Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»(Puisi) Ledalero Suatu Hari
Sastra

(Puisi) Ledalero Suatu Hari

By Redaksi11 Agustus 20192 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Kompas.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*)Puisi-puisi Edy Soge Ef Er

Pilihan

Di halaman istana negara dua bocah bermain layang-layang

Keduanya memiliki layang-layang yang berbeda warna

Yang satu merah dan yang satu putih

Angin senja melambai bagai menderu

Layang-layang mereka dibuai ke sana ke mari di cakrawala

“Indonesia tak punya arah. Indonesia senja kala.”

Mereka berteriak gembira sambil berlari

Tiba-tiba layang-layang mereka tersangkut di tiang bendera yang tanpa bendera

Layang-layang merah putih berkibar

Keduanya berhenti, terdiam…..

Seorang tua datang dari beranda

Menemui dua bocah itu dan bertanya

“Merah atau putih layang-layangmu?”

“Aku bukan merah” kata yang seorang

“Aku bukan putih” kata yang lain

“Layang-layangku merah putih!” Keduanya berteriak

“Kita indonesia

Kita bukan merah

Kita bukan putih

Kita merah putih”

Dua bocah itu bernyanyi

Ledalero, 9 April 2019

Ledalero Suatu Hari

Aku ingat Ledalero suatu hari

Ketika terik pecah di bubungan kapel

Aku datang dari rindu

Serimbun awan cakrawala

Berkawan bagai pipit di ladang

Hinggap di bulir-bulir sunyi bukit Sandar Matahari

Bahagia umpama mekar bakung

Tertawa riang ibarat katong semar

Aku ingat Ledalero suatu hari

Saat putik senja gugur di pesisir Nilo

Aku angkat kaki dari rasa tak sudi

Ingin tinggal di belantara senyum kawan-kawan

Sedikit galau bagai layu daun cemara

Ketika kali ini aku berlibur

Ledalero suatu hari

Aku ingin tetap bersama

Ledalero, 4 Mei 2019

Malam Kepergian

(In memoriam Ibu Ina Uran)

di depan kapel agung

aku terima kabar duka

sesak di dada gemuruh di pelupuk mata

malam ini malam kepergian

ibu pun pulang

kamis putih hari pisah

guru dari murid-murid

ibu dari anak-anak, suami, keluarga, dan sahabat

cawan terakhir isyarat kematian

aku kenang hari libur sempat bertemu ibu

di dapur segala cerita

secangkir kopi sepiring nasi

diselingi kisah perkemahan

nyanyian pramuka irama kemenangan

jumpa kita di bandara

ketika ibu bersama anak hendak ke Jakarta

lalu kini tak kembali

begitu cepat cawan terakhir Tuhan beri

ibu pun pergi di malam perjamuan terakhir

di depan kapel agung

aku terima kabar duka

maka kuketuk rumah Tuhan dengan doa

“Bapa sumber kehidupan, terimalah hamba-Mu

dalam perjampuan abadi di surga. Amin.”

Ledalero, 18 April 2019

*Edy Soge Ef Er, penghuni wisma St. Arnoldus Nitapleat.

Edy Soge Ef Er
Previous Article(Puisi) Yang Tak Berkesudahan
Next Article Sampah Tumpuk Depan Kantor Bupati Manggarai, Warga: Kita Belum Sadar

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.