Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»VOX POPULI»MAHASISWA»Kuliah Guru, Tidak Harus Menjadi Guru
MAHASISWA

Kuliah Guru, Tidak Harus Menjadi Guru

By Redaksi19 Januari 20223 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Direktur SG Institut, Stefanus Gandi saat membawakan materi pada seminar bertajuk 'peluang kerja di era digital' di Prodi PGSD Unika Ruteng, Rabu (19/01/2022)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Ruteng, Vox NTT- Stefanus Gandi (SG) Institut dan Parennial Institut menggelar seminar di Program Studi PGSD Unika St. Paulus Ruteng, Rabu (19/01/2022).

Seminar bertajuk ‘peluang kerja di era digital’ ini menghadirkan tiga narasumber. Ketiganya yakni, Direktur SG Institut Stefanus Gandi, Jurnalis senior sekaligus asesor jurnalis nasional Emanuel Dewa Oja, Keprodi PGSD Unika St. Paulus Ruteng Mikael Nardi.

Direktur SG Institut, Stefanus Gandi, dalam materinya di hadapan ratusan mahasiswa mengatakan, di era perkembangan teknologi yang kian pesat persaingan dunia kerja tentu saja semakin ketat.

Saat ini, setiap orang dituntut dan dipaksakan untuk berinovasi, berpikir cepat, dan kreatif agar mampu bersaing dengan orang-orang yang sudah melek teknologi.

“Jadi, tidak harus menjadi guru kalau kuliah guru, banyak lapangan kerja yang terbuka lebar di luar sana. Salah satunya dengan memanfaatkan perkembangan digital dan teknologi dan itu sangat terbuka lebar,” kata Stefan.

Ia juga menyentil tentang animo kebanyakan mahasiswa di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang setelah tamat kuliah ingin menjadi PNS dan pegawai honorer.

Stefan kemudian mengajak agar bangkit keluar dari cara berpikir demikian. Para sarjana hendaknya tidak terpaku pada pendidikan formal yang didapatkan di bangku kuliah.

“Di kota-kota besar banyak lapangan kerja terbuka lebar, tidak terpaku hanya hanya pada perkembangan pada diri kita. Kalau di kota-kota tawaran pekerjaan itu banyak, kita berlomba-lomba beradaptasi dengan dengan perkembangan teknologi,” pungkas Direktur Indojet Aviasi di Bali itu.

Di kota, lanjut dia, setiap orang biasanya melihat peluang kerja dari segala sisi. Mereka tidak terpaku pada pengetahuan akademik.

“Jadi, apa yang kita belajar di bangku kuliah belum tentu bekerja pada sektor yang sama,” katanya.

Ia juga mengajak agar para mahasiswa bisa membangkitkan rasa percaya diri dan tidak minder untuk bersaing dengan orang-orang yang sudah memanfaatkan teknologi dengan baik.

“Ketika kita minder peluang kita sudah tidak ada. Kalau kita sudah menguasai teknologi tidak harus memanfaatkan sepenuhnya kekuatan tenaga manusia,” katanya.

Sementara itu, Keprodi PGSD Unika St. Paulus Ruteng Mikael Nardi mengatakan, seorang sarjana memang dituntut untuk memiliki sikap dan karakter kewirausahaan.

Keprodi PGSD Unika St. Paulus Ruteng Mikael Nardi

Manajemen kewirausahaan, kata dia, juga bisa dipakai dalam manajemen sekolah. Di tengah persaingan yang cukup ketat ini pun seorang guru dituntut untuk kreatif dan bisa memanfaat semua sumber menjadi media pembelajaran.

“Lima 5 tahun lalu lulusan PGSD ketika kami survei ke lapangan cukup bagus penyerapannya. Namun belakangan ada kecemasan, kecemasan itu yakni karena daya serap kian menurun,” kata Nardi.

Karena itu, seminar tentang ‘peluang kerja di era digital’ tersebut menjadi kesempatan berharga untuk mencari peluang lain untuk bekerja.

Itu seperti membuka bisnis dengan konsep ekonomi digital. Konsep bisnis antara lain mengubah konsep konvesional menjadi ekonomi digital. Seluruh aktivitas bisnis memanfaatkan perangkat terhubung internet.

Ekonomi digital tersebut tentu saja lebih unggul dalam efisiensi waktu dan ruang ketimbang ekonomi konvensional.

Penulis: Ardy Abba

Kabupaten Manggarai Stefan Gandi UNIKA Santu Paulus Ruteng Unika St. Paulus Ruteng
Previous ArticleTuhan Sudah Mati dan Dimatikan Lagi
Next Article Yeni Veronika Desak Pemprov NTT Turun Tangan Bersihkan Material Longsor di Jalur Golo Welu – Noa

Related Posts

KemenHAM Serap Aspirasi Warga dalam Sosialisasi Penguatan HAM di Tiga Desa Manggarai Raya

25 Juni 2026

Undhira Bali Pertahankan Tradisi Ibadah Rabuan untuk Perkuat Karakter dan Spiritualitas Civitas Akademika

24 Juni 2026

Palma Hill Gelar Pelatihan Public Speaking untuk Anak di Kupang

15 Juni 2026
Terkini

Usut Dugaan Intimidasi Dokter Icha, Polres TTU Diminta Bergerak Cepat dan Transparan

28 Juni 2026

Pemuda Katolik NTT Dukung Investigasi Kematian Dokter Icha, Desak BK DPRD TTU Gelar Sidang Etik

28 Juni 2026

Upah Kebajikan: Melestarikan Kehidupan dan Mati Bagi Dosa

28 Juni 2026

Fransisco Bessi Kembali Terpilih Aklamasi Pimpin Taekwondo NTT

27 Juni 2026

Soroti Kasus Dokter Icha, Tenaga Ahli Menteri HAM Desak Pemeriksaan Anggota DPRD TTU

27 Juni 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.