Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Salib Kristus: Antologi Puisi Jemi Hoaratan
Sastra

Salib Kristus: Antologi Puisi Jemi Hoaratan

By Redaksi1 Oktober 20212 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Salib Kristus

Di sana ratapan 

Terpatri air mata

Suasana duka menyelimuti bumi

Dia yang berpaling di palang penghinaan

Membirkan dirinya terbungkus oleh kabut

 

Tapi dia tahu bahwa

Besok awan akan tertawa

Bumi akan tersenyum

Dengan benang-benang perak yang turun membasahi bumi.

Ribang, 13 September 2021

                   

Konsekrasio

 

Longceng berdenting

Hingga telinga pun harus letih

Mendengarnya

Gong ditaluk hingga gemanya

Menjalar ke seluruh ruangan

 

Masihkah layak aku menerima

Kapas anak domba ini

Masihkah layak aku menerima

Benih-benih bunga yang selalu

Bermekaran

 

Dengan tubuh dipenuhi lumut

Hingga membuat sekat-sekat

Hatiku terkurung

Dia yang masuk ke dalam hati

Hingga membuat tubuh menjadi salju

Bahkan awan pun takut melihatnya

 

Jari kami yang sudah ternoda

Tangan yang bergetar

Seperti badai

Yang ingin mengamuk

Karena menerima sang sabda

Harus dibuat hilang separuh rupa.

 

House Cleaning

 

Panas matahari mulai menyekat

Gumpalan-gumpalan bara mulai muncul

Dengan sekawanan domba yang matanya masih terkatub

Di atas ranjang

Kelopak-kelopak mareka belum terbuka 

Meskipun nada-nada longceng yang berirama

Hingga membuat siang manjadi gaduh

Telah lama mareka menantikan gulungan waktu

Untuk segera memegang perkakas kasar

Dan mulai menuruni samudera luas

Dengan mencurahkan derai keringatnya

Masing-masing 

 

Rogate Ribang, 14 September 2021

Penulis tinggal di Biara Rogationist

      

 

Jemi Hoaratan
Previous ArticleBumi Baru Perspektif Laudato Si Paus Fransiskus
Next Article September yang Pulang: Antologi Puisi Haris Meme

Related Posts

Bersama Senja: Antologi Puisi Cantikan Christiany Dapa

18 Juli 2026

Elegi Luka Sang Pemaaf

19 April 2026

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026
Terkini

Istri Wagub NTT Pantau Rumah Warga Terdampak Gempa di Manggarai

26 Agustus 2026

PUPR NTT Verifikasi 300 Rumah Terdampak Gempa di Desa Golo Mendo

26 Agustus 2026

Polda Jawa Tengah Salurkan Bantuan Sembako untuk Korban Gempa di Lengor

24 Agustus 2026

Karitas Keuskupan Ruteng Salurkan Bantuan untuk 11.907 Korban Gempa Flores

24 Agustus 2026

Keluarga Jakob Nuwa Wea Salurkan Rp1 Miliar untuk Korban Gempa Nagekeo

23 Agustus 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.