Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Sosok Gubernur NTT El Tari: Memberikan Uang Sisa Perjalanan Dinas ke Panti Asuhan
Feature

Sosok Gubernur NTT El Tari: Memberikan Uang Sisa Perjalanan Dinas ke Panti Asuhan

By Redaksi22 Februari 20204 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Gubernur NTT, El Tari
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Kupang, Vox NTT-Peran seorang pemimpin pemerintahan dalam mensejahterakan rakyatnya, sudah terbukti sepanjang zaman. Dari zaman kerajaan kuno sampai dengan era demokrasi modern. 

Propinsi NTT juga memiliki pemimpin-pemimpin yang patut dicatat dalam sejarah karena karismatik dan kiparahnya dalam mengeluarkan propinsi ini dari jeratan kemiskinan dan persoalan-persoalan kemanusiaan.

Tercatat hingga usianya yang ke-61, NTT telah melahirkan 8 pemimpin mulai dari W.J. Lalamentik hingga Viktor Bungtilu Laiskodat.

Dari beberapa pemimpin yang pernah menggoreskan sejarah di NTT, adalah Gubernur El Tari, periode 1966 hingga 29 April 1978.

Dia adalah sosok yang kerap disandingkan dengan presiden Amerika Serika, John F, Kennedy.

Ia tampak unik mulai dari gaya berbicaranya sampai pada kekuatannya dalam mempengaruhi dan menggerakan orang-orang menuju visi-misi kepemimpinannya.

Dalam skala NTT, El Tari adalah sosok yang memiliki daya tarik dan membuat dirinya disegani karena kewibawaanya.

“Kewibawaannya bukan karena tanda pangkat maupun atribut jabatan, melainkan karena kelebihan-kelebihannya sebagai seorang bapak, dan atasan yang mengayomi, disiplin, sederhana, bijaksana, tegas dan pro rakyat,” ungkap Frans Skera, tokoh senior birokrasi NTT dalam bukunya “Ciri Khas dan Warisan Pemimpin Pemerintahan NTT:Dari El Tari ke Lebu Raya” .

Menurut pengalaman Skera yang sudah menjadi birokrat semasa El Tari, sosok ini meski berlatar belakang militer tetapi menjadi pemimpin pamong praja yang memiliki dua sikap dasar yakni konsekuen dan konsisten dalam menjalankan visi-misi maupun nilai-nilai Pancasila.

“Yang luar biasa dalam kepribadian El Tari adalah dia tidak punya kompleks sektarian dan kompleks kesukuan, pada saat Kupang penuh dengan sentimen keagamaan dan kesukuan,” tulis Frans Skera.

Selain itu, sosok El Tari juga dikenal dengan pribadi yang bersahaja dan motivatif karena mengayomi bawahannya.

Dia mampu memberikan perlindungan dan rasa aman di kalangan para pegawai dengan menciptakan kondisi yang kondusif sehingga pegawainya bisa bekerja dengan tenang, senang serta bertanggung jawab.

Demikian juga, kemana pun dia berkunjung untuk mengajak rakyat agar menanam dan mencintai lingkungan, dia diterima dengan hangat dan dieluk-elukan karena pendekatan kebapakannya yang menonjol.

El Tari, lanjut Frans, adalah pemimpin yang mengetahui peta masalah rakyat dan daerahnya. Slogan pemerintahannya, “Tanam, Tanam, sekali lagi Tanam!“.

“Rakyat yang sebagaian besar petani, masih hidup dalam kemiskinan dan sebagian besar wilayah NTT tandus dan kering sehingga air merupakan masalah utama,” tulis Frans.

Dari 5 kebijakannya, El Tari sungguh memahami peta masalah NTT sebagai berikut:

Pertama, usaha untuk memperoleh kebahagiaan dan kecukupan masyarakat.

Kedua, daerah tandus perlu disuburkan dan faktor air merupakan kunci keberhasilan

Ketiga, isolasi dan ketertutupan harus dibuka demi pelayanan publik yang baik

Keempat, hasil rakyat yang terpencar-pencar perlu dikumpulkan dan diatur pemasarannya

Kelima, pendidikan merupakan kunci kemajuan.

Sisihkan Uang Perjalanan Dinas ke Panti Asuhan

Akhir Februari 1974 menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi Frans Skera.

Kala itu, ia diperintahkan menjadi ajudan Gubernur dalam kunjungan ke Timor Portugis pada masa pemerintahan Gubernur Alves Aldeia.

“Sebenarnya tugas utama saya adalah menjadi penterjemah pada perundingan kedua kepala pemerintahan dan hal tersebut tak pernah diberitahu kepada saya sebelum keberangkatan” kisah Frans.

Diceritakan Frans, salah satu urusan yang menjadi tanggung jawabnya ialah memegang uang perjalanan dinas Gubernur.

Namun selama di Dili, uang perjalanan dinas tersebut tak digunakan sehingga Frans harus membawanya kembali ke Kupang, ibu kota Propinsi NTT.

Setibanya di Kupang, Frans menghadap Gubernur hendak memberikan sejumlah uang perjalanan tersebut. Tanggapan El Tari ternyata cukup mengesankan.

“Frans bawa uang itu dan berikan kepada pimpinan panti asuhan di samping gereja Ebenhaeser Oeba. Kau tahu tempatnya?” demikian pinta Gubernur kelahiran Sabu, 18 April 1926 itu.

Mendengar perintah itu, Frans pun bergegas ke panti dimaksud dan menyerahkan sejumlah uang perjalanan itu kepada kepala Panti.

“Uang tersebut dalam amplop tertutup, saya bawa dan berikan kepada pimpinan panti asuhan. Dia terkejut dan senang apalagi mendengar uang dari pak El Tari,” tulis Frans.

Tindakan itu menjadi pengalaman bermakna tersendiri bagi Frans. Apalagi, kala itu dirinya masih menjadi pegawai yang baru dua bulan bekerja. Ia bekerja di kantor Gubernur NTT tepatnya pada tanggal 1 Januari 1973.

“Betapa saya melihat seorang pemimpin yang begitu peduli pada anak-anak yatim piatu. Apa yang menjadi haknya dengan tulus ikhlas diberikan kepada mereka yang lebih membutuhkannya,” ungkap Frans.

Ya, El Tari kala itu memang sedang mengajarkan bahwa cara terbaik untuk mengatakan kepedulian kepada rakyat adalah dengan melakukan.

Ia juga mengajarkan bagaimana seorang pemimpin harus punya kepekaan kepada mereka yang terpinggirkan. (VoN)

El Tari Gubernur NTT Kota Kupang
Previous Article11 Penghargaan atas Prestasi Pemda Manggarai
Next Article Ansy Lema Pertanyakan Izin Investasi PT SKL dan PT KWE di TN Komodo

Related Posts

Gubernur NTT Buka Diskusi Nasib 9.000 PPPK di Ruang Publik

5 Maret 2026

Belanja Pegawai NTT Tembus 40 Persen, Gubernur dan Kepala Daerah Siap Lobi Tiga Kementerian

3 Maret 2026

Penyidik Polresta Kupang Dinilai Tak Berani Periksa Tim SPPG Polda NTT

3 Maret 2026
Terkini

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Memburu “Hantu”, Memukul Manusia, dan Psikologi Sosial

6 Maret 2026

Jaringan Masyarakat Sipil Audiensi dengan Komisi V DPRD NTT Bahas Kasus Perdagangan Orang

5 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.