Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Figure»Buntut Isolasi 14 Hari, Perangkat Desa di Sikka Ini ‘Alih Profesi’ Jadi Pengrajin Bambu
Figure

Buntut Isolasi 14 Hari, Perangkat Desa di Sikka Ini ‘Alih Profesi’ Jadi Pengrajin Bambu

By Redaksi30 Maret 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Fransiskus Inosensius sedang membuat meja dari bambu (Foto: Dok. Pribadi)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, Vox NTT- Pemberlakuan masa isolasi bagi warga Sikka selama 14 hari memberi dampak tersendiri bagi Fransiskus Inosensius.

Imbauan bekerja dari rumah justru melahirkan kreativitas baru bagi salah satu perangkat Desa Tekaiku, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka itu.

Alih-alih menjadi jenuh, pemuda yang biasa disapa Ino ini malah beralih profesi menjadi pengrajin bambu.

Ino mengubah bambu menjadi aneka kerajinan seperti meja, kursi, tirai, lampu hias dan vas bunga.

Dihubungi VoxNtt.com, Minggu (29/03/2020), Ino yang menjabat Kaur Perencanaan tersebut mengaku beberapa pekerjaannya di desa sudah diselesaikan.

Dua hari belakangan baru disibukkan lagi dengan urusan pembentukan Desa Siaga Covid-19.

Semua produk kerajinan bambu tersebut dikerjakannya di rumahnya di Kampung Wolomude. Dia hanya keluar ke kebun untuk mengambil bambu.

Pemuda 29 tahun tersebut mengaku beberapa bulan terakhir menekuni kerajinan bambu.

“Ini karena waktu luang juga banyak jadi dari pada tidak digunakan saya buat kursi, meja, tirai, lampu hias, dan vas bunga berbentuk sepeda, motor atau mobil,” terangnya.

Selanjutnya, hasil kerajinan tersebut dipasarkan melalui akun Facebook miliknya dengan kisaran harga dari Rp 50.000 sampai dengan Rp 750.000.

Vas bunga dari bambu hasil kreativitas Fransiskus Inosensius (Foto: Dok. Pribadi)

“Sekarang saya lagi kerjakan 2 pesanan set meja dan kursi bambu. Hanya butuh beberapa hari sudah selesai,” tandas Ino.

Kebutuhan bahan lain tentu ada. Namun Ino mengaku tidak perlu ke kota untuk berbelanja.

“Sebelum ini saya sudah beli dan simpan untuk kerja di sela-sela waktu sebagai perangkat desa,” terangnya.

Menurut Ino, pekerjaan barunya tersebut menjanjikan. Meski demikian, dirinya tetap ingin mengabdi sebagai perangkat desa.

Dia berharap anak-anak muda lain pun bisa memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang produktif walau hanya di rumah saja.

“Kita bisa cegah corona sambil bekerja atau lakukan hal produktif di rumah,” tandasnya.

Penulis: Are De Peskim
Editor: Ardy Abba

Sikka Virus Corona
Previous ArticleHipmi Lembata Minta Pedagang Tidak Menaikkan Harga Barang
Next Article Update Corona Sikka: 1 PDP, 64 ODP, dan 15 Dinyatakan Sehat

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026

NTT Dapat 7 Dokter Spesialis di Batch Ketiga, Pemprov Siapkan Skema Penempatan dan Dukungan Pengabdian

27 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.