Salah satu titik kerusakan di hutan Bangga Rangga yang sudah digenangi air. Foto diambil, Sabtu, 04 Januari 2020 (Foto: L. Jehatu)
alterntif text

Borong, Vox NTT- Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur (Matim) berencana akan menggelar festival lembah kopi Colol pada 6-11 Juli 2020 mendatang.

Ajang ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi petani kopi di wilayah Kecamatan Poco Ranaka Timur itu. Ada banyak pihak pun menaruh asa di balik festival tersebut.

Dosen Unika St. Paulus Ruteng, Felisitas Ndeot menilai festival lembah kopi Colol merupakan awal yang baik untuk memperkenalkan Colol sebagai salah satu desa wisata.

Baca Juga: Festival Lembah Kopi Diharapkan Bisa Keluarkan Petani Colol dari Praktik Ijon

Menurut dia, saat ini tentu saja harus mempersiapkan banyak hal dalam menyambut ajang tersebut. Misalnya, persiapan home stay dan berbagai produk lainnya yang akan dipertontonkan dalam festival nanti.

Hal yang paling mendesak, lanjut Felisitas, ialah pembenahan jalan menuju tempat festival berlangsung.

“Keadaan jalan raya Bea Laing-Mukun-Simpang Colol-Elar yang rusak parah tidak akan berdampak positif, jika jalan itu masih rusak parah. Sangat pesimis sekali,” ujar Felisitas kepada VoxNtt.com, Rabu (26/02/2020).

Ia pun meminta agar jalan menuju tempat festival harus diperhatikan serius oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Pemkab Matim dan DPRD.

Menurut dia, semakin bagus jalan raya menuju tempat festival, maka semakin ramai pula pengunjung nantinya.

“Sehingga ke depannya semakin banyak orang yang berkunjung ke Desa Colol sebagai salah satu desa wisata yang menjanjikan,” sambung dia.

Senada dengan Felisitas, tokoh muda asal Colol  Yohanes Toberato juga mengungkapkan hal serupa.

Selain sebagai sarana promosi desa wisata, festival lembah kopi Colol juga hendaknya sebagai momentum untuk memperhatikan infrastruktur jalan.

“Saya meminta DPRD provinsi sebagai representasi suara masyarakat agar tidaklah mati suri dengan berbagai persoalan pembangunan infrastruktur terlebih khusus jalan,” ujar Yohanes.

Ia menyebut, salah satu contohnya ialah kondisi jalan milik Pemprov NTT Bealaing-Mukun-Mbazang yang hingga kini rusak berat di beberapa titik.

Baca Juga: Hujan Lebat, Jalan Provinsi NTT di Matim bak Kubangan Kerbau

Sebab itu, ia meminta DRPD Provinsi NTT khususnya dari Dapil Manggarai Raya agar tidak hanya duduk diam dengan kondisi jalan yang rusak parah tersebut.

“Masalah jalan adalah masalah publik yang menurut saya DPRD harus responsif dengan realitas pembangunan ini,” tegas Yohanes.

Yohanes menegaskan, infrastruktur jalan menjadi sentral utama bagi masyarakat untuk menjual komoditi ke kota.

Jalan yang rusak, kata dia, seharusnya membuat anggota DPRD malu. Sebab secara langsung mempertontonkan buruknya sistem pengawasan DPRD terhadap kinerja pemerintah.

“Saya dengan tegas meminta kepada DPRD untuk menaggapi hal ini entah sebelum festival atau sesudah festival kopi,” tandas Yohanes.

“Mungkin tidak bisa memperbaiki seluruhnya, tapi ada beberapa titik yakni menurut saya tidak layak untuk dilalui yang notabene adalah jalur provinsi. Bahkan ada titik tertentu yang menurut saya layak disebut sebagai kolam kubangan kerbau,” sambung dia.

Ia pun pesimistis orang akan semangat datang ke Colol nanti, ketika jalan menuju ke sana rusak parah.

Apalagi diprediksi banyak wisatawan mancanegara yang bakal mengikuti festival. Yohanes pun khawatir mereka enggan ke Colol saat festival lantaran kondisi jalan yang rusak parah.

“Ingat jangan sampai kualitas pembanguan (jalan) Pemprov (NTT) sama dengan kualitas pembangunan jalan Matim yang sangat memalukan,” tegasnya.

“Jadilah titipan yang memiliki bekas positif untuk masyarakat, bukan tak berbekas sama sekali artinya pergi sama dengan pulang,” kata Yohanes.

Ia juga meminta Bupati Matim Agas Andreas agar segera memperbaiki jalan dari Cabang Waling menuju  Colol. Sebab jalan yang baru diperbaiki tahun 2017  lalu itu sudah rusak di beberapa titik.

KR: L. Jehatu
Editor: Ardy Abba