Yohanes Toberoto, tokoh muda asal Colol (Foto: Dok. Pribadi)
alterntif text

Borong, Vox NTT- Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur (Matim) berencana akan menggelar festival lembah kopi Colol pada 6-11 Juli 2020 mendatang.

Ajang ini tentu saja menjadi kabar gembira bagi petani kopi di wilayah Kecamatan Poco Ranaka Timur itu.

Yohanes Toberoto, salah satu tokoh muda asal Biting, Desa Uluwae, Kecamatan Poco Ranaka Timur ikut senang dengan kabar adanya rencana festival lembah kopi Colol.

Melalui festival ini, ia mengharapkan agar bisa menjadi solusi terbaik agar para petani Colol perlahan keluar dari cengkeraman praktik ijon.

“Jangan hanya kita yang menikmati festival, tetapi kesejahteraan petani kopi Colol juga perlu diperhatikan,” ujar Yohanes kepada VoxNtt.com, Selasa (25/02/2020).

Yohanes menambahkan, salah satu masalah terbesar bagi petani di Colol adalah tidak menentunya harga dan permintaan kopi.

“Selama ini harga kopi sungguh memprihatinkan karena tidak mencapai keinginan masyarakat atau boleh dibilang rendah,” tandasnya.

Baca Juga: Festival Lembah Kopi Colol, Bonjer: Harus Berdampak Ekonomis Bagi Masyarakat

Tak hanya itu, sebagai anak petani kopi ia juga meminta Pemerintah Kabupaten Matim melalui Dinas Pertanian agar sesering mungkin memberikan sosialisasi soal kualitas produksi kopi. Kemudian dari sosialisasi tersebut juga diharapkan kuantitas kopi milik petani dapat ditingkatkan.

“Misalnya memberikan pemahaman soal pembentukan kelompok tani, sehingga fasilitas pertanian pun dapat digunakan langsung oleh masyarakat,” katanya.

Selanjutnya, ia menegaskan kopi memang salah satu komoditas yang terkenal hingga ke mata internasional. Kendati demikian, tanah di mana tumbuh komoditi tersebut sedang bersengketa.

“Saya rasa Pemkab matim tahu problem ini. Jadi pesan singkat saya untuk Bupati Matim Agas Andreas, Bos tolong dong Perbup-nya diperhatikan?” tegasnya.

Menurut dia, mencintai kopi tidak hanya menyasar ke pohonnya saja. Namun jauh itu, yakni masyarakat petani kopi seharusnya ikut dicintai, sebab mereka sudah bersusah payah memelihara kopi hingga bisa terkenal ke kancah internasional.

Manfaat Ekonomis

Yohanes mengaku adalah anak seorang petani kopi di Colol. Colol sendiri terbagi dalam beberapa wilayah administrasi desa yakni Desa Compang Colol, Ulu Wae, dan Wejang Mali.

Menurut dia, bagi masyarakat Colol, kopi merupakan pohon kehidupan. Sebab, tanaman yang satu ini tak hanya membuat masyarakat terkenal, juga telah memberikan dampak positif secara ekonomis bagi kehidupan petani.

“Karena kopi membawa banyak berkah bagi masyarakat Colol. Selain kopi dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kopi juga dijual untuk membiayai sekolah anak-anak dari para petani Colol,” tutur Yohanes.

Karena sebagai tanaman berkah, maka sebagian lahan milik warga pun ditanami tanaman kopi. Jenis kopi yang ditanam dan dihasilkan pun beragam.

“Saya adalah salah satu anak petani kopi dari Biting, Desa Uluwae. Sebagai seorang anak petani, saya betul merasakan betapa kopi memiliki nilai yang cukup berarti bagi kami,” aku Yohanes.

“Semisalnya sampai saya selesai pendidikan S1 itu karena berkat adanya kopi. Berkat kopi mimpi saya menamatkan pendidikan tercapai dengan sukses,” sambung dia.

Sebab itu, setelah mendengar akan diadakan festival lembah kopi Colol, Yohanes pun sontak senang dan bahagia.

Sebab di mata Yohanes, ada begitu banyak manfaat dari festival tersebut. Pertama, kopi akan dinikmati secara langsung oleh para pecinta kopi, mulai dari proses pengelolaan sampai pada suguhan minuman khas orang Colol.

Kedua, selain kopi dipublikasikan secara besar-besaran, festival ini juga dapat membawa dampak positif untuk parawisata.

Karena selain kopi, banyak tempat wisata yang perlu diekspos di Colol seperti air terjun, danau, serta wisata kuliner. Dan yang tidak kalah menarik adalah ikan air tawar Colol.

“Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur perhatikan secara serius potensi wisata di area Colol agar difasilitasi. Seperti wisata air terjun, wisata ikan air tawàr dan wisata kuliner,” sambung Yohanes.

“Segala bentuk proses pengelolaan dan manajemen tersebut Dinas Pariwisata yang tahu. Oleh karena itu wajib dinas terkait untuk mengakomodir segala potensi ini, sehingga nilai jual selain kopi juga wisata,” sambung dia.

KR: L. Jehatu
Editor: Ardy Abba