Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»NTT NEWS»Fraksi Demokrat Kembali Ingatkan Pemprov NTT Hindari Pola ‘Sinterklas’
NTT NEWS

Fraksi Demokrat Kembali Ingatkan Pemprov NTT Hindari Pola ‘Sinterklas’

By Redaksi22 Agustus 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Juru bicara Fraksi Demokrat DPRD NTT, Reni Marlina Un, saat membacakan pendapat akhir Fraksi Partai Demokrat atas rancangan perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun anggaran 2019 di ruangan Kelimutu, lantai 2 Kantor DPRD NTT, Selasa 20 Agustus 2019 (Foto: Tarsi Salmon/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT – Fraksi Partai Demokrat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali mengingatkan pemerintah agar menghindari pola ‘sinterklas’.

Sorotan itu disampaikan Fraksi Demokrat dalam pendapat akhir fraksinya atas rancangan perubahan anggaran pendapatan dan belanja daerah (RAPBD) NTT tahun anggaran 2019 yang dibacakan Juru bicara fraksi, Reni Marlina Un di ruangan Kelimutu, lantai 2 Kantor DPRD NTT, Selasa (20/08/2019).

Ia mengatakan dengan mudah menjanjikan anggaran dalam sejumlah kunjungan maupun kegiatan, seperti rencana alokasi anggaran Rp 100 miliar dalam setiap menyelesaikan masalah perbatasan.

Menurut Reni, bagi Gubernur maupun Wakil Gubernur uang Rp 100 miliar itu tak seberapa bahkan beranggapan ‘hanya orang yang picik dan pesimis bodoh serta ethos kerja yang rendah yang mengatakan uang ratusan miliar sebagai angka yang fantastis’.

“Ketahuilah bapak-bapak bahwa ratusan miliar rupiah itu mungkin saja tidak ada apa-apanya untuk bapak-bapak, tapi sebaliknya satu rupiah itu sangat berarti untuk sesama saudara kita yang menderita stunting dan gizi buruk, anak-anak yang tidak memiliki seragam untuk bersekolah, yang sulit memenuhi kebutuhan sandang dan papannya,” katanya.

“Dan lebih dari itu, harus kita pahami bersama bahwa uang itu adalah ‘uang rakyat’ bukan uang pribadi,” tambah Reni.

Fraksi Demokrat juga kata dia, ingin mendorong untuk makin taat pada mekanisme perencanaan dan penganggaran yang benar dalam koridor tata kelola pemerintahan dan keuangan daerah yang baik, bukan mekanisme tata kelola yang sembrono.

Prihatin dengan Kematangan Emosional Pimpinan Daerah

Tak hanya itu, Fraksi Partai Demokrat juga tegas Reni, sangat prihatin dengan kematangan emosional pimpinan daerah NTT.

“Yang menanggapi pandangan kami itu terkait proses mutasi dengan mengatakan kritik kami terhadap mekanisme penataan birokrasi ini karena kroni-kroni kami tidak diakomodir,” ujarnya.

Ia mengatakan, Fraksi Partai Demokrat patut menilai bahwa pemerintah terkesan anti kritik dalam cara menanggapi pandangan politik fraksi partai besutan Susilo Bambang Yudoyono itu.

“Perlu kami tegaskan bahwa Fraksi Partai Demokrat tidak pernah sedikitpun memiliki kepentingan dalam proses mutasi yang dilakukan,” tandasnya.

“Agak kenak-kanakan cara pandangan seperti ini ketika fungsi kontrol dan sikap kritis yang diberikan, seolah-olah karena kepentingan kami tidak terakomodir dan bahkan sikap kami dianggap sebagai retorika baru. Yang baru adalah masa jabatan Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubenur dalam pemerintahan ini,” tegas Reni.

Namun kata dia, sikap kritis Fraksi Partai Demokrat sudah berlangsung pada periode-periode sebelumnya.

“Fraksi Partai Demokrat perlu menegaskan bahwa sikap kami terhadap penataan birokrasi yang berpotensi menabrak aturan maupun pengingkaran terhadap hak-hak Aparatur Sipil Negara ini semata-mata karena kami ingin agar pemimpin yang hebat ini tidak terantuk pada ‘batu’ yang sama dalam tata kelolah birokrasi pemerintahan yang tidak professional, cenderung balas dendam dan memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan diri dan kroni-kroninya,” ungkapnya.

Reni menegaskan, salah satu fungsi yang dipercayakan kepada lembaga DPRD adalah fungsi kontrol.

“Karena itu bila kami cukup gencar mengkritisi, mempertanyakan bahkan cenderung meragukan dan kadang pesismis apapun kebijakan yang akan dilakukan hanya agar seluruh kebijakan bagi publik berkualitas dan  berkeadilan,” tutup Reni.

Penulis: Tarsi Salmon
Editor: Ardy Abba

DPRD NTT Fraksi Demokrat Kota Kupang
Previous ArticleCerita Mario Iroth, Petualang 56 Negara saat Berkunjung ke Ende
Next Article BNNK Belu Siap Perangi Narkoba di Perbatasan

Related Posts

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Pemprov NTT Harus Lobi Pemerintah Pusat soal Nasib 9.000 PPPK

5 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.