Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Penerbangan Ini: Antologi Puisi Aris Setiyanto
Sastra

Penerbangan Ini: Antologi Puisi Aris Setiyanto

By Redaksi30 Januari 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Penerbangan Ini

tak akan aku

selundupkan kawan-kawan aku

menempati sekotak bahagia

yang fana

takkan kubiar

cahaya itu redup

 

penerbangan ini adalah

perjalanan

setiap gunungan awan

adalah buah-buah karma

untuk engkau

sementara,

tak akan bisa

kau eja jumlahnya

 

Jln. Kartini 42, 26 Januari 2020

Dia Tidak Menanyakanmu

dia tidak menanyakanmu

hanya wajahku yang menari

dalam panggung mimpinya

aku yang penurut

 

kini kekasihnya datang kepadaku

mengabadikan penderitaan aku

dalam gambar diri

 

dia tidak menanyakanmu

kau hanya angin lalu

bertiup menitipkan kisah rapuh

dan pergi tanpa kata

Temanggung, 30 Januari 2021

Semalam Ruhmu Labuh

acapkali kau telanjang hati

betapa bisu pun

tetapi selalu ada yang datang

sama halnya kepergian

aku gegas pada tiap lagu kau senandungkan

meski semalam ruhmu labuh, entah kemana

kemudian

kau kira tiap hati akan terdabik

ayatullah! ayatullah!

masih pula, bisu.

2020

Datanglah!

nak, datanglah!

sebelum halimun selimuti mesigit

tak tergapai netramu

amsal kakimu terjejak

telah kau surgakan ratusan nyawa

datanglah!

namun, usah kau tinggal

kuku kakimu sendiri

lelatu, peluh yang kau suakan bara

sebelum pagi menelan separuh malam

2020

Seperti Mukim di Perantauan

seperti mukim di perantauan, hidup seolah abadi. sebelum menggunung lelahku, tak akan aku jejakkan kaki. tanah di mana aku rekah. urban di dalam hatiku. hiruk-pikuk di dalam sana musti mereda. sesekali musti terbasuh beningnya wudhu. agar jalanku, seruah apapun aral kan kulingkari tiap jalan. konon, serupa. mengunjungi kawan lama, meminum secangkir kopi arai. yang ibu larungkan daging kelapa, pun bebiji beras. agar hidup tak sekelam tanpa muasal, tanpa tujuan. yang mengabur, dian-dian di beranda rumah atau mataku sendiri yang mengubur dunia di balik ranting subuh. saat pepujian mengetuk-ngetuk relung, terjaga. namun tanpa nur, gulita mengangkangi semesta.

2020

Mulas

meski semesta berpendar di perut

aku, tetap

langkahkan kaki

berselimut lelah ini

tuju rumah Tuhan

yang membantun jenaka

saban sudut rumah-Nya

dan tangan yang bertepuk adalah penanda

meski, masa itu

raja belumlah kentara

2020

 

Aris Setiyanto menyukai anime dan idol
Aris Setiyanto
Previous ArticleBPBD Manggarai Sarankan Kades Buat Laporan Resmi untuk Turunkan Alat Berat
Next Article Pentingnya Proses Kaderisasi dan Pembinaan Generasi Muda dalam Organisasi PMKRI 

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.