Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Akankah Abadi?: Antologi Puisi Yohanes Mau
Sastra

Akankah Abadi?: Antologi Puisi Yohanes Mau

By Redaksi28 Mei 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Akankah Abadi?

Aku junjung langit di bukitmu
aroma mawar menusuk kalbu
kujamah pelan
hingga terasa
sumber hembusan itu,
awan putih diam saja
senja lirik dengan senyum malu-malu
aku hanyut di sukmanya
Akankah itu abadi?

Zimbabwe, 23/05/2021.

Kita Bebas

Hari ini adalah harinya bagi kita
Kita afrika
Kita bebas
Berlari bebas menuju kebebasan yang membebaskan
Tiada lagi jerit dan ratap suara tangis
Anak-anak di gubuk-gubuk sederhana
menari riang
Tiada lagi penjajah
Tiada lagi belenggu
Tiada lagi barat dan timur
Tiada lagi jarak
antara hatiku dan hatimu
Kita satu dalam balutan hangat cinta
di bumi beratapkan langit
Bercahaya satu matahari
Punya rindu yang sama
Menuju bahagia penuh harmoni

Happy African Freedom day

Zimbabwe-Africa, 25/05/2021.

Masihkah Ada Cinta?

Senja lepas mentari di ufuk barat
bayanganmu enggan lenyap
entalah kekuatan apa yang merasuki rasa ini
aku hanya terpaku diam
balut hangatkan tubuh mungilku
dari suntikan suhu malam
yang perlahan datang merayu dalam sunyi.

Aku sendiri tanpa siapa pun
dan aku ingin tak siapa pun
selain sunyi dari segala sunyi
bersama malam panjang
di tengah semesta
terhempas angin musim
kabarkan kisah jeritan anak negeri
mengemis cinta berderai air mata
tanya pada malam
Masikah ada cinta?

Bilik sunyi Zimbabwe, 2020

Aku Tak Sudi

Tetes air mata masih basahi pipinya
yang lembut
raut wajahnya tak jelita seperti kemarin
aku terdiam bersamanya
namun hati tak sudi membiarkan
tetesan itu terus berjatuhan
aku pun relahkan hati
menghapusnya
dengan lembut sapu tangan cinta

Andai saja aku hadir
sebelum matahari terbit
Aku tak relahkan ia terbenam
di ufuk barat bersama senja,
tapi aku akan sandarkan matahari
pada teduh matanya
agar hari-hari hidup kami menjadi
cahaya bagi semesta
dan segala ciptaan turut bahagia
memandang drama indah
tentang hidup dan kehidupan

Zimbabwe-Africa, 24/05/2021.

Yohanes Mau
Penulis warga Belu Utara NTT Indonesia
Penikmat sastra

Kini sedang bertualang di Zimbabwe-Afrika.

Yohanes Mau
Previous ArticleHelena dalam Balutan Hangat Lese Luan
Next Article Rayakan HUT ke 18, PGSD UNIKA Santu Paulus Ruteng Selenggarakan Lomba Debat

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.