Pengunjung di kampung adat Ratenggaro, desa Maliti Bondo Ate, kecamatan Kodi Bangedo, kabupaten Sumba Barat , berpose dengan latar kampung adat (Foto: Ignas/VoxNtt.com)
alterntif text

Tambolaka, Vox NTT-Semilir angin segar yang bertiup dari lepas pantai Ratenggaro menambah keasrian kampung adat Ratenggaro di desa Maliti Bondo Ate, kecamatan Kodi Bangedo, kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur.

Kampung adat yang indah nan eksotis ini terletak di pesisir pantai dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.

Saat wartawan VoxNtt.com mengunjungi tempat ini pada Minggu (4/8/2019), beberapa warga begitu antusias menyambut di halaman kampung mereka.

“Pak, selamat datang di kampung kami”, ujar seorang ibu paruh baya sambil berjabatan tangan.

Seorang bapak datang menghampiri dan bersalaman lalu mempersilahkan para wisatawan untuk membaca aturan pada papan yang terpancang di bagian kiri pintu gerbang.

Seeorang pengunjung berpose di belakang kampung Ratenggaro (Foto: Ignas/VoxNtt.com)

Pada papan itu tertera harga apabila para wisatawan menyewa kuda, sarung dan syal bermotif Sumba untuk berswafoto atau hanya memotret dengan latar belakang kuda, sarung dan rumah adat. Harganya bervariasi, mulai Rp 20000 hingga Rp 50000 per orang.

alterntif text

Pada saat memasuki kawasan perkampungan, VoxNtt.com memilih untuk mengitari perkampungan melalui lorong-lorong yang diapiti oleh rumah adat.

Rumah adat di kampung Ratenggaro memiliki bentuk rumah panggung dengan atap berbentuk menara yang menjulang tinggi mencapai sekitar 15 meter.

Atap rumah terbuat dari bahan dasar jerami dan alang-alang. Selain rumah adat, di sekitar perkampungan terdapat kuburan batu tua. Bentuk kuburan ini menyerupai meja dengan aneka ukuran. Pada dinding kuburan terdapat pahatan dan ukiran.

Hal lain yang turut memberi kesan bagi Ratenggaro sebagai kampung adat yaitu tidak terdengar kebisingan di dalam area perkampungan.

Pada bagian belakang kampung yang hening ini terdapat pantai yang bersih dengair air laut yang bening. Para wisatawan bisa sekaligus menikmati pesona wisata budaya dan wisata pantai yang disempurnakan dengan pasir putih.

Kesunyian kampung Ratenggaro sesekali direnda oleh deburan ombak dari lautan Hindia dan suara anak-anak yang asyik bermain di halaman kampung.

Paket kunjungan ke kampung adat Ratenggaro akan terasa lengkap jika para wisatawan menikmati sensasi menunggang kuda Sandelwood.

Odes, pengunjung asal Manggarai Timur berpose dengan kuda sandelwood berlatar rumah adat Sumba (Foto: Ignas/VoxNtt.com)

Kuda Sandelwood adalah kuda pacu asli Indonesia yang dikembangkan di Pulau Sumba. Para wisatawan diperbolehkan untuk berkeliling kampung sambil menunggang kuda.

Banyak wisatawan yang berswafoto di atas kuda sandelwood dengan balutan sarung dan syal motif Sumba. Ada beberapa pilihan untuk latar foto. Pengunjung dapat memilih rumah adat yang berjejer di perkampungan, pasir putih dan lautan atau kuburan batu tua.

Para wisatawan dapat menyewa jasa travel atau membawa kendaraan pribadi apabila ingin berkunjung ke Ratenggaro. Kondisi jalanan cukup baik sampai di Kampung Ratenggaro sehingga bisa dilintasi dengan kendaraan roda dua.

Jarak tempuh sekitar 34 km dengan waktu tempuh 1 jam hingga 1,5 jam dari kota Tambolaka, ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya.

Para pengunjung dapat membeli souvenir khas Sumba di kota Tambolaka. Sejauh ini, souvenir yang ada di Kampung Ratenggaro hanya disewakan kepada pengunjung yang ingin berfoto untuk mengabadikan momen.

Seorang pengunjung dari Manggarai Timur bernama Odes Amin merasa sangat berbahagia bisa bertamasya ke Ratenggaro.

“Pokoknya indah sekali, kak. Di sini saya bisa menikmati pesona wisata yang berbeda dalam satu kawasan. Ada pasir putih beserta laut yang bening,” kata Odes.

“Saya juga terpesona menyaksikan kuburan batu tua dan rumah adat yang menjulang tinggi serta berjejer rapi. Kalau dulu hanya tahu kuburan batu tua zaman megalitikum dalam mata pelajar IPS, sekarang saya menyaksikan sendiri di sini,” sambung Odes.

Odes yang jauh-jauh datang dari Manggarai Timur mengaku merindukan tempat ini. Jika tidak ada aral melintang ia akan kembali dan mengajak teman-temannya mengunjungi pulau Sumba.

“Pokoknya saya suka tempat ini. Indah, asri dan alami. Ratenggaro seperti secuil surga yang bisa disaksikan”, puji Odes.

Penulis: Ignas Sara

Editor: Irvan K