Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Esok, Pelaku Perang Suku di Adonara Dipanggil Polisi
HEADLINE

Esok, Pelaku Perang Suku di Adonara Dipanggil Polisi

By Redaksi8 Maret 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi (Foto: Ist)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

VoxNtt.com-Pihak kepolisian Resor (Polres) Flores Timur terus berupaya menangani kasus perang antar-suku di Adonara yang menewaskan 6 orang.

Kedua suku yang sedang bertikai tersebut yakni Kwaelaga dan suku Lama Tokan, Desa Sandosi.

Polisi hingga kini sudah mengantongi nama-nama yang terlibat dalam kasus pembantaian di Desa Sandosi, Kecamatan Witihama.

Hal itu diungkapkan Kepala Kepolisian Resor Flores Timur (Flotim), Ajun Komisaris Besar Dennys Abraham yang masih berada di Adonara, Minggu (8/3/2020).

”Sesuai kesepakatan kepala desa, tokoh adat, dan tokoh masyarakat dari kedua pihak, seusai hari nebo atau tiga hari setelah pemakaman, proses hukum akan dilakukan. Senin, 9 Maret, mereka mulai dipanggil untuk dimintai keterangan,” kata Kapolres Dennys seperti dilansir Kompas.id, Minggu (8/2/2020).

Menurut Kapolres, kedua pihak yang sedang bertikai tersebut sudah ingin menyelesaikan sengketa tanah tersebut secara damai. Kedua pihak juga bersepakat untuk tidak melanjutkan perang.

Sebelumnya, Pemerintah Flores Timur melalui Pemerintah Kecamatan Witihama dan Polsek Adonara sudah beberapa kali memfasilitasi pertemuan antara kedua suku untuk dicarikan jalan keluar, namun belum berhasil.

Perselisihan mencapai titik klimaks saat suku Kwaelaga menanam bibit mangga dan kelapa di lokasi yang disengketakan pada Kamis (5/3/2020) lalu.

Seusai ditanam, anggota suku Lama Tokan datang dan mendesak mencabut kembali bibit yang telah ditanam di lokasi sengketa itu.

Namun, pihak Kwaelaga menolak mencabut sendiri. Mereka mengizinkan suku Lama Tokan mencabut, tetapi ditolak Lama Tokan.

Kedua pihak lalu saling memaksa mencabut anakan itu. Namun, satu pun tidak berani mencabut. Sesuai kepercayaan masyarakat setempat, siapa yang mencabut anakan tanaman itu bakal mendapatkan kutukan sampai tujuh turunan.

”Kedua pihak ngotot dan beradu argumentasi di lahan sengketa. Sementara masing-masing pihak membawa senjata tajam berupa tombak dan parang. Maka terjadi perkelahian, yang menyebabkan kematian itu,” ungkap Kapolres Dennys kepada Kompas.

Ada pun korban yang tewas dalam insiden tersebut yakni Wilem Kewasa Ola (80) dari Desa Tobitika dan Yosep Helu Wua (80). Keduanya berasal dari suku Lamatokan.

Sementara empat orang korban lainya berasal dari suku Kwaelaga yakni Moses Kopong Keda (80), Jak Masan Sanga (70), Yosep Ola Tokan (56) dan Seran Raden (56). (Kompas/VoN)

Adonara Flores Timur Kapolres Flotim Perang antar-suku
Previous ArticleSoal Keputusan Maju di Pilkada Manggarai, Ossy Gandut: Kenapa Tidak?
Next Article Hipmmabar Pertanyakan Motif BOP-LBF Teken MoU dengan Investor

Related Posts

Penyidik Polresta Kupang Dinilai Tak Berani Periksa Tim SPPG Polda NTT

3 Maret 2026

Polres Manggarai Berhasil Ungkap Kasus Pencurian dan Kekerasan di Langke Rembong

2 Maret 2026

Kejati NTT Usut Dugaan Korupsi Proyek Insinerator Rp 5,6 Miliar, ASN DLHK Diperiksa

26 Februari 2026
Terkini

Pengkab Taekwondo Sumba Barat Daya Dukung Ridwan Angsar Jadi Ketua Pengprov TI NTT

6 Maret 2026

Nama Wakil Ketua DPRD NTT Dicatut dalam Dugaan Penipuan Lowongan Kerja, Ratusan Orang Mengaku Jadi Korban

6 Maret 2026

Golkar NTT Umumkan Pengurus Baru 2025–2030, Targetkan Musda Kabupaten Rampung April

6 Maret 2026

Cerdas Digital Saja Tidak Cukup: Haruskah Psikologi Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah?

6 Maret 2026

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.