Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Cerita Ibu dan Anak Jadi Pemulung Botol di Ende
Feature

Cerita Ibu dan Anak Jadi Pemulung Botol di Ende

By Redaksi25 Juli 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ayu dan anaknya sedang berada di Mapolres Ende untuk mengumpulkan botol bekas (Foto: Ian Bala/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ende, Vox NTT-Ayu Ismail. Begitulah nama seorang ibu berprofesi pemulung botol di Kota Ende, Flores, NTT. Bermodal karung dan kantong plastik, siang itu, ia bersama anaknya Aba Ismail mulai mengelilingi Mapolres Ende.

Tujuannya satu, ialah memungut botol-botol bekas air mineral, botol kaca dan kaleng-kaleng. Botol dan kaleng itu mereka kumpul untuk dijual.

Ayu kini dikarunia empat anak. Mereka adalah Aba Ismail (9), Achmad Ismail (7), Nona dan Saiful. Aba dan Achmad sedang duduk dibangku SD Inpres Mbongawani, Kecamatan Ende Selatan. Sedangkan Nona dan Saiful masih kecil.

Ayu memang harus bertanggung jawab terhadap kehidupan ia dan anak-anak. Kondisi ini ia pahami sejak sang suaminya sebagai tulang punggung keluarga meninggal dunia.

Agar kehidupan keluarga terpenuhi, Ayu terpaksa memasang dada sebagai tulang punggung. Pekerjaan memulung botol bekas ia pilih karena dianggap lebih ringan dan mudah. Lagipula, kedua anak yang sedang dibangku sekolah itu bisa turut bekerja membantunya.

“Lebih baik kerja begini, daripada mencuri,” kata Ayu kepada VoxNtt.com.

Ayu bersama empat anaknya tinggal di rumah sederhana di Jalan Katedral, Kelurahan Mbongawani. Jarak sekitar satu kilo meter dari Mapolres Ende.

Setiap hari, setelah Aba dan Achmad pulang sekolah, mereka memulai bekerja sebagai pemulung. Mereka menyusuri jalan dan lorong untuk memungut sampah-sampah itu.

Mapolres Ende merupakan salah satu dari sekian tempat yang dituju. Di sana, ibu dan anak ini mengumpulkan botol bekas dari tempat sampah maupun dari got-got.

Ia tampak mengumpulkan botol bekas untuk dijual demi kehidupan keluarganya (Foto: Ian Bala/Vox NTT)

Barang bekas itu diisi di karung dan tas plastik termasuk di keranjang yang sudah disiapkan. Setelah semua terisi, barulah mereka kembali kumpul di rumah.

Botol-botol itu dibersihkan dan kemudian dijual ke pelanggan. Harganya bervariasi, tergantung jenis botol. Botol air mineral aqua dijual Rp 200 per buah dan botol minuman lain seharga Rp 150.

Sedangkan botol kaca tiga buah dijual harga Rp 1000 dan botol kaleng satu kilogram dijual Rp 5000.

“Tapi harus dibersih dulu. Iya, harus bersih baru mereka beli,” tutur Ayu.

Perempuan tamatan SMP ini mengatakan, dari pungut itu dalam sehari paling tinggi bisa menghasilkan 35 ribu. Itupun kadang terjadi. Setiap kali kemampuan ia dan anaknya hanya mendapatkan penghasilan 20 ribu hingga 25 ribu.

Beberapa anak di Mapolres Ende tampak berbaur mengumpulkan botol bekas untuk Ayu dan keluarga (Foto: Ian Bala/Vox NTT)

Jika dibandingkan dengan kebutuhan keluarga, kata Ayu, sangatlah tidak cukup. Ia mengaku, kebutuhan keluarga misalnya makanan dan minuman diperoleh dari belas kasihan orang.

“Ya, begitulah kondisi saya dan anak-anak,” katanya singkat.

Namun demikian, ibu kelahiran 1987 itu menjalani apa adanya. Paling terpenting, ia harus berputar otak menyicil kebutuhan sekolah kedua anaknya dari penghasilan memulung.

Ayu bertekad, kedua anaknya (Aba dan Achmad) menjadi anak yang mampu mengubah kondisi kehidupan keluarga mereka. Dia optimistis itu karena pekerjaan yang digeluti adalah halal.

“Ya, mereka dua, insyaallah, menjadi orang pertama merubah kehidupan kami ini. Saya, berusaha dengan cara dan kemampuan saya,” pungkas Ayu.

Di akhir perbincangan, Ayu hanya memohon doa dari sesama agar dia dan anak-anaknya tetap sehat. Hal itu yang dia harapkan agar tidak menganggu pekerjaan sebagai pemulung botol.

Penulis: Ian Bala
Editor: Ardy Abba

Ende
Previous ArticlePDIP Adukan KPU Ende ke Bawaslu
Next Article Pemprov dan Gereja Se-Nusra Komitmen Tuntaskan Kemiskinan

Related Posts

Perjuangan Mama Sebina: Bertahan Hidup, Sekolahkan Anak di Tengah Kemiskinan Manggarai Timur

25 Februari 2026

STIPAR Ende Bekali Calon Wisudawan lewat Seminar Akademik

13 Februari 2026

PLN Sigap Tangani Kebakaran Gudang Logistik di Flores Barat

27 Januari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.