Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Psikolog Beberkan Tips Mengasuh Anak di Tengah Pandemi Covid-19
KESEHATAN

Psikolog Beberkan Tips Mengasuh Anak di Tengah Pandemi Covid-19

By Redaksi11 Mei 20204 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Fitriana Herarti, M.Psi bersama Christiani Natalia Banik, S. Psi sebagai Penanggung Jawab Program Pengasuhan Positif, LPPA Mitra Child Fund International di Indonesia (Foto: Cristin)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Betun, Vox NTT – Salah satu pesikolog Cristiani Natalia Banik membeberkan sejumlah tips atau cara mengasuh anak di tengah pandemi Covid-19.

Penanggung Jawab Pengasuhan Positif itu ingin berbagi tips yang perlu dilakukan agar bisa menjadi orangtua atau pengasuh yang bahagia.

Cristi sapaan akrabnya, menekankan pola hidup dengan selalu berpikiran positif. Menurutnya, hal itu akan berpengaruh dalam menghadapi kegelisahan saat pandemi Covid-19.

Jika ingin bahagia, lanjut dia, maka apapun situasinya, pikiran harus selalu positif.

Ia berharap agar harus menanamkan dalam mindset bahwa tidak semua hal bisa dikontrol. Ada hal yang bisa dikontrol, ada juga yang dikontrol oleh Sang Mahakuasa.

“Tidak ada yang bisa melakukan itu, hanya diri kita sendiri yang bisa mengarahkan dan mengontrol pikiran agar tetap positif,” ujar Cristi kepada VoxNtt.com melalui sambungan telepon genggamnya, Minggu (10/05/2020).

Ia menjabarkan, hal itu dinilai penting karena pandemi Covid-19 membawa perubahan pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Orangtua yang sebelumnya bekerja, namun harus tetap di rumah saja karena mematuhi aturan pemerintah agar tidak terpapar virus corona.

Kemudian, orangtua yang sebelumnya memiliki penghasilan baik harian, mingguan maupun bulanan, saat ini semua serba pas-pasan. Sebab tidak bisa bekerja seperti biasa, bahkan ada orangtua yang terpaksa kehilangan pekerjaan.

Sedangkan di sisi lain, orangtua punya tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan di rumah.

Hal ini kata Cristi, tentu saja membuat kondisi psikologis orangtua rentan terganggu dan tidak sejahtera secara mental.

Ditambah lagi, orangtua harus bersama anak setiap hari dengan berbagai karakter dan kemauan anak-anak. Hal ini tentu saja makin membuat orangtua merasa stres.

Penanggung jawab Program Pengasuhan positif Lembaga Pengembangan dan Perlindungan Anak (LPPA) Mitra Child Fund International di Indonesia, lanjut dia, telah melakukan konseling sederhana kepada orangtua yang tergabung dalam kelompok pengasuhan pada wilayah yang didampingi.

Hasil yang didapatkan dari cerita orangtua adalah seperti yang telah dipaparkan sebelumnya.

Situasi ini membuat orangtua stres, sehingga lebih sensitif atau mudah marah kepada anak.

Cristi mengatakan, jika anak melakukan kesalahan-kesalahan kecil, orangtua langsung merespon dengan memarahi anak atau mengucapkan kata-kata kasar.

” Dengan tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan tidak bisa bekerja seperti biasa, membuat orangtua makin tidak sejahterah secara mental. Hal itu bisa membuat pikiran dan perasaan cenderung negatif,” ujar Cristi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Seorang Psikolog lainnya Fitriana Herarti, yang merupakan Spesialis Perkembangan Anak Child Fund International di Indonesia.

Menurutnya, orangtua atau pengasuh menjadi kelompok yang sangat rentan terhadap berbagai perubahan yang harus dilakukan untuk mencegah penularan Covid-19 ini.

Fitriana Herarti menekankan bahwa sangatlah penting bagi orangtua untuk bisa tetap menjaga kebahagiaan dalam situasi wabah ini agar tidak berdampak secara negatif pada anak.

Fitriana pun memberikan tips sederhana untuk dapat meredakan ketegangan pada orangtua dalam menghadapi situasi wabah ini .

Pertama, selain berpikir positif seperti yang telah dipaparkan, orangtua atau pengasuh bisa gunakan disiplin positif dalam mengelola perilaku anak.

Prinsip disiplin positif adalah menyampaikan langsung perilaku yang orangtua ingin dilakukan anak, daripada menggunakan kata jangan.

Misalnya, sampaikan ke anak untuk “rapikan ruangan setelah bermain” daripada mengatakan “jangan bikin rumah kotor dan berantakan”.

Kedua, kelola emosi atau perasaan negatif. Saat dikuasai oleh perasaan negatif, ambil waktu untuk berhenti sejenak dari kegiatan yang membuat perasaan negatif muncul.

Cari tempat duduk yang nyaman, pejamkan mata, taruh salah satu tangan di perut dan rasakan tarikan serta hembusan napas.

Saat itu sambil berkata dalam hati “saya akan baik-baik saja”. Lakukan itu selama 2-3 menit hingga perasaan negatif berkurang.

Ketiga, kembangkan keyakinan spiritual. Suatu keyakinan yang berdasar pada hubungan manusia dengan Tuhan YME. Manusia meyakini bahwa semua yang terjadi di dunia ini atas kehendak Tuhan supaya memperoleh hikmah.

Keyakinan ini menurutnya, akan mengurangi perasaan tertekan dengan begitu banyaknya perubahan yang terjadi di sekitar.

Ia mencontohkan, untuk mengubah pola pikir negatif ke positif, misalnya ketika menghadapi kondisi rumah yang berantakan.

“Kita punya pilihan untuk berpikir ‘Duh, sejak anak-anak di rumah terus selalu bikin rumah berantakan’ (pikiran negatif),” katanya.

“Atau kita bisa berpikir ‘Wah, syukurlah anak-anak tetap banyak inisiatif melakukan kegiatan di dalam rumah, mereka bisa belajar berbagai hal walau dari rumah’ (pikiran positif),” sambung Fitriana.

Selain itu, Fitriana juga memberikan saran untuk pasien Covid-19, yang sudah sembuh.

Menurutnya, hal utama yang menjadi dasar adalah bahwa setiap orang hanya memiliki kontrol terhadap diri sendiri, mempunyai kuasa untuk mengatur atau mengontrol perilaku orang lain.

“Jadi saat kita sudah sembuh dan boleh kembali ke rumah, kita harus tetap menjaga pola pikir positif dengan terus merasakan syukur diberi kesembuhan,” saran Fitriana.

Penulis: Frido Umrisu Raebesi
Editor: Ardy Abba

Malaka Virus Corona
Previous ArticleIPD Minta Pilkada Serentak Undur ke Tahun 2021
Next Article Terkait Praktik Judi, Kapolres Malaka Diduga Persulit Wartawan untuk Menemuinya

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026

NTT Dapat 7 Dokter Spesialis di Batch Ketiga, Pemprov Siapkan Skema Penempatan dan Dukungan Pengabdian

27 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.