Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Feature»Kisah Devia, Gadis Maumere yang Rajin Sumbang Snack Gratis untuk Tenaga Medis
Feature

Kisah Devia, Gadis Maumere yang Rajin Sumbang Snack Gratis untuk Tenaga Medis

By Redaksi19 April 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Devia Alexandra (Foto: Facebook)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, VoxNtt.com-Pandemi Covid-19 yang menciptakan kecemasan dan kepanikan di mana-mana, tidak menyurutkan semangat Devia untuk terus berbagi.

Nama lengkapnya Devia Alexandra. Gadis belia asal Maumere, Flores, NTT ini hadir sebagai pemantik dari aksi solidaritas sejumlah ibu yang kerap mengantarkan minuman dan makanan ringan untuk petugas Posko COVID-19.

Menurut Devia, semuanya bermula dari hiruk-pikuk datangnya Kapal Motor (KM) Lambelu yang sempat menciptakan huru-hara di Sikka.

“Waktu kejadian Lambelu itu, saya jadi bosan lihat media. Pemberitaan, obrolan di medsos atau pun obrolan dengan tetangga hanya seputar kepanikan,” terangnya.

Di saat yang bersamaan menurutnya ada tenaga kesehatan dan petugas keamanan yang harus ada di garis depan menghadapi ancaman COVID-19.

“Harusnya kita tidak menambah kepanikan dan membuat beban kerja mereka bertambah,” tandasnya.

Maka mulailah ia membujuk ibunya Agatha Boseng. Dengan menyisihkan keuntungan dari hasil berjualan makanan via daring yang digelutinya selama ini, mereka menyiapkan makanan ringan.

Pertama kali buat bubur kacang.  Lalu diganti dengan ubi goreng, pisang goreng dan kopi.

“Kami pakai uang pribadi, jadi kami hanya bisa seadanya. Kalau warga karantina kan sudah diurus sama Pemda,” terangnya.

Hari pertama dan kedua hanya Devia dan ibunya. Kerja kecil tersebut lantas dipublikasikan via akun Facebook-nya. Bukan untuk popularitas, tetapi untuk menyebarkan semangat solidaritas.

Rupanya gayung bersambut. Sejumlah ibu menawarkan diri turut bergabung. Beban pun berkurang sebab Devia dan sang ibu tidak lagi sendirian. Ada yang menyumbang kopi dan teh, ada pula yang menyumbang gorengan.

Tidak hanya di Posko COVID-19 di SCC, mereka bergerak ke Rujab Bupati mengingat kedua tempat tersebut merupakan lokasi karantina terpusat bagi eks penumpang Lambelu asal Sikka.

Terkahir mereka mendatangi Posko COVID-19 di Dinkes Sikka.

“Ada request juga wedang jahe jadi kami akan usaha penuhi,” ungkapnya.

Salah satu ibu yang ikut dalam gerakan kecil ini, Mey Ladapase kepada VoxNtt.com mengaku terlibat karena prihatin dengan situasi yang ada.

“Ini persoalan kita semua. Kami hanya bisa membantu seperti ini. Kami berharap bisa semua ini cepat berlalu,” ungkapnya.

Selain Mama Mey Ladapase ada pula Mama Maria Imakulata More, Mama Sumi Sutrisno dan Tety Tilaar.

Devia dan ibu-ibu saat berkunjung ke Posko COVID 19 di Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka (Foto: Istimewa)

Tukar Makanan dengan Masker

Anak kedua dari 3 bersaudara ini punya cara lain lagi untuk menggalang solidaritas. Dia memanfaatkan kesehariannya berjualan makanan secara daring tersebut.

Kali ini dia menawarkan barter menu makan siang olahannya dengan masker dari costumers.

Ini mulai dilakukan sejak 12 April lalu. Setiap harinya, Devia menyediakan kuota 10 paket makan siang untuk ditukar dengan satu masker kain yang baru.

“Maskernya nanti saya bagikan kepada saudara kita yang membutuhkan,” demikian tulisnya di akun Facebook.

Ternyata banyak yang merespon tantangannya tersebut. Dari kuota 10 paket lunch box yang ditawarkan terpaksa dianulir karena ada lebih 30 pelanggan yang ingin ikutan barter.

“Saya langsung bagikan di Pasar Alok dan tetangga. Sekarang masih kumpul-kumpul lagi. Sehari bisa dapat 20 sampai 30 masker,” ungkap Devia.

Devia mengaku akan tetap berbagi dan mengajak orang untuk melakukan hal-hal positif di tengah situasi ini.

Menurutnya, masyarakat kita bisa bersolidaritas, bisa bersatu asal ada yang menggerakkan dan memberi contoh.

Penulis: Are De Peskim

Editor: Irvan K

covid-19 Devia Alexandra Maumere Sikka
Previous ArticleMenjemput Matahari-Antologi Puisi Petrus Nandi
Next Article Pemerintah Mencatat Dua Pasien dalam Pengawasan di Ende

Related Posts

Perjuangan Mama Sebina: Bertahan Hidup, Sekolahkan Anak di Tengah Kemiskinan Manggarai Timur

25 Februari 2026

Gubernur NTT Minta Penyaluran KUR Tepat Sasaran untuk Masyarakat Miskin

19 Februari 2026

Sehari Hari Hilang, Seorang Nelayan di Maumere Ditemukan Tewas

18 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.