Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»September yang Pulang: Antologi Puisi Haris Meme
Sastra

September yang Pulang: Antologi Puisi Haris Meme

By Redaksi1 Oktober 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

September yang Pulang

Ruas-ruas waktu terkuras

Raga pun mulai melemah

Membujuk hari-hari yang

Mulai menghilang ditelan bulan

 

September  pun mulai berkemas sejuta

Berkas-berkas  kenangan yang pernah

Terlukiskan di benak malam dari sekian perasaan

Suka maupun duka yang jatuh di relung hati

 

Deru keringat bercucuran menetes di sekujur tubuh

Tanda perjuangan yang gigih meniti karir dan segalanya

Desah nafas mengelora di dada tanda syukur

Anugerah hidup dari sang khalik

 

Tutur kata dari setiap detik berguguran

Jatuh berupa benih benih cinta di ladang pengharapan

Mari bersama menuai kebahagiaan

Untuk September yang pulang.

 

Rogate, 30 September

 

    Mengencani Rindu     

Pada senja yang perlahan menghilang ditelan bumi

berganti datangnya rembulan malam

dari kesunyian malam Kubisikan seuntai kata rindu

dari jeruji waktu yang merenggangi kita di ujung pilu.

 

Ada desah suara yang berbisik di tengah kesunyian malam

Wahai saudara….,sedalam manakah engkau merindu?

Apa sedalam perasaan yang kau pendam pada hati!

Atau rindu-Mu seperti hujan pada bumi yang memberinya basah?

 

Terdiam! beribu tanya dalam hayalku.

Oleh pikiran yang terus mengadu

 

serpihan serpihan kisah yang pernah kita lakoni bersama

kini perlahan sirna ditelan waktu

kau dan aku hanyalah 

sebatas rindu yang tak kunjung temu…

 

Maumere, 5 Mei 2021

 

Di Penghujung Doa 

Pernah berjanji pada malam yang menjemput fajar

Dalam heningnya waktu kubertelut pada arcamu

Menghanyutkan ragaku pada lautan doa 

Melantunkan kata penuh makna di ujung amin.

Tuhan

Dalam kegaduhan kuterus bertanya

Ke manakah Bahtera hidupku hendak berlayar?

Dalam lamunanku pikiranku terus membara

mampukah aku melewati setiap badai tantangan?

Ah Tuhan

aku seperti serigala di waktu bulan purnama

yang melolong secara liar, ku cemas hingga ragaku lemas,

berusaha mencintai segala hal yang bertamu dalam semu hariku

 

Mengikuti jalanmu penuh liku dan luka

Bersamamu mengobati segala kebimbangan di relung hati,

Mengekalkan kasihmu pada lembar kehidupan dan memeteraikan

Cintamu yang tak kunjung semu. 

Rogate, 10 September 2021

 

Penulis adalah Mahasiswa STFK Ledalero semester 3. Sekarang menetap di Biara Rogasionis, Ribang-Maumere.

 

Haris Meme
Previous ArticleSalib Kristus: Antologi Puisi Jemi Hoaratan
Next Article Ulang Tahun: Keterberian dan Kemungkinan

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.