Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Elegi Luka Sang Pemaaf
Sastra

Elegi Luka Sang Pemaaf

By Redaksi19 April 20266 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Frt. Alvianus Tay

Siang itu, sang surya membebat bumi dengan panas yang menyengat melekat. Kerumunan jiwa bergegas menuju bak penampung air di jantung perkampungan yang meranggas ganas. Hulu balang jeriken berserakan, mengepung lingkaran semen tua yang menjaga sisa-sisa air di dasar bak.

Wajah-wajah itu adalah kanvas keletihan, melukiskan derat derita akibat kemarau yang tak kunjung menemui titik sirna. Di sana, sepasang mata menatap nanar pada aliran air yang nyaris mati, sebuah garis tipis yang enggan mengalir bebas.

“Alirannya serupa rembesan yang menghina dahaga,” kecil bagai “kencing anjing”, gumam seorang warga dengan kecewa merekah. Yang lain hanya mengangguk, melengkungkan senyum yang lebih pahit dari empedu

“Kapan kita akan mengecap mata air milik sendiri? Padahal rahim gunung di balik sana mengandung air hidup yang melimpah. Namun, seras ia dirampok untuk membasuh wajah kota,” sahut yang lain.

Pemerintah kota sering berdalih ‘liar’, bahwa air harus mengalir ke nadi perkotaan demi pundi-pundi kas daerah yang sekarat, yang janjinya akan menjelma aspal jalan menuju desa ini.

Namun, sepuluh lingkaran tahun telah berlalu; jalanan tetap berupa luka yang menganga, dan air tetap menjadi dongeng yang kering. Sekering rimba ras yang menanti dengan harapan kosong.

“Kita sedang meminum penderitaan,” bisik Ibu Rayni, sang penjaga air, dengan suara yang luruh letih.

Tiba-tiba, hening pecah oleh dentuman amarah. “Kau melampaui batas! Kau biadab! Buah hatiku masih begitu belia, dan rahimku sedang memeluk nyawa baru.

Mengapa kau paksa ia memanggul beban air yang bahkan pundak dewasa pun gemetar memikulnya?” teriak Nur, suaranya menggetarkan udara yang gerah. Melalang buana ke semesta angkasa, hingga burung-burung pun berterbangan kesana-kemari ketakutan.

“Ia telah menyesap sepiring nasi dariku, ditelannya dengan rakus! Jika tak ada peluh, maka tak ada suapan!” balas Sitti dengan wajah yang membara bagai kawah gunung berapi. Pertikaian itu menjalar, menciptakan tegangan yang meruncing.

Tajam dan mencekam. Para ibu berusaha meredam api, namun kata-kata tetap melesat bagai anak panah yang saling menghujam, berujung pada dendam yang berdenyut dan berdarah. Enggan sirnah.

Semenjak noda itu terukir, nama Nur menjelma angin buntut yang menyusup ke setiap telinga para ibu yang sedang sibuk memburu kutu. Gosip menyeruak, menyaput cakrawala nalar dengan kabut prasangka.

Cerita yang mulanya selembar daun kelor, di lidah Sitti memuai dan mekar serupa daun telinga; kecil asalnya, namun raksasa suaranya. Sitti memiliki “mulut madu” yang menyesatkan. Ia mampu menyalin dosa menjadi lembaran emas yang tampak murni. Ia bagai sekuntum bunga mawar merah, indah namun melukai.

Nur kini menjadi headline news di tanah kelahirannya sendiri. Ia ditatap dengan pandangan yang memicing, seolah-olah ia adalah jelaga yang dibuang dari peradaban manusia.

Ia kehilangan pilar; suaminya baru saja melarung janji, pergi bersama wanita lain. Ia tersesat dalam labirin perasaannya yang sunyi. Singkatnya, ia meras terlempar dari dunianya sendiri. Sakit dan menyengat.

Perih pedih melumat dadanya. Patuh bertuan dalam kemelaratan dan keterasingan. Sungguh duka penuh luka membabi buta dalam rupa hidupnya. Enggan berpaling walau hanya sebentar saja. I pikul sendiri dengan hanya ditemani air mata keluhnya.

“Ibu, jika aku telah tumbuh melampaui waktu nanti, aku ingin menjadi Superman. Agar aku mampu menjaga Ibu dan Adik,” ucap Raymond, putranya yang berusia sepuluh tahun itu datar.

Nur tersenyum getir, membiarkan sebutir bening jatuh menghujam bumi. Setidaknya, dalam kemiskinan ini, cita-cita adalah satu-satunya harta yang tak perlu ditebus dengan rupiah.

Bukankah kata orang “gantunglah mimpimu setinggi langit biar ketika jatuh masih ada awan yang bisa ditarik?”, batin Nur.

***

Suatu siang, ketika air dijadwalkan menyapa dahaga, Nur memilih meringkuk dalam hening rumahnya meski gentongnya telah mulai berdebu dan kosong. Ia lebih memilih mencecap dahaga liar daripada membiarkan jiwanya dicabik-cabik oleh kerumunan “singa” penggosip.

Ia merasa serupa wanita Samaria yang mencari air di jam paling terik demi menghindari tikaman lidah sesamanya yang payah. Namun, haus adalah tamu yang tak tahu adat; Raymond butuh penawar dahaga, air.

Dengan langkah yang berat, Nur melangkah menuju bak air. Ia merasa sedang menapaki koridor neraka. Tatapan sinis dari setiap penjuru menusuk hingga ke saraf pusatnya.

“Nur, apakah jiwamu tidak letih?” Ibu Rayni menyapa dengan kelembutan yang teduh. “Gunakanlah wadahku ini, biar punyamu kusimpan di sini; akan kuisi saat giliranku tiba.”

Menyaksikan ketulusan Ibu Rayni, Sitti meradang bagai cacing yang terpanggang. Ia melontarkan kutukan purba hingga mantra modern ke angkasa, memanggil arwah dan leluhur demi memuaskan api ketidaksukaannya pada Nur.

Namun Nur tetap bergeming, memanggul airnya pulang dalam sunyi. Ia selamat dari kekeringan raga, meski batinnya tetap melilit, gersang. Ia teringat petuah Bunda Teresa: Mencintai mereka yang membencimu adalah kasta tertinggi dari seni kehidupan.

Kata-kata itu menjadi rel yang menuntun langkahnya menuju muara cinta. Semuanya ia lakukan dengan secercah harap bahwa suatu saat, Sitti akan membalasnya dengan rasa yang sama. Inilah ekspektasi terdalam dari hati yang koyak, remuk digilas benci yang terus berbiak, berbisa.

Di dada Sitti, hanya ada tanur api kebencian yang membara tanpa jeda. Meski batinnya mulai hangus dan berasap, api itu tetap ia kobarkan. Sitti mungkin sedang mengunci akal sehatnya dalam amarah yang membabi buta. Ia tersesat dalam jaring angkara yang parah, tak pernah mengenal lelah untuk menghujam.

Berbagai narasi yang berbau limbah ia jejalkan ke dalam mulut suci realitas Nur. Nur dihempas, karam dalam kesunyian yang nyaris memaksanya mengakhiri napas dengan silet keputusasaan. Namun Nur bertahan.

Meski pikiran untuk menyerah sempat singgah akibat tekanan eksternal, jauh di dasar sanubarinya ada iba yang riuh. Ia memilih untuk tetap berjalan, memeluk setiap jatuh dan bangunnya.

Sebab, baginya, masalah bukanlah beban yang harus dibuang, melainkan esensi dari keberadaan dirinya sendiri. Itulah amor fati, kata ibunya tiga puluh tahn silam.

Ia memungut setiap serpihan kecewa yang luruh dari bibir duri Sitti. Memilih diam adalah bentuk ketabahan yang paling purba. Saat Nur sedang merapikan puing-puing kepalanya, sembari menaruh setiap tetes air mata pada butiran Rosario yang ia geser, ia mengunci keluhnya dalam nada “Amin”. Saat itulah, terdengar ketukan yang memecah hening malam. Ketukan yang membawa kabar duka luka.

Ibu Rayni datang dengan napas yang memburu. “Nur!Sitti kecelakaan! Lelaki yang ia bonceng tewas seketika di tempat kejadian!”

Nur terperangah. Napasanya sesak, bola matanya tenggelam dalam lautan kesedihan yang teramat dalam.

Apakah ini pengadilan alam? Tidak, ia tak boleh menari di atas nisan benci. Ia membangunkan Raymond yang terlelap, membawanya menembus pekat malam menuju rumah sakit. Di sana, Sitti berbaring kaku, tubuhnya hancur dihantam nasib. Nur mendekat.

Air mata merembes dari sudut mata Sitti yang terluka, sebuah bahasa bisu yang meneriakkan ampunan. Nur menyambutnya dengan maaf yang tulus. Setulus merpati putih. Jika alam mengutuknya, Nur memilih untuk memeluknya dengan doa dan maaf.

Lalu, petugas mengantar Nur untuk menatap wajah lelaki yang telah terbujur kaku itu. Detik itu, dunia Nur seolah runtuh menjadi debu. Hancur berantakan. Raganya terasa terpisah dari jiwanya. Ada penolakan yang kokoh pada jumpa pertama kalinya di depan wajah luka yang mengiris.

Lelaki yang nyawanya telah dicabut itu adalah mantan suaminya sendiri. Kini, tirai itu tersingkap; ia mengerti mengapa Sitti begitu mendidih dengan kebencian. Mendulang berualang-ulang dengan kebencian yang melalang buana. Sitti mungkin ingin membuktikan bahwa ia mampu merebut mahkota kebahagiaan Nur dan menjadi pemenang.

Nur hanya terdiam membatu, sementara air matanya mengalir laksana anak sungai, sunyi mengendap dan dalam menerkam sembari berbaring lemah dalam rasa pedih di belantara hutan yang paling gelap. Tersesat dan sesak.

Sunyi Tagaytay, 20 April

Alvianus Tay
Previous ArticleTentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga
Next Article 75 Warga Tolak Pabrik Porang di Reok, Keluhkan Asap, Limbah, dan Kebisingan

Related Posts

Tentang Pintu Kiri dan Pintu Kanan di Surga

19 April 2026

Senja di Atas Batu Sisa

13 April 2026

Lambaian di Balik Jaring Besi

8 April 2026
Terkini

Menteri Transmigrasi RI Serahkan Bantuan Sembako untuk Masyarakat Translok di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Alarm dari Kupang: Reformasi Radikal Pengendalian PAD

4 Juni 2026

Pemkab Manggarai Barat Usulkan Satgas Perizinan untuk Perkuat Pengawasan Usaha

4 Juni 2026

Menteri Transmigrasi RI Tinjau Pembangunan Sanitasi dan Lokasi HPL di Manggarai Barat

4 Juni 2026

Kejari Manggarai Barat Pulihkan Kerugian Negara Rp2,09 Miliar dari Dua Kasus Korupsi

4 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.