Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Dewa Damai: Antologi Puisi Sony Bandung
Sastra

Dewa Damai: Antologi Puisi Sony Bandung

By Redaksi19 Maret 20222 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Dewa Damai

Di penghujung malam ini
Izinkanlah rindu ini terlelap dalam pelayaran malammu
Di penghujung malam ini
Izinkanlah mimpi yang tak sempat ku raih
Menyingsing bersama senyummu esok pagi
Di penghujung malam ini
Izinkanlah mahligai batinku
Merangkul kembali amarahku dalam kata “Maaf”
Sekali lagi dan lagi
Izinkanlah aku menjadi dewa damai

Untuk Kau yang di Sana

Aku di sini kehilangan jari jemari
Menghabiskan tinta nadiku
Mengukir dalam segala
Merangkul jiwamu di antara bebatuan
Menjahit kenangan bersama semilir angin
Kau pun tahu
Aku pernah berontak
Mengapa Tuan rumah
Lebih betah dengan senyummu dan bukan tangisku?
Tanya

Malaikat di Perantauan

Aku merilis rindumu
Bersama sajak-sajak yang merana
Menjahit senyummu yang kian pudar
Pun di kemarau
Mataku perih menahan ombak tangis
Terbayang istana bahagia kala itu
Sampai kapan aku meniduri sunyi
Temaram rembulan tak lagi sejuk
Aku di sini
Sesak mengukir jejak
Pedang makin rentan menenangku
Malaikat di perantauan
Masih pantaskah aku mengenangmu
Walau engkau tak pantas untuk dikenang?
Tanya

Pergimu

Siapa sangka
Ternyata
Pergimu adalah kebahagiaanku
Karena aku lebih bebas
Bersajak tentang dustamu

Tergolong Dewasa

Rindu ini tergolong dewasa
Mengingat aku telah belajar
Menjadi penjala egomu
Raga terlampau manja
Bermandikan keabaian
Lantas kubertanya
Kapankah kita bebas memuja cinta
Setelah rohnya kita bisukan?

Catatan : Puisi-puisi ini pernah dibukukan, dengan judul “Malaikat di Perantauan”

Sony Bandung (Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang)

 

Sony Bandung
Previous ArticleCatatan Hari ke-23 Serangan Rusia ke Ukraina
Next Article Kedapatan Bawa Narkoba, Pemuda di Mabar Terpaksa Diringkus Polisi

Related Posts

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026
Terkini

Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membentuk Generasi Remaja Berintegritas

7 Maret 2026

Tuhan sebagai Gembala dan Bapa Yang Penuh Belaskasih dan Mengampuni 

7 Maret 2026

Surat Cinta untuk Mama

7 Maret 2026

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.