Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Menjemput Matahari-Antologi Puisi Petrus Nandi
Sastra

Menjemput Matahari-Antologi Puisi Petrus Nandi

By Redaksi19 April 20204 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi matahari (Foto:ceritaderofa.blogspot)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Menjemput Matahari

 Gubuk mungil masih menyeka titik-titik embun

Tak ada jam berkedip di dinding

Atau bunyi alarm mendahului nyanyian ayam jantan

“Hari ini aku mau menuaikan janji pada mimpi”

Gumam seorang bocah selepas terjaga dari tidurnya

 

Matahari masih belum menyiasati ziarahnya

Sebuah bintang tua berbisik dari kejauhan

“Ini masih terlalu dini, sayang…”

Ia hanya tersenyum sambil mengatur langkah bersama pandunya

Meski tak pernah mengutuki udara yang terlampau dingin

Menusuk tubuhnya.

 

Bocah kecil berjalan tanpa alas di kaki

Dalam bayang-bayang mimpi bertemu matahari

Tak diserapahinya embun yang membasahi bajunya

Jarak panjang pun tak dapat membunuh mimpinya

 

Setibanya di ujung jalan, ia menengadah ke langit

Pada sudut pandangannya yang paling jauh

Ia menemui cahaya berpendar di langit pagi

“Ah, perjalananku masih terlalu panjang”.

Puncak Scalabrini, 25 Maret 2020

 

Tentang Orang Gila yang Menertawakan Nyanyiannya Sendiri

 

Ia tak pernah mengerti

Mengapa ia ditakdirkan

Untuk dibekap dan dikurung

Dalam ruangan mini itu.

 

Ia tak pernah tahu

Mengapa ia merasa sangat bergembira

Saat ia menyanyikan lagu

Yang diciptakannya sendiri

 

Yang tidak diketahuinya

Untuk apa ia bernyanyi

Dan apa yang ia nyanyikan

Ia hanya tahu bahwa bibirnya bersuara

 

Ia tak pernah tahu

Mengapa ia sesekali bernyanyi

Sesekali tertawa lalu bernyanyi lagi

Dan lanjut tertawa, begitu selanjutnya

 

Ia tak pernah mengerti

Mengapa ia begitu bergembira

Saat ia tahu ia sedang bernyanyi

Dengan nada dan lirik yang tak dipahaminya

 

Yang karenanya tetangga sebelah

Tertawa sekenanya

Dan ia pun nimbrung

Menertawakan nyanyiannya sendiri

 

Ia tak pernah paham

Mengapa ibundanya begitu setia

Meski terkadang ditumpahkannya nasi setengah piring

Setelah merasa kenyang lantas bernyanyi dan tertawa

 

Ia tak pernah mahfum

Mengapa setiap malam

Selalu sama dengan siang

Karena ia selalu terjaga demi bernyanyi dan tertawa

 

Ia tak pernah tahu

Mengapa ia begitu teguh

Menertawakan nyanyiannya

Ia tak pernah bertanya

 

Mengapa ia selalu bernyanyi dan tertawa

Seperti tak pernah dimengertinya

Mengapa ia tiba-tiba menjadi orang gila

Setelah ia mengutuki ibunda yang setia itu.

Pantar, Desember 2019

 

Sembahyang Pagi

Subuh membubung

Sembahku melayang di langit-langit kapela

Setenang itukah Kaucicip damai

Saat sesalku merunduk pada kolong tabernakel?

 

Seperti domba yang hilang temukan pandunya

Sukmaku teramat murni memandang Ilahi

Sembahyang subuh melambung tinggi

Menembusi khilaf yang akut dan membatu

 

Aku telah kembali

Mengajak pagi bergegas menemui Adonai

Semoga hari tak sempat noktahkan noda

Pada hati yang masih bertasbih

 

Pagi melambungkan sujudku

Mengantar doa dan pintaku

Bagi semua rupa remeh temeh ini:

Dunia dan sekelumit perkaranya.

Puncak Scalabrini, Februari 2020

 Laudes

 

Bias mentari beristirah di pucuk kapela

Kita kemas pundi-pundi doa

Dan ayat-ayat kitab suci yang membuku

Berkemah di sudut sakristi

 

Setelah sekian tahun kita geluti pujian ini

Tak ada yang tanggal dari buku harian biara

Kita menjelma peziarah yang setia merapal sembah

Pun kidung ini teramat mulia kita lantunkan

Sampai terbangun arwah para nabi

Dari zaman Musa dan Elia

Puncak Scalabrini, Februari 2020

 

Sapardi

 Sulut gairahmu meramu kata di atas dada sajak manja

yang seksi

Anak-anak aksara terlahir dan melahirkan aksara-aksara

yang lain

Puisi membangun segunung makna pada singgasananya

yang teduh

Ada sejuta damai terekam dalam lembar-lembar buku

yang putih

Rahasia hidup bakal dinikmati anak-anak nusantara

yang lugu

Dan setiap letupan katamu itu sejukkan jiwa kawula muda

yang kalut

Ini negeri sudah saatnya kau rasuki gema puisimu

yang abadi.

Puncak Scalabrini, Maret 2020

 BIODATA PENULIS

Petrus Nandi, lahir di Pantar-Manggarai Timur-Flores pada 30 Juli 1997. Puisi-puisinya pernah dimuat pada media-media masa seperti Pos Kupang, Flores Pos, Vox NTT, Flores Sastra, Lontar Pos, Nalar Politik, Societas News dan beberapa buku antologi Puisi. Saat ini ia menetap di Biara Scalabrinian dan menjadi mahasiswa aktif di STFK Ledalero. Petrus dapat dihubungi lewat surel: [email protected]; WhatsApp: 081237080773; alamat Facebook: @Petrus Nandi.

 

 

 

Petrus Nandi
Previous ArticleKisah Haru Kala Tenaga Medis Covid-19 Diangkat Jadi Tenaga Kontrak oleh Bupati Malaka
Next Article Kisah Devia, Gadis Maumere yang Rajin Sumbang Snack Gratis untuk Tenaga Medis

Related Posts

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.