Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KESEHATAN»Pansus Temukan Kekurangan Tenaga Kesehatan di Pedalaman TTS
KESEHATAN

Pansus Temukan Kekurangan Tenaga Kesehatan di Pedalaman TTS

By Redaksi17 Juni 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Marten Tualaka, Ketua Pansus DPRD TTS.
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

SoE, Vox NTT-Beberapa pekan terakhir Panitia Khusus (Pansus) DPRD TTS melakukan uji petik lapangan atas LKPj Bupati TTS Tahun 2019. 

Hasilnya, di beberapa puskesmas ditemukan masih kurangnya tenaga kesehatan. Itu terutama tenaga profesional di bidang gizi masyarakat. Sudah begitu, para tenaga medis di bidang gizi ini pun digaji dengan upah yang tak layak.

Temuan tersebut diungkapkan Ketua Pansus DPRD TTS Marten Tualaka kepada wartawan, belum lama ini.

Kondisi demikian menurut Marten Tualaka, sangat berpengaruh terhadap penanganan stunting di Kabupaten Timor Tengah Selatan.

“Di Puskesmas KiE, hanya ada 2 tenaga gizi di puskesmas dengan gaji honor Rp 250.000 per orang. Ini ironis memang. Bagaimana bisa tanggulangi masalah gizi masyarakat khususnya soal stunting di Kecamatan KiE,” ungkap Marten.

Temuan yang sama juga, sambung Politisi Partai Hanura ini, terjadi di Puskesmas Oinlasi.

“Bayangkan saja, hanya satu orang tenaga gizi bisa melayani sampai semua desa atau Posyandu di Kecamatan Amanatun Selatan tersebut,” sebutnya.

Posyandu lanjut Marten, menjadi ujung tombak penanggulangan stunting. Dan, tenaga kesehatan gizi, sebutnya, dianggap berkompeten.

“Sayangnya, kalau digaji dengan upah yang rendah maka bagaimana mungkin bisa bekerja optimal,” tandasnya.

Oleh karena itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) diminta untuk memperhatikan perekrutan dan penempatan tenaga medis khususnya di bidang gizi. “Perhatikan juga upah para medis di pedalaman,” tutupnya.

Penulis: Long
Editor: Ardy Abba

DPRD TTS TTS
Previous ArticleSejumlah Anggota DPRD Mabar Malas Ikut Sidang, Badan Kehormatan Surati Fraksi-fraksi
Next Article Putrinya Meninggal di Malaysia, Adam Datangi Kantor UPTP2MI Kupang

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026

NTT Dapat 7 Dokter Spesialis di Batch Ketiga, Pemprov Siapkan Skema Penempatan dan Dukungan Pengabdian

27 Februari 2026
Terkini

Satgas Pangan Sidak Pasar, Pastikan Stok Aman dan Harga Stabil di Labuan Bajo Jelang Idul Fitri

7 Maret 2026

Ketua PSSI Manggarai Barat Buka O2SN Gugus 04 Namo di Lembor Selatan

7 Maret 2026

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.