Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»INTERNASIONAL»WHO Tidak Lagi Sarankan Lockdown
INTERNASIONAL

WHO Tidak Lagi Sarankan Lockdown

By Redaksi12 Oktober 20202 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Dr. David Nabarro dari WHO (Foto: NBC News)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Vox NTT- Berbagai kebijakan negara di dunia dalam menghadapi pandemi Covid-19 terus berubah.

Tidak terkecuali soal lockdown, yang baru-baru ini tidak lagi disarankan sebagai pendekatan utama.

Setidaknya, itu yang disampaikan utusan organisasi kesehatan dunia (WHO) Dr David Nabarro dalam sebuah wawancara video dengan majalah Inggris, The Spectator.

Menurutnya, pembatasan semacam itu hanya boleh dilakukan sebagai pendekatan terakhir.

“Kami di WHO tidak mengadvokasi lockdown sebagai cara utama mengendalikan virus ini,” kata Nabarro, dikutip dari Nypost, Senin (12/10/2020), sebagaimana dilansir detikcom, Senin (12/10/2020)

“Satu-satunya kesempatan yang kami yakini lockdown dibenarkan adalah untuk memberi Anda waktu mereorganisasi, menata kembali, menyeimbangkan kembali sumber daya, melindungi tenaga kesehatan yang kelelahan, tapi pada umumnya kami memilih tidak melakukannya,” lanjutnya.

Nabarro mengatakan, ada dampak signifikan terkait pembatasan ketat, terutama terkait ekonomi global.

“Lockdown hanya punya satu konsekuensi yang tak boleh diremehkan, yakni membuat orang miskin menjadi lebih miskin,” kata Nabarro.

Lockdown, menurut Nabarro paling berdampak pada negara yang menggantungkan diri pada pariwisata. Ia mencontohkan pariwisata di Karibia yang kelabakan.

WHO sebelumnya memperingatkan negara-negara untuk tidak mencabut lockdown terlalu cepat selama gelombang pertama pandemi Covid-19.

“Hal terakhir yang perlu dilakukan oleh negara manapun adalah membuka sekolah dan bisnis, hanya untuk menutupnya kembali karena kebangkitan,” kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Namun Tedros juga menekankan upaya lain yang harus dilakukan. Di antaranya melakukan testing dan pelacakan kontak secara luas agar kelak setelah lockdown dicabut tidak perlu mengalami lockdown kembali.

Penulis: Long
Sumber: detikcom

internasional
Previous ArticleUndang Prabowo ke AS, Guru Besar UI: Amerika Ingin Indonesia Tidak Jatuh ke Perangkap China
Next Article Jika Terpilih, Simon Nahak Terapkan Gaya Ahok di Malaka

Related Posts

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026

RRI Labuan Bajo dan Plataran Komodo Gelar Donor Darah, Perkuat Aksi Kemanusiaan di Manggarai Barat

3 Maret 2026

NTT Dapat 7 Dokter Spesialis di Batch Ketiga, Pemprov Siapkan Skema Penempatan dan Dukungan Pengabdian

27 Februari 2026
Terkini

Kisah Nangadhero, Desa Pesisir di Nagekeo Tempat Petani dan Nelayan Menjaga Harmoni

7 Maret 2026

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.