Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Sastra»Bertaut: Antologi Puisi Guidella Arisona
Sastra

Bertaut: Antologi Puisi Guidella Arisona

By Redaksi31 Agustus 20222 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Bertaut

Pijakan kakiku semakin kokoh menancap
Saat sesekali mataku membelalak menyaksikan lekukan kecil mengembang
Terukir di bibirmu yah
Langkahku semakin tegap saat sesekali kupingku mendengar suara lantang penuh harap darimu untukku
Seperti bertaut..
Dari peraduan kumal kau membuatku belajar
Cita-cita dan harap harus diasah dengan batu kumal
Hingga suatu saat menjadi kuat
Darimu aku belajar karang yang kokoh tercipta dari hempasan ombak yang beberapa menerpa mengenai tubuhnya

Kau tak meminta sesuatu kembali
Dari segala yang kau beri
Hanya citaku
Cukup citaku
Senantiasa
Kau pun tahu aku berdiri di sini pun karenamu
Bukan karena dia ataupun mereka
Melainkan cintamu senantiasa

Menggugat Pulang
Guidella Arisona

Ribuan purna sudah tak jumpa jua
Tak jua bersenda gurau
Walau lewat suara juga coretan pena
Pantas saja lupa

Barangkali karena tak lagi sama
Tak lagi sedekat nadi
Atau mungkin
Tak lagi sehangat mentari yang menyapa pagi

Seumpama barisan kata sudi menguar dari lidah keluhmu
Pasti aku takakan terbelenggu sepi
Saat kening begitu piluh
Menembus relung yang terkurung sunyi
Aku terlalu rapuh untuk mengingat-ingat
Tak terlalu pandai mengurai kisah itu
kisah yang kau sebut lama

Luka nampaknya terlalu pandai memporak-porandakan lupa tanpa pamit pula
Seperti begitu lihai
Tameng lara yang kau cipta terlalu menjulang
Tak terlewati meski telahku terobos beberapa kali
Luka kini telah kukubur bersama lupa
Hanyut dalam arus pasrah
Merelakan adalah wujud nyata menggugat pulang
Menolak tuk kembali bercengkrama

Gugur Rasa

Tintaku masih ingin kupakai
Sekali lagi
Belum usai
Ceritaku belum usai

Meski kerapkali tanganmu dengan lihainya menarik paksa
Kita hanya sebatas angan
Meski lidah dustamu
Beberapa kali melumat, mengucap kata Mesra

Ketahuilah rasaku telah gugur
Balada anganku telah mati
Rasaku tak ingin lagi kupakai
Kali ini logikaku
Yah, kuyakin logikaku lebih lihai dalam hal menerka

Guidella Arisona
Previous ArticleRelawan PDIP Jadi Tersangka Dugaan Penipuan Berkedok Bantuan, Polisi Didesak Cari Aktor Intelektual
Next Article Metro Tersingkir dari Turnamen Camat Reok Cup, Kapten Pesawat FC Menangis Bahagia

Related Posts

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Pendoa Bermata Biru

23 Februari 2026

Pilu yang Tidak Pernah Sembuh

3 Februari 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.