Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»HEADLINE»Mengenang Kematian Munir, BIN dan Saksi Kunci
HEADLINE

Mengenang Kematian Munir, BIN dan Saksi Kunci

By Redaksi8 September 20203 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Istri Munir, Suciwati dan para peserta aksi Kamisan yang mengenakan topeng bergambar Munir (Foto: matranews.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Maumere, Vox NTT- Senin 7 September 2020, tepat 16 tahun aktivis HAM Munir Said Thalib meninggal dalam penerbangan dari Singapura menuju Amsterdam.

Munir hendak melanjutkan studi di Universitas Utrecht, Belanda.

Tak lama setelah Garuda dengan nomor GA-974 yang ditumpanginya meninggalkan Changi, Singapura, Munir mulai menunjukkan gejala sakit.

Ia bolak-balik ke toilet. Seorang dokter yang turut menumpang dalam penerbangan tersebut membantu merawatnya.

Mantan pejabat BIN, Muchdi Pr (Foto: kompas.com)

Namun sayang, sebelum pesawat tiba di Amsterdam, Munir telah meninggal dunia. Ia lalu dimakamkan di kampung halamannya, Batu, Malang beberapa hari kemudian.

Banyak Kejanggalan

Ada banyak kejanggalan terkait kematiannya. Dua bulan setelah kematian Munir, Kepolisian Belanda kemudian mengumumkan temuan kadar arsenik dalam beberapa organ tubuh lulusan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya itu.

Munir diracuni dengan arsenik. Dugaan awal arsenik tersebut terdapat dalam jus jeruk yang diminumnya.

Kala itu, dugaan pelaku mengarah Polikarpus, seorang Pilot yang ‘menyusup’ dalam penerbangan tersebut. Polikarpus diketahui sempat menukar tempat duduknya dengan Munir. Munir yang duduk di kelas ekonomi bertukar tempat dengan Polikarpus.

Munir sempat meminum jus jeruk yang ditawarkan pramugari setelah bertukar tempat dengan Polikarpus.

Ada dugaan Polikarpus meracuni Munir di Bandara Changi. Seorang saksi kunci, musisi, Ongen Latuhamallo melihat Polikarpus sempat duduk bersama Munir saat transit di Changi. Kala itu, Polikarpus datang membawa dua gelas minuman di Coffee Bean di Bandara Changi.

Kesaksian Ongen menjadi dasar hakim memvonis Polikarpus dengan hukuman 14 tahun penjara.

Aktivis HAM, Munir Said Thalib (Foto: Istimewa)

Selain itu, Polikarpus yang adalah seorang pilot sedang dalam masa cuti. Mengherankan kemudian, ia berada di dalam pesawat dan bertugas sebagai crew pesawat berdasarkan surat yang ditandatangani Dirut Garuda Indonesia.

Dalam persidangan kala itu, Dirut Garuda Indra Setiawan, mengaku pernah menerima surat dari BIN.

Lantaran menandatangani surat penempatan Polikarpus tersebut, Indra divonis penjara 1 tahun.

Kejanggalan lain yakni terungkap komunikasi melalui telepon antara Polikarpus dan pejabat BIN, Muchdi. Bahkan, Polikarpus diduga merupakan agen BIN yang direkrut sejak ia bertugas di Papua.

Muchdi sempat ditetapkan sebagai tersangka meski akhirnya dibebaskan karena tidak dapat dibuktikan perannya dalam persidangan.

Kejanggalan lainnya lagi adalah hilangnya dokumen TPF.

TPF yang dibentuk oleh SBY telah bekerja dan menghasilkan dokumen. Sayangnya sampai saat ini dokumen tersebut tak pernah terungkap ke publik.

Belakangan pada 2016 lalu diketahui bahwa dokumen TPF hilang.

Kematian Saksi Kunci

Pada 2018 lalu, Polikarpus resmi bebas bersyarat.

Meski demikian kasus ini masih menyisakan tanda tanya siapa otak di balik pembunuhan Munir.

Meski demikian sejumlah saksi kunci telah meninggal dunia. Mereka yang meninggal di antaranya Ongen.

Ongen meninggal setelah sempat disiram air di jalan oleh pengendara yang sempat terlibat keributan dengannya.

Selain itu, berdasarkan data Komite Solidaritas untuk Munir (KASUM) ada juga saksi kunci lain yakni seorang purnawirawan. Purnawirawan yang pernah menjadi pejabat BIN tersebut menghubungi KASUM untuk bertemu.

Ia mengaku mengetahui ada sketsa rencana pembunuhan Munir. Akan tetapi, belum sempat bertemu purnawirawan yang tak disebutkan namanya tersebut diketahui meninggal dunia.

Demikian juga, saksi kunci lain yang menjadi alibi Polikarpus bahwa ia dijemput seseorang. KASUM memperoleh informasi bahwa orang tersebut telah meninggal dunia.

Selain itu, ada pula mantan pejabat BIN, Bijah Soebijanto yang disebut ahli alibi. Bijah ahli membaca dokumen telepon menjadi dokumen hukum.

KASUM sempat membuat janji dengan Bijah. Namun belum sempat bertemu, yang bersangkutan dikabarkan meninggal.

Penulis: Are De Peskim
Editor: Ardy Abba

Nasional
Previous ArticleMasa Pendemi Covid-19, Berikut Sebaran Bansos di Kota Kupang
Next Article Wanita di Ngada Tewas Setelah Bersetubuh dengan Pria yang Bukan Suaminya

Related Posts

Astra Tandang Apresiasi Political Will Pemerintah dan DPR Sahkan RUU PPRT

22 April 2026

Benny Harman Dorong Pembentukan Lembaga Independen Pengelolaan Hasil Perampasan Aset

7 April 2026

Benny Harman: Kasus Penyiraman Andrie Yunus Bukan Pidana Biasa

5 April 2026
Terkini

Polsek Amarasi Timur dan Pemerintah Kecamatan Tinjau Lokasi Kebakaran Rumah Warga di Pakubaun

6 Juni 2026

Peti Persembahan vs Peti Mati

6 Juni 2026

Jejak Skandal AKP Serfolus Tegu: Istri Simpanan, Dugaan Kekerasan hingga Laporan ke Propam

5 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.