Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»VOX DESA»Colol Sedang Dikaji Jadi Desa Pariwisata Berbasis Konservasi
VOX DESA

Colol Sedang Dikaji Jadi Desa Pariwisata Berbasis Konservasi

By Redaksi11 Juli 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Daerah Colo Rayal saat dipotret dari Tangkul (Foto: Dok VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT-Wacana pembentukan Desa Colol di Kabupaten Manggarai Timur sebagai desa pariwisata berbasis konservasi terus menggeliat.

Colol merupakan daerah produksi kopi terbesar di Manggarai bahkan NTT.

Kopi bagai nafas bagi orang Colol. Hari dibuka dengan segelas kopi. Menutupnya, entah kapan, juga dengan segelas kopi.

Daerah Colol saat dipotret dari Tangkul (Foto: Dok VoxNtt.com)

Colol memang mengesankan. Hijau, teduh. Udaranya sejuk diselimuti kabut tipis. Liukan daun kopi ditiup semilir angin menggetarkan jiwa.

Daerah dengan topografi yang berbukit-bukit dengan ketinggian 1.100-1.300 meter di atas permukaan laut ini, sangat ideal untuk budidaya kopi.

Jangan heran bila Anda berkunjung ke sini, belum lengkap jika tidak dibuka dengan secangkir kopi.

Pengunjung bisa mereguk kopi sembari menikmati panorama pegunungan yang berbentuk seperti kuali dan air terjun yang melingkupi kawasan ini.

Kepala Seksi Perencanaan, Pengawetan dan Perlindungan (P3), BBKSDA Provinsi NTT, Imanuel Ndun, mengatakan, usulan Colol sebagai desa pariwisata berbasis konservasi sangat mungkin dijalankan.

Namun kata dia, rencana tersebut mesti didahului kajian dan riset.

“Masih dalam proses kajian, kalau itu nanti kita kan training desa konservasi”, jelas Imanuel saat ditemui VoxNtt.com di kantor BBKSDA NTT, Kamis (11/07/2019).

Tugu peringatan perang Colol melawan Bima-Belanda. Tugu ini terletak di puncak sebuah bukit di desa Colol (Foto: Dok.VoxNtt.com)

Menurut Imanuel kajian penting dilakukan untuk mengukur kelayakan desa ini.

“Kita akan lakukan kajian apakah termasuk dalam desa pariwisata atau konsep desa lain”, jelas dia.

Tentang Colol

Prestasi kopi Colol memang tidak diragukan lagi. Selain sebagai daerah produksi kopi terbesar di NTT, pada tahun 2015 lalu, kopi jenis arabika dan robusta asal Colol dinobatkan sebagai kopi terbaik Indonesia.

http://fuq.zqc.mybluehost.me/2018/11/12/sejarah-darah-dan-budaya-di-balik-secangkir-kopi-pait-colol-part-1/36559/

Kopi ini berhasil menggeser peringkat kopi Jambi dalam kontes kopi spesialti Indonesia yang berlangsung di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada 10-14 November 2015 lalu.

Kontes ini diselenggarakan oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia, serta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember. Hasilnya, kopi Colol berhasil meraih juara dengan nilai 84,32 point.

Tak hanya berhenti di level nasional, kopi Manggarai asal Colol juga meraih penghargaan dalam ajang AVPA Gourmet Pruduct di Paris, 23 Oktober 2018.

Dalam ajang ini, kopi dengan label Papaku Manggarai meraih kategori gold gourmet.

Jika menilik ke belakang lagi, kualitas kopi Colol sudah diakui sejak zaman pemerintah kolonial Belanda.

Tahun 1937, Belanda menggelar sayembara penanaman kopi yang disebut ”Pertandingan Keboen”. Sayembara itu sejalan dengan kebijakan Raja Manggarai saat itu, Alexander Baruk (1931-1945). Baruk gencar mengenalkan budidaya padi dan tanaman perkebunan kepada rakyatnya.

Enu Monika, putri pariwisata Manggarai Timur sedang membuat kopi khas Colol (Foto: Ist)

Melalui seleksi sangat ketat, seorang petani Colol bernama Bernadus Odjong keluar sebagai pemenang ”Pertandingan Keboen” itu. Ia dihadiahi bendera tiga warna, berukuran 160 sentimeter x 200 sentimeter.

Benda itu kini tersimpan dalam wadah bambu khusus di rumah Aloysius Lesin (48) di Kampung Biting, Desa Uluwae, Colol.

Penulis: Ronis Natom

Editor: Boni J

Petani Colol
Previous ArticleTinjau Pulau Rinca, Jokowi Ingin Integrasikan Kawasan Pariwisata NTT
Next Article Warga Desa Gunung Baru Keluhkan Pungutan Uang Rastra, BPD: Itu Salah Satu Poin Pengaduan Saya

Related Posts

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Profil Desa Paka, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai

4 Maret 2026

Kades Golo Riwu Luncurkan Program “Investor Serbu Desa”, Andalkan Porang Hadapi Risiko Krisis 2026

3 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.