Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Literasi Bukan Sekadar Membaca dan Menulis
Sastra

Literasi Bukan Sekadar Membaca dan Menulis

By Redaksi25 November 20193 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Para pegiat literasi NTT pose bersama saat pembukaan kegiatan Kemah Literasi NTT tahun 2019, di Kelurahan Oenesu, Kabupaten Kupang, Senin, 25 November 2019 (Foto: Tarsi Salmon/Vox NTT)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT – Ketua Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bintang Flobamora Kupang Polikarpus Do mengatakan, literasi bukan soal membaca dan menulis.

Literasi juga bukan sekadar soal keterampilan, tetapi lebih dari itu yakni tentang cara berpikir.

“Literasi tentang cara berpikir. Saya mengelilingi Provinsi Nusa Tenggara Timur, dari kampung ke kampung. Program kami adalah safari literasi, pelatihan menulis, menceritakan dongeng, mendirikan taman baca baru, pustaka- pustaka baru, mendonasikan buku lewat program bukan kemendikbud, seminar, dan pelatihan semua kita laksanakan,” ungkap Polikarpus saat pembukaan kegiatan Kemah Literasi NTT tahun 2019 di Bumi Perkemahan SPNF SKB, Kelurahan Oenesu, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Senin (25/11/2019).

Menurutnya, di balik pengembangan literasi ada hal yang urgensi yakni cara berpikir.

Dikatakan, literasi cara berpikir mempengaruhi kerja, cara bersikap, dan cara pola tingkah laku.

“Ini semua menjadi kekuatan kita,” tutur Polikarpus.

Program literasi ini lanjutnya, adalah kolaborasi dengan Pemerintah Pusat (Kemenhub) dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Ia menegaskan, literasi bukan urusan dinas perpustakaan dan dinas pendidikan saja. Tetapi literasi adalah gerakan bersama. Untuk itu, semua urusan literasi harus menjadi tanggung jawab bersama.

Polikarpus menambahakn, literasi adalah jantung kehidupan. Jika jantung sudah tidak jalan, maka kehidupan bakal mati.

“Bicara membaca itu bukan hobi. Membaca adalah kebutuhan, wajib hukumnya semua generasi bangsa harus membaca. Tanpa membaca kita tidak akan mengenal dunia ini,” tegasnya.

Polikarpus mengatakan, banyak bahasa-bahasa para pendiri bangsa yang mendorong agar generasi bangsa menjadi generasi penerus yang memiliki kemampuan dan kecakapan literasi.

“Kita harus punya karakter yang mumpuni agar bangsa ini memiliki kekuatan besar bagi generasi kita,” harapnya.

Oleh karena itu lanjut dia, berliterasi adalah bertransformasi.

Bertransformasi semua aspek kehidupan. Pola kerja, pola pikir, dan pola laku bisa diolah melalui literasi.

“Olah cara berpikir kita, olah cara kerja kita, olah cara tindak kita, olah cara sikap kita, dan jangan lupa olahraga,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua panitia Kemah Literasi NTT tahun 2019 Lamber L. Hurek mengatakan, masyarakat sekarang ini memandang literasi merupakan sebuah keniscayaan.

“Karena literasi menjadi prasarat bagi kecakapan hidup di abad ke-21,” katanya dalam laporan panitia.

Maka literasi kata dia, harus diintegrasikan dengan seluruh praktik pendidikan.

“Harus mulai dari kita sendiri dan masyarakat,” ucapnya.

Ia menegaskan, tahun 2015 ada enam kecakapan literasi. Keenamnya yakni, pertama, literasi baca tulis. Kedua, literasi nomerasi. Ketiga, literasi sains. Keempat, literasi digital. Kelima, literasi finansial. Keenam, literasi budaya dan kewarganegaraan.

“Yang harus dikuasai oleh masyarakat di abad 21 ini,” katanya.

Oleh karena itu kata dia, keenam kecakapan literasi tersebut harus dikampanyekan.

“Namun, literasi dasar tersebut tidak berarti bila tidak terpentingkan menjadi kemampuan berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif, komunikatif, sampai terbentuk menjadi karakter modal hidup untuk bersaing dengan bangsa lain di era yang terbuka ini,” ungkapnya.

Untuk diketahui, kegiatan ini berlangsung selama 3 hari terhitung sejak tanggal 25 sampai 27 November 2019.

Penulis: Tarsi Salmon
Editor: Ardy Abba

Kota Kupang
Previous ArticleFEMR Dorong Pemdes Watu Lanur Kembangkan Pasar Modern
Next Article Dukung GKH, PKBS GMIT Luncurkan Gerakan Satu Bapak Satu Pohon

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Penyidik Polresta Kupang Dinilai Tak Berani Periksa Tim SPPG Polda NTT

3 Maret 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.