Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Maaf Sahabat: Antologi Puisi Dony Klau
Sastra

Maaf Sahabat: Antologi Puisi Dony Klau

By Redaksi21 Maret 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

*Oleh:  Dony Klau

Maaf Sahabat

Di sini wajahmu merangkak dalam kalbu tanpa ampun

Setelah kita menjejali musim sarat rahasia

Bercengkrama pada waktu tak mengenal usia

Mengejamu aku tak pandai 

Benar bahwa sahabat dan cinta lekat serupa api dan kayu

Saling menghangatkan pun saling menghanguskan

Hingga yang tersisa hanyalah abu

Maaf, aku tak mampu menggantung janji

Merindukanmu hanya sebagai sahabat pada ketiak hati

Tidak mencintaimu seperti kekasih

Aku gagal menggenggam lampin.

Berakhir di Juli

Juli masih menyeka bias-bias kenangan

Tak ada kata pun tanya pada kepergian

Atau isyarat tubuh menampik yang pergi

Hati pun belum sempat menyisiati rasa 

Barangkali perpisahan harus dimengerti dari sisi yang pergi

Bukan dari sisi yang ditinggalkan

Aksara terakhir yang kupinta

Telah kau sematkan pada relung jiwamu

Meski pamit tetap kau lantunkan

Aku masih merinduimu bersama kenangan kita

Bersama rinai hujan yang setia merawat bayangmu.

Hidup Sekali Jalan

Di antara mimpi yang bermekaran

Di atas kapal yang maha besar

Dan riak laut yang menggelora

Kita ibarat pelaut yang berlayar tanpa kompas

Menggenggam sejuta mimpi serupa virga

Mendekap asa pada usia rentah ruwet

Ini tentang hidup sekali jalan kawan

Dongeng klasik yang tak lekang oleh waktu

Surga atau neraka bagi yang mengilhami

Kawan, di sekian banyak manusia 

Kita hanyalah setitik embun pada daun

Diterpa sinar matahari lalu mengering tak membekas. 

 

Dony Klau
Previous ArticleKades Pong Ruan Resmikan TBM
Next Article Rindu yang Aneh

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.