Kupang, Vox NTT – Tim Penyidik Tindak Pidana Korupsi (Tipidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berupaya menuntaskan kasus dugaan korupsi yang melibatkan penyimpangan dalam Pembelian Medium Term Notes (MTN) atau Surat Hutang Jangka Menengah oleh Bank NTT pada tahun 2018 dari PT Sunprima Nusantara Pembiayaan.
Terbaru, Tim Penyidik Kejati NTT berhasil menyita uang sebesar Rp108.000.000 (seratus delapan juta rupiah) dari Moerad Radjasa, mantan Direktur PT Bina Artha Sekuritas.
Penyitaan ini dilakukan sebagai bagian dari proses penyidikan terkait dugaan tindak pidana korupsi dalam pembelian MTN oleh PT. Bank NTT pada tahun 2018.
Dalam keterangan tertulis yang disampaikan oleh Kejati NTT, dijelaskan bahwa penyidikan ini merujuk pada beberapa Surat Perintah Penyidikan yang telah dikeluarkan, yakni Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Tinggi NTT Nomor: Print-350/N.3/Fd.1/05/2024 tanggal 31 Mei 2024, Surat Perintah Penyidikan Nomor: Print-697/N.3/Fd.1/10/2024 tanggal 30 Oktober 2024, Surat Perintah Penyidikan Nomor: Print-15/N.3/Fd.1/01/2025 tanggal 20 Januari 2025, dan Surat Perintah Penyitaan Nomor: Print-85/N.3/Fd.1/02/2025 tanggal 11 Februari 2025.
Moerad Radjasa sebelumnya telah diperiksa sebagai saksi oleh Tim Penyidik Kejati NTT sekitar dua pekan yang lalu.
Pada Selasa, 25 Februari 2025, Moerad Radjasa secara sukarela menyerahkan uang sebesar Rp108.000.000 kepada penyidik sebagai bagian dari upaya untuk mengembalikan kerugian negara yang timbul akibat penyimpangan tersebut.
Uang yang berhasil disita oleh Tim Penyidik Kejati NTT telah dititipkan di rekening titipan Kejati NTT pada Bank BNI.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya Kejati NTT dalam mengamankan aset negara dan menindak tegas praktik korupsi di wilayah NTT.
Kepala Kejaksaan Tinggi NTT, Zet Tadung Allo menegaskan, penyitaan ini merupakan langkah penting dalam proses hukum yang sedang berlangsung, serta bukti nyata komitmen Kejati NTT dalam pemberantasan korupsi.
“Penyitaan uang ini adalah bukti konkret bahwa Kejati NTT terus bergerak maju dalam mengungkap dan menindak kasus korupsi sebagai upaya memulihkan keuangan negara yang terdampak akibat tindak pidana korupsi. Kejati NTT akan terus bekerja maksimal untuk mengungkap dan menindaklanjuti perkara ini,” ujar Zet.
Keberhasilan ini, menurut Zet, juga menunjukkan bahwa Kejati NTT bekerja secara profesional dan transparan dalam menangani kasus korupsi besar yang merugikan negara.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung upaya pemberantasan korupsi dengan melaporkan dugaan tindak pidana korupsi yang terjadi di lingkungan sekitar.
“Melalui kerja sama dengan masyarakat, kita bisa lebih efektif dalam memberantas korupsi dan menjaga keuangan negara agar tetap aman,” tambahnya.
Penulis: Ronis Natom