Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Dari dalam Air untuk Pemimpinku
Sastra

Dari dalam Air untuk Pemimpinku

By Redaksi2 Februari 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Media Indonesia)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*)Antologi Puisi Ischo Frendino

Kebasahan

Di pelataran nestapa insan

halilintar dan guntur berkejar-kejaran

angin dan awan berkeliaran

rintik pun ikutan beterbangan

hingga akhirnya hujan,

saatnya kemarau bepergian

Januari terperangkap kebasahan

dan Jakarta kebanjiran.

Dari timur pada musim yang seumuran

kulagukan simposium keprihatinan

dalam biduan timur anak-anak pinggiran.

Ischo Frendino, Jakarta 03/01/20

Haruskah Aku Bertamu Di Rumahmu?

Pada gemuruh yang meradang

Pada teriakmu yang mengharu biru

Haruskah aku bertamu di rumahmu?

Pada butiran air mata langit yang menghujam

Pada gelisahmu yang tiada henti

Haruskah aku bertamu di rumahmu?

Pada hulu yang geram

Pada cemas yang memeluk mata kakimu

Haruskah aku bertamu di rumahmu?

Pada sungai yang menghantui tiang penyangga rumah

Pada takut yang membasahi setengah tubuhmu

Haruskah aku bertamu di rumahmu?

Pada tanah kering yang berubah menjadi lautan

Pada tangis yang membelenggu milik-milikmu

Haruskah aku bertamu di rumahmu?

Pada detakan jam dinding yang berdentang

Pada utopia di harap fajarmu

Haruskah aku bertamu di rumahmu?

Pada nestapa  sang pemilik nafas

Pada ego di kediaman hatimu

Haruskah aku bertamu di rumahmu?

…sedang aku hanyalah SAMPAH..

Ischo Frendino, Jakarta 05/01/20

Dari Dalam Air untuk Pemimpinku

Kepada siapa harapku menetap

kepada siapa inginku ditatap

masihkah kau terlelap

sedang tanganku  merayap

Wahai kaum elit negeriku

Di mana orasi manis yang kau titipkan

Di mana wejangan romantis yang kau kumandangkan

Sedang hulu dan muara meneriakiku

Masihkah kau berfantasi

Masihkah kau tenggelam dalam idealismemu

Masihkah kau bercerita dengan teman-teman berdasihmu

sedang tanganku harus merakit reruntuhan ini

Apa gunanya memberi janji, merealisasikan

Apa gunanya berdandan rapi, menjanjikan

Apa gunanya berwibawa, merahasiakan

Sedang ragaku terbawa hanyut.

Ischo Frendino, JKT 07/01/20.

Percakapan Hari Itu

Botol Plastik: “Aku korban ketakpedulian manusia, terdampar di sana sini dengan predikat tak berguna.”

Pemimpin Kota: “Aku telah membangun atap untukmu, membutuhkan dan mengolah dirimu agar lepas dari frasa tak berguna itu.”

Botol Plastik : “Lalu kenapa aku masih di pinggiran trotoar kota ini, saluran air yang jorok,  bantalan sungai, yang penuh dengan isak tangis kaumku.

Mengapa tak kau naikkan saja harga rupiah diriku, agar seimbang dengan keringat yang terbesit dari tubuh para pencari rupiah yang kau sebut pemulung itu, dan aku menjadi penting?”

Pemimpin Kota: “Siapa yang kau maksud pemulung itu? Aku tak pernah melihatnya.”

Botol Plastik: “Tanyakan saja kepada manusia-manusia pemilik kerakusan dan ketidakpedulian yang selalu menyumbat hati dan budinya dengan ego yang bengis.

Pemimpin Kota: ” Kepada rakyatku? Aku telah menyuarakan kepada mereka ideologi-ideologi ku, di sana sini aku selalu melagukan itu.”

Botol Plastik: “Apakah ideologimu telah merakyat? Pergilah kepada mereka, sebelum dasi dan kemeja indahmu dikotori oleh lumpur kota ini. Tanyakan kepada mereka, di mana hati dan budinya saat ini.”

Ischo Frendino, Jakarta, 11/01/20

Untukmu Kaum Berpulang

Kado itu duka

tamparan realita, luka

tak kenal lupa

dari kami sesama anak Bapa

 

suaramu dibungkam

dalam lembaran awal yang kusam, buram

masam, raga yang mati lebam

dalam ideologi pemimpin yang karam

 

Mari bersaksi

pada surga rumpuni

di nestapa hati agar diampuni

tuk yang masih beraksi

 

Di tepi makam kulagukan  eulogi ratapan

sederet mohon di atap abadi kediaman

menepis api dalam nestapa baka ketenangan

dan bertumpu dalam rima akhir sajak ini, amin.

 

Ischo Frendino, Jakarta 12/01/2020

Tentang  Penulis 

Saya Ischo Frendino, asal dari Larantuka, Flores Timur, NTT. Hobi saya membaca dan menulis. Tertarik dengan tema-tema yang berkaitan dengan Filsafat, sastra dan politik.

Sering menulis puisi di Kompasiana. Saat ini  sedang berkuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

Alamat Media Sosial :

Facebook : https://m.facebook.com/  profile.php?ref=bookmarks

Instagram :  https://www.instagram.com/isco_frendino.0204/saved/

Gmail : [email protected].

Ischo Frendino
Previous ArticlePesparani Nasional di Kupang Bakal Dihadiri 12 Ribu Orang
Next Article Unika Ruteng Dinobatkan Menjadi Kampus Swasta Terbaik di NTT

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.