Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Regional NTT»Empat Rumah Tak Dialiri Listrik, Anton Wangge Paksa Petugas PLN Hadir di Tengah Reses
Regional NTT

Empat Rumah Tak Dialiri Listrik, Anton Wangge Paksa Petugas PLN Hadir di Tengah Reses

By Redaksi16 Maret 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Kepala PLN Kantor Jaga Kotakeo saat memberikan tanggapan di hadapan Anggota DPRD Nagekeo, Anton Sukadame Wangge saat reses di Kota Keo 1 (Foto: Patrianus Meo Djawa/ VoxNtt.com)
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Mbay, Vox NTT – Hujan deras yang mengguyur tak menyurutkan semangat warga Desa Kota Keo 1 untuk menghadiri reses anggota DPRD Nagekeo, Anton Sukadame Wangge, pada Kamis, 13 Maret lalu.

Tak hanya sekedar menyerap aspirasi, reses yang digelar di titik keempat ini telah menjadi momentum terpecahkannya persoalan listrik yang selama ini dikeluhkan warga, di mana, di tengah suasana dialog, Anton Wangge tiba – tiba meminta warga mencari dan menghadirkan langsung petugas PLN untuk menjawab keluhan masyarakat terkait akses listrik.

Kejadian ini bermula ketika seorang wanita berdiri dan meminta kesempatan berbicara dengan mata berkaca-kaca.

Ia bercerita tentang kondisi rumah orang tuanya yang sederhana, di mana hanya kedua orang tua itu yang tinggal di sana.

Meski rumah mereka sudah memiliki meteran listrik namun tidak ada pengaman arus listrik yang terpasang disana .

“Bantu kami, Bapak. Bapak dan Mama saya harus tekan langsung di meteran kalau mau hidup atau matikan listrik. Saya takut terjadi apa-apa,” ucapnya, menitikkan air mata di hadapan Anton Wangge.

Keluhan itu sontak membuat suasana hening. Warga yang hadir seolah ikut merasakan kekhawatiran seperti wanita itu, termasuk Anton.

Tak hanya wanita itu, Marsianus Depo, seorang warga lain, juga menyampaikan persoalan serupa.

Di RT 04 Dusun Lokalabo, terdapat empat kepala keluarga yang sejak Indonesia merdeka belum pernah menikmati listrik PLN.

“Kabel listrik ada melintas di depan rumah kami, Bapak, tapi kami tidak bisa pasang meteran. Alasannya karena kabel hitam tidak ada,” ujar Marsianus, menggambarkan betapa sulitnya mereka mendapatkan akses listrik meski tiang dan kabel PLN sudah berada di sekitar rumah mereka.

Mendengar keluhan demi keluhan itu, Anton Wangge tak tinggal diam. Ia merasa bahwa persoalan listrik di desa ini tidak bisa hanya menjadi sekadar catatan reses yang akan ditindaklanjuti kemudian. Harus ada jawaban langsung dari pihak PLN.

Tak ingin menunda-nunda, Anton Wangge langsung meminta salah satu warga untuk mencari Kepala PLN Kantor Jaga Kota Keo, Baltasar Yohanes Leu.

Permintaannya sederhana: petugas PLN harus hadir di lokasi reses dan menjawab langsung keluhan masyarakat.

Tak berselang lama, Baltasar tiba di lokasi dan berdiri di hadapan warga. Dengan wajah penuh harap, masyarakat menanti jawaban yang bisa memberi kepastian terhadap nasib mereka.

Baltasar menjelaskan bahwa semua permohonan pemasangan listrik baru akan selalu direspons oleh PLN, tetapi ada prosedur yang harus diikuti.

Warga yang ingin mendapatkan listrik harus mengajukan surat permohonan ke pimpinan PLN ULP Bajawa.

Setelah surat diterima, PLN akan melakukan survei untuk memastikan kelayakan pemasangan dan mencari vendor yang bisa mengerjakan proyek tersebut.

“Tanpa surat permohonan, kami tidak bisa bergerak. Prosesnya harus dimulai dari administrasi,” tegas Baltasar.

Mendengar penjelasan itu, Anton Wangge langsung meminta masyarakat untuk segera menyusun surat permohonan agar tidak ada lagi alasan keterlambatan dari pihak PLN.

Ia juga menegaskan, dirinya akan mengawal proses ini hingga warga benar-benar mendapatkan akses listrik.

Tak hanya itu, sebagai bentuk kepedulian, Anton Wangge juga memberikan bantuan sebesar Rp 500 ribu kepada pihak PLN untuk mempercepat perbaikan pengamanan listrik di rumah orang tua wanita yang sebelumnya menangis. Bantuan ini diserahkan langsung di depan warga sebagai bukti nyata kepeduliannya.

Kesepakatan pun tercapai, warga akan mengurus surat permohonan, PLN akan melakukan survei, dan bantuan pengamanan listrik akan segera direalisasikan.

Penulis: Patrianus Meo Djawa

Anton S. Wangge Anton Sukadame Wangge DPRD Nagekeo Nagekeo
Previous ArticleSK Lokasi Geotermal Poco Leok Dinilai Sangat Prematur
Next Article DPR RI Didesak Panggil Mendagri dan Gubernur NTT terkait Proyek Geotermal Poco Leok

Related Posts

Rumah Harapan untuk Regina Uner di Cibal Barat Rampung 100 Persen

6 Maret 2026

Perjuangan Mama Martina, Banting Tulang untuk Hidupi Keluarga sembari Rawat Suami Stroke

5 Maret 2026

RSUD Aeramo Luncurkan Inovasi Layanan “Bahagia Kita”

4 Maret 2026
Terkini

Cerpen: Mata Tua di Tubuh Bayi Bole Wote

6 Maret 2026

Tanah Ulayat, Identitas, dan Derita Sosial

6 Maret 2026

Desa Golo Riwu Tetapkan APBDes Tahun Anggaran 2026, KMP dan MBG Jadi Fokus Utama

6 Maret 2026

Rote Ndao Siap Jadi Tuan Rumah Selancar Ombak PON 2028

6 Maret 2026

Polres Manggarai Limpahkan Dua Tersangka Kasus Narkotika ke Kejaksaan

6 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.