraf Internasional

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.