Oleh: Patrisius Tonce Josmalu
Alkisah, ada seorang bapa tua yang selalu mempertanyakan tentang sisi kiri Allah Bapa. Pertanyaan itu berangkat dari kesangsiannya terhadap doa yang selalu dipanjatkan oleh para Pastor, “Semoga arwahnya diterima di sisi kanan Allah Bapa di surga”. Pertanyaannya bagaimana dengan sisi kiri-Nya? Siapa sebenarnya yang ada di sana?
Suatu ketika, Bapa itu mengalami kematian suri. Arwahnya pun menuju ke surga. Sesampainya di depan pintu surga, ia bertemu dengan si Petrus. Karena rasa penasaran yang terus menggebu-gebu, tentang sisi kiri, ia meminta kunci pintu bagian kiri dari si Petrus.
“Apa kau nanti tidak menyesal?” Tanya petrus, tanpa memberikan alasan di balik pertanyaan itu.
“Tidak!” tegas si Bapa Tua. “Saya tidak akan menyesal. Selama ini, semua orang hanya berbicara tentang sisi kanan, Allah Bapa. Para pastor di bumi, selalu memanjatkan doa untuk mereka yang sudah meninggal, agar arwahnya diterima di sisi kanan Allah Bapa. Itu artinya, pasti sudah ada banyak yang ke sana. Sementara sisi kiri, jarang sekali orang membicarakannya.” Jelas si Bapa Tua, berusaha meyakinkan si Petrus.
“Ok, jika itu yang engkau inginkan. Tetapi sekali lagi saya peringatkan, agar engkau nanti tidak menyesal.” Kata Petrus sambil mengingatkannya kembali.
Bapa tua, tetap pada pendiriannya.“Kalau begitu, engkau harus menandatangani surat pernyataan ini.” kata Petrus, sambil menyodorkan surat yang telah dimeterai. “Jangan salahkan saya kalau engkau menyesal nantinya.”
Dengan penuh kepercayaan Bapa tua menandatangani surat pernyataan itu. Kunci pintu surga bagian kiri pun diserahkan kepada si Bapat Tua. Rasa penasaran yang amat besar mendorong Bapa Tua itu, menghalau segala keraguan untuk membuka pintu surga bagian kiri. Akhirnya, apa yang selama ini selalu saya sangsikan akan terwujud juga, katanya dalam hati, menemani langkah menuju pintu surga bagian kiri.
Ketika dibukanya pintu itu, terlihat dari depan pintu para gadis yang rupawan, dengan body penuh menawan, baris-membaris membentuk pagar betis di sepanjang lorong menuju ke dalam ruangan. Semuanya mengenakan pakaian berwarna merah dengan stelan ketat, menambah indah pesona para gadis. Tidak lupa pula, badan mereka telah dilumuri wangi-wangian yang semerbak.
Bapa tua pun melangkah penuh pasti, tanpa ragu dan penuh kagum. Dalam hati ia bergumam, “alangkah bodohnya mereka yang di bumi, menghindari nikmat tiada tara di tempat ini.”
Sampai di penghujung ruangan ia disambut dengan keramaian. Semua orang terlihat bersukacita, bergembira, bermegah tanpa henti. Di atas meja, tersedia begitu banyak minuman penuh nikmat. Pemandangan itu menambah rasa suka dan bahagia dalam diri si bapa tua. “Ah…alangkah bahagianya aku berada di tempat ini”. gumamnya dalam hati.
Tanpa disadari oleh si Bapa Tua, ternyata, ramai itu adalah selebrasi atas hari ulang tahun neraka yang kesekian juta tahun. Tujuh hari pesta itu berlangsung. Dan si Bapa tua, muncul di hari pertama, sehingga ia mengikuti nikmatnya pesta itu dari awal hingga akhir.
Setelah tujuh hari berlalu, Bapa Tua merasakan suasana yang aneh dan berubah. Dari suasana ramai, indah, megah dan mempesona menjadi perlahan sunyi, seram dan mencekam. Suhu udara tidak lagi dirasa nikmat. Setiap tarikan nafas selalu ada rasa panas yang mencekik nan menyekit rongga hidung dan tenggorokan. Kulit terasa disentuh bara api, ubun-ubun terasa direbus dalam kuali.
Tidak tahan akan situasi itu, si Bapa Tua kembali menghadap si Petrus penjaga pintu. Melihat si Bapa Tua, si Petrus berkata:
“ada apa lagi dengan engkau ini”
“aeh petrus…di sana sudah sangat tidak nyaman. Saya seolah dipanggang dan dibakar dalam bara dan kobaran api”, kata si Bapa Tua dengan muka geram.
“hahahaha,….saya kan sudah beri peringatan sebelumnya kepada engkau. Engkau sendiri yang kukuh dan kokoh pada pendirianmu.” Kata si Petrus, sambil mengenang kembali isyarat yang telah disampaikannya.
“Petrus, saya mau masuk ke pintu sisi kanan itu, barangkali di sana ada nikmat dan damai seperti yang diwartakan oleh para pastor di bumi.” Pinta si bapa tua.
“Tidak bisa!” tegas petrus. “Engkau sudah tanda tangani surat pernyataan sebelumnya. Tidak ada lagi kesempatan dan konpensasi lagi untuk engkau”.
Mendengar kata Petrus yang penuh kuasa tanpa kompromi, si Bapa Tua perlahan mendekati si Petrus. Dengan suara bisik, ia berkata
“Kalau kau tidak memberikan kunci pintu itu, nanti saya akan kasih tahu ke seluruh umat manusia, bahwa engkau adalah orang yang menyangkal Yesus sebanyak tiga kali.”
Seketika itu, Petrus kaget dan terkejut.
Bagaimana mungkin bapa tua ini mengetahui rahasia pilu nan memalukan itu. Padahal rahasia itu hanya diketahui oleh aku dan Tuhan sendiri. Orang ini pasti pengikut Kristus. Pikir Petrus dalam hatinya.
Dengan penuh hormat, Petrus pun memberikan kunci itu kepada si bapa tua.
Si bapa tua melangkah menuju pintu. Dibukanya pintu itu dengan mudah. Dari depan pintu, keadaannya cukup tenang tanpa hiruk pikuk. Tidak ada sambutan meriah. Tidak ada barisan para gadis dengan rupa dan wangi yang menawan. Semakin jauh melangkah, semakin sunyi dan sepi tempat itu. Sejauh mata memandang, tidak ada satu pun orang yang terlihat. Tempat itu kosong, tidak ada penghuninya sama sekali. Dalam hati, bapa tua mulai berpikir dan bertanya,
Selama ini semua orang telah dibodohi. Ceramah para pastor, ternyata omong kosong belaka. Tidak ada pertemuan penuh sukacita di sini. Tidak ada kebahagiaan abadi di sini. Tidak ada canda tawa tanpa beban. Tidak ada komunikasi. Bagaimana orang dapat saling berkomunikasi, menjalin kasih dan merasa nikmat akan persaudaraan jika tidak ada perjumpaan dengan yang lain.
Dengan penuh amarah, ia kembali ke Petrus, meminta Petrus untuk mengirimnya kembali ke dunia. Tanpa berkomentar, Petrus mengirimnya kembali ke dunia.
Di dalam hati Petrus bergumam, Alangkah dangkalnya imanmu hai bapa tua. Tidakkah engkau tahu bahwa Tuhan berkenan kepada mereka yang tidak melihat namun percaya.
Belakangan baru diketahui, ternyata semua orang yang berada di dalam pintu bagian kanan itu sedang menghadiri undangan daru sanak saudara mereka yang masih hidup di dunia, mengingat waktu itu adalah tahun Baru.

