Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Kematian Pasien DBD di RSUD Atambua Diduga Disebabkan Ketiadaan Infus Set
KESEHATAN

Kematian Pasien DBD di RSUD Atambua Diduga Disebabkan Ketiadaan Infus Set

By Redaksi28 Februari 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Pasien Anak Penderita DBD yang sementara dirawat di Ruang Bangsal Anak RSUD Mgr.Gabriel Manek Atamba. (Foto: Marcel Manek/Vox NTT).
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Atambua,Vox NTT-Diduga disebabkan karena ketiadaan infus set di RSUD Mgr. Gabriel Manek, Atambua jadi penyebab terlambatnya penanganan yang tepat terhadap pasien anak penderita Demam Berdarah Dengue(DBD).

Akibatnya, pada Rabu malam (26/02/2020), seorang anak pasien DBD asal Haliwen, Atambua kehilangan nyawa akibat dari penanganan yang tidak efektif.

Informasi ketiadaan infus set dihimpun dari sumber terpercaya VoxNtt.com di RSUD Atambua. Disampaikan, sejak awal Januari 2020, jumlah pasien DBD di RSUD Atambua meningkat drastis.

Menurut sumber informasi tersebut, penanganan pasien DBD anak, dibutuhkan terapi khusus.

Namun sejak sebulan terakhir, alat infus set  bahkan sejumlah obat-obatan tidak ada di RSUD Atambua, sehingga alat infus pump yang ada terpaksa digunakan secara manual, dimana kondisi ini tidak efektif terhadap penanganan pasien DBD anak karena jumlah tetesan yang diatur dari infus pump tidak akurat apabila digunakan secara manual.

Baca Juga: 4 Kabupaten Diserang DBD, Dinskes NTT Turun Tangan

Disampaikannya, ketersediaan infus set dan infus pump dengan merek yang sama sudah tidak ada di RSUD Atambua sejak sebulan terakhir.

“Kemarin-kemarin kami dibantu saat alat itu masih ada. Namum sejak sebulan terakhir, alat infus set dengan merek yang sama dengan infus pump tidak tersedia, sehingga kami berusaha untuk memberikan infus secara manual dimana kondisi ini tidak efektif untuk kita mengatur jumlah tetesan,” jelas sumber itu.

Terpisah, Kepala Bidang Pelayanan RSUD Atambua, Sipri Mali yang ditemui awak media Kamis pagi (27/02/2020) mengakui bahwa pihaknya sempat mengalami kondisi ketiadaan obat dan alat infusset.

Baca Juga: Update DBD di Sikka: 658 Orang Terpapar Virus Dengue

Meski demikian, Sipri menepis bahwa kematian pasien anak DBD diakibatkan karena ketiadaan infus set.

“Ya beberapa minggu terakhir itu memang menjadi kandala kami. Tapi berkaitan dengan infus set be brown itu kemarin sudah tersedia. Jadi, selama ini memang ada kesulitan karena memang kita di sini tidak punya pabrik, sehingga kita ambilnya dari luar Belu,” katanya.

Ditanyai mengenai ketiadaan infus set jadi penyebab meninggalnya pasien anak DBD, Sipri membantah, ketiadaan infus set bukan merupakan penyebab meninggalnya pasien.

Sipri menjelaskan, satu pasien yang meninggal dunia, meninggal karena terlambat rujukan.

“Tidak, tidak. Yang paling utama adalah datang terlambat. Kalau datang terlambat kita tidak bisa buat apa-apa, sebab DBD biasa puncaknya pada hari ketiga dimana ini menjadi fase kritis,” jawab Sipri ketika ditanya terkait meninggalnya pasien anak DBD di RSUD Mgr.Gabriel Manek Atambua.

Menurut Sipri, meski pihaknya tidak memiliki alat infus set, tenaga medis di sana masih menggunakan alternatif lain.

Baca Juga: Jumlah Babi di TTU yang Mati Meningkat Menjadi 912 Ekor

Meski demikian, Sipri mengakui bahwa efektifitas kerja alat infus pump yang dimiliki RSUD Atambua hanya akan berfungsi efektif bilamana digunakan dengan alat infus set yang mereknya sama.

Bantahan senada disampaikan Kepala Bidang Penunjang RSUD Atambua, Heni Nahak.

Heni menjelaskan, memang pihaknya sempat kesulitan  karena stok infus set yang tersedia tidak cocok dengan infus pump yang dimiliki.

Meski mengakui bahwa alat yang ada tidak cocok dan efektif, ia menepis bahwa meninggalnya satu pasien anak DBD merupakan akibat dari ketiadaan alat tersebut.

“Kebetulan sekali, yang kita punya itu tidak cocok dengan infus pump yang sedang dipakai, sehingga kemarin kita agak kesulitan tetapi tadi malam sudah ada,” jelas Heni kepada awak media ketika ditemui di ruang Bangsal anak RSUD Atambua, Kamis pagi (27/02/2020).

Untuk diketahui, saat ini RSUD Atambua sedang merawat sembilan pasien anak DBD.

Dari kesembilan pasien yang dirawat, pihak RSUD berharap kondisi pasien semakin baik pasca ditangani secara intensif oleh tenaga medis di RSUD Atambua.
Baca Juga: Kemolekan Tubuh Putri Indonesia di Pariwisata Premium Labuan Bajo

Penulis: Marcel Manek

Editor: Boni J

 

Belu RSUD Atambua
Previous ArticleJumlah Babi di TTU yang Mati Meningkat Menjadi 912 Ekor
Next Article Kacau-Balau Haru-Biru dan Pleidoi Perihal Pernikahan Mario Klau

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026

NTT Dapat 7 Dokter Spesialis di Batch Ketiga, Pemprov Siapkan Skema Penempatan dan Dukungan Pengabdian

27 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.