Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Ferdy Hasiman Soal Tapal Batas: Andreas Agas Bupati Paling Lemah di NTT
Regional NTT

Ferdy Hasiman Soal Tapal Batas: Andreas Agas Bupati Paling Lemah di NTT

By Redaksi22 Juni 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ferdy Hasiman (Photo by: Berita Satu TV)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT-Andreas Agas, Bupati Manggarai Timur kembali mendapat sorotan terkait polemik perbatasan Manggarai Timur-Ngada.

Agas dinilai lemah lantaran hasil kesepakatan yang dimediasi Gubernur NTT beberapa waktu lalu, merugikan masyarakat Manggarai Timur.

“Masalah batas wilayah Manggarai Timur-Ngada yang ramai sekarang ini menunjukan bahwa Ande Agas itu bupati paling lemah di NTT. Dia seakan-akan tak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan perbatasan wilayah Matim,” kata pengamat politik, Ferdy Hasiman, Sabtu (22/06/2019).

Menurut Ferdy, faktor kelemahan Bupati Agas disebabkan karena tidak memiliki kemampuan lobi politik yang baik dengan Gubernur dan pemerintah pusat.

Selain itu, lanjut Ferdy, Bupati Agas tidak memahami sejarah lahan di daerah perbatasan dan tak mampu memahami landasan antropologis dan budaya soal tanah bagi warga Manggarai Timur.

“Tanah itu sesuatu yang melekat dan dekat dengan manusia. Menginjak tanah sama dengan menginjak harga diri. Budaya orang manggarai timur juga sangat dekat dengan tanah, seperti Rahim ibu yang mengandung,” kata Ferdy.

Karena Bupati Agas tak memahami sejarah, tak memiliki pandangan holistic tentang tanah dan budaya bagi orang Matim, lanjut Ferdy, makanya Bupati tak mampu berkomunikasi dengan baik dengan gubernur dan pemerintah pusat.

Agas juga dinilai tak memiliki niat untuk berkomunikasi dari hati ke hati dengan pemerintah Ngada, bagiamana solusi terbaik terkait masalah lahan di perbatasan.

“Yang ada dia ikut logika pemerintah Provinsi. Menyerahkan lahan itu ke pemerintah Ngada dengan alasan, rakyat akan mudah mendapat akses dalam pembangunan dan ekonomi. Itu kan logika sangat deterministic, logika ekonomi dan membenarkan pemimpin-pemimpin di Matim tidak memiliki niat politik mengurus rakyat termasuk di daerah perbatasan,” tegas Ferdy.

Menurutnya, tugas pemerintah dan bupati seharusnya melindungi rakyat, termasuk melindungi tanah warga yang sedang bersengketa. Urusan lahan di daerah perbatasan juga bukan soal urusan aksesibilitas, tetapi urusan harga diri, sejarah, dan martabat orang Matim yang melekat dengan tanah.

Masalah wilayah perbatasan Matim-Ngada juga menunjukan bahwa Ande Agas tidak memiliki solusi yang brilian dan cerdas.

“Rakyat Matim memilih Agas sebagai bupati karena percaya, beliau bisa menyelesaikan dan memiliki solusi terhadap masalah ekonomi, politik dan budaya orang Matim. Namun, kenyataannya Agas tak memiliki solusi, banyak orang-orangnya ikut mendantangani kesepakatan penyerahan lahan ke Ngada. Bupati Agas tak boleh membiarkan warga mencari sendiri solusi untuk mengurus masalah tapal batas,” kata Ferdy.

Menurut Ferdy, idealnya jika bupati tidak memiliki solusi, dia harus menyerahkan kepada mekanisme demokrasi. Namun, itu mengandaikan bupati Agas harus menggalang kekuatan politik dan melakukan konsolidasi politik internal di Matim. Berbicara dengan DPRD, tokoh-tokoh masyarakat, mendengar masukan masyarakat perbatasan, terkait lahan perbatasan.

Namun kata Ferdy, persoalannya Agas tidak mahir melakukan konsolidasi politik. Komunikasi politik dengan DPRD dan masyarakat Matim terputus yang menyebabkan dia mengambil keputusan sendiri. (VoN)

Agas Andreas Ferdy Hasiman Manggarai Timur Tapal Batas
Previous ArticleUsir Wartawan, Pena Batas RI-RDTL Kecam Tindakan Kasat Resnarkoba Belu
Next Article Pemda Ende Bakal Bangun SPBU di Wilayah Utara

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

KPB Program TEKAD Ponggeok Manggarai Kembangkan Penyulingan Minyak Cengkih

4 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.