Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»KOMUNITAS»Pelatihan Negosiasi Sejalan dengan Spirit Arnoldus Wea Foundation Membangun Manusia Muda
KOMUNITAS

Pelatihan Negosiasi Sejalan dengan Spirit Arnoldus Wea Foundation Membangun Manusia Muda

By Redaksi22 Juni 20223 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kegiatan pelatihan teknik dasar negosiasi oleh Arnoldus Wea Foundation
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Bajawa, Vox NTT- Sejumlah kaum muda di Bajawa, Kabupaten Ngada, Provinsi NTT, pada Sabtu (18/06/2022), mendapat pelatihan dasar negosiasi dari Jurusan Hubungan Internasional UPN Veteran Yogyakarta dan Arnoldus Wea Foundation.

Kaum muda yang mengikuti pelatihan ini terdiri dari beragam komunitas dan institusi partai politik, birokrasi, PMKRI Ngada, Orang Muda Katolik, Langa Traccking Community, Kampus STIPER-FB, Aktivis Gereja dan Mahasiswa.

Menurut Arnoldus Wea, Co-Founder Yayasan AW Dhegha Nua,  negosiasi merupakan proses tawar-menawar dengan jalan berunding guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak dengan pihak lain baik individu, kelompok ataupun organisasi tertentu.

Kemampuan bernegosiasi penting dalam setiap proses kehidupan sehari-hari. Karena itu, negosiasi menjadi kian dibutuhkan.

“Pihak-pihak yang berunding baik untuk bekerja sama maupun menyelesaikan sebuah sengketa, kerap kali berhadapan dengan berbagai kendala. Akibatnya, kerja sama tidak dapat terjalin, sengketa tidak dapat diselesaikan,” ulasnya.

Arnold mengatakan negosiasi sekalipun efektif tetap memiliki teknik-teknik.

Bagi Arnold, kaum muda sebagai sasaran utama dalam pelatihan ini sejalan dengan spirit Arnoldus Wea Foundation yakni membangun manusia muda.

Selaku penyelenggara, Arnoldus Wea berharap pelatihan ini akan bermuara pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) terkhusus kaum muda sebagai agen perubahan.

“Negosiator juga membutuhkan semacam panduan. Kebutuhan akan panduan ini kiranya juga penting karena tak jarang negosiator itu sendiri menemui jalan buntu. Atas dasar inilah, Jurusan Hubungan Internasional UPN Veteran Yogyakarta dan kami terpanggil untuk menyelenggarakan pelatihan teknik dasar negosiasi untuk kaum muda, yang diharapkan IPM juga meningkat apalagi pemuda sebagai agen perubahan,” kata Arnoldus.

Para peserta pelatihan sangat antusisas mengikuti pelatihan dan mengaku senang bisa mendapatkan pelatihan secara gratis yang selama ini mungkin jauh dari perhatian walaupun kelihatannya sederhana.

“Saya masih mahasiswa dan senang sekali dapat mengikuti pelatihan ini. Saya belajar banyak hal terkait negosiasi, berdiskusi, dan bertemu banyak teman yang punya semangat yang sama. Terima kasih kepada kedua fasilitator dan penyelenggara pelatihan ini. Semoga kegiatan-kegiatan serupa ini dapat terus diagendakan,” ungkap Reinaldus Sue salah satu peserta pelatihan itu.

Sebagai fasilitator dalam pelatihan itu, Dr. Iva Rachmawati mengungkapkan negosiasi sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Negosiasi menjadi jalan berunding yang efektif untuk menghindari dan mencegah konflik yang tidak perlu.

“Konflik selalu mungkin muncul dalam keseharian hidup. Negosiasi amat dibutuhkan agar konflik juga kerja sama lainnya dapat teratasi atau terjalin dengan damai dan baik. Teman-teman kaum muda yang hadir dalam pelatihan ini, diharapkan mampu menjadi negosiator dan agen perdamian,” tuturnya.

Sedangkan fasilitator lain, Dr. Nikolaus Loy mengungkapkan negosisasi sangat dibutuhkan dalam merundingkan jual beli atau kerja sama bisnis lain, membangun kesepakatan dan kerja sama lain, dan membangun kesepahaman dalam hidup sehari-hari. Setiap orang dapat menjadi negosiator untuk diri sendiri atau mewakili orang lain.

“Dalam menjalin sebuah kerja sama, misalkan, negosiasi amat diperlukan untuk sampai pada kesepakatan yang tepat. Dalam sebuah konflik atau sengketa, lain misal negosiasi sangat dibutuhkan demi mencapai penyelesaian dengan cara damai,” pungkas Nikolaus.

Penulis: Ronis Natom
Editor: Ardy Abba

Ngada
Previous ArticleDianggap Meresahkan, DPRD TTU Minta Camat “Tertibkan” Pelaku Pungli Bermodus Mendata Bantuan Rumah
Next Article Penggunaan Dana Desa Mosi Ngaran Diduga Bermasalah, Warga Mengadu ke Bupati Matim

Related Posts

PADMA Indonesia Desak Pemkab dan DPRD Ngada Dukung Autopsi Forensik Kasus Kematian YBS

15 Februari 2026

Romo Julivadis Tanto: Fasilitator Katekese Bukan Penguji Umat, tetapi Sesama Peziarah Iman

14 Februari 2026

Satu Lagi Warga Ngada Meninggal Akibat Bunuh Diri

13 Februari 2026
Terkini

Imigrasi Labuan Bajo Gelar Sosialisasi Bersama Desa Binaan di Kabupaten Manggarai, Cegah TPPO dan TPPM

7 Maret 2026

Demokrat Kritik Bawaslu NTT Soal Pelanggaran Pemilu 2024

7 Maret 2026

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.