Ruteng, VoxNTT.com – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) telah merancang sebuah terobosan digital baru pada tahun 2025, yakni aplikasi Laporan Kerusakan Jaringan Irigasi (Larisa).
Aplikasi ini dirancang khusus oleh bidang Sumber Daya Air (SDA) untuk menjawab sistem pelaporan kerusakan irigasi secara bertahap dan berjenjang.
Kepala Bidang SDA, Erik Gual menjelaskan, lambatnya pelaporan kerusakan jaringan irigasi selama ini karena sistemnya masih secara manual sehingga sebagian petani ataupun kelompok tani enggan melapor kerusakan irigasi.
Tetapi sekarang sudah praktis, petani bisa melaporkan langsung lewat aplikasi Larisa ini.
Erik menjelaskan, cara kerja aplikasi Larisa ini adalah dengan memanfaatkan platform Tally.so dan penyimpanan berbasis google drive.
Aplikasi ini, kata Erik, memungkinkan pengguna di lapangan, seperti petani untuk melapor kerusakan dengan cepat melalui form yang mencakup kolom jenis kerusakan, lokasi, waktu kejadian, kronologis dan bukti dokumentasi.
“Larisa hadir sebagai bentuk solusi digital untuk menjembatani persoalan kerusakan irigasi dengan mengedepankan pendekatan kolaboratif dan partisipatif berbasis teknologi,” jelas Erik dalam keterangannya, Kamis, 10 Juli 2025.
Erik mengatakan, permasalahan utama yang melatarbelakangi hadirnya aplikasi ini adalah tingginya jumlah kerusakan irigasi yang dominan disebabkan karena faktor alam, seperti longsor dan banjir ataupun karena faktor usia infrastruktur dan minimnya anggaran perawatan.
“Dengan hadirnya aplikasi ini dapat mempercepat kordinasi lintas tim dan meningkatkan responsivitas kerusakan agar cepat mengambil keputusan serta menyusun prioritas penanganan,” jelas Erik.
Petani di Reo, Hendrikus, sangat mengapresiasi peluncuran aplikasi baru ini.
Ia berharap aplikasi ini dapat bekerja lebih cepat untuk menangani kerusakan irigasi agar para petani merasa terbantu.
Selama ini, Hendrikus mengaku, kerusakan irigasi di wilayahnya kerap luput dari perhatian pemerintah hingga membuat sejumlah lahan pertanian tidak mampu menyerap air dengan baik.
“Kadang konstruksinya pecah hingga air keluar ke jalan, kadang pembuangannya kurang bagus membuar air tak lancar, dan berbagai kerusakan lainnya yang kami temukan di lapangan, tetapi jarang sekali ada tindak lanjut bahkan kami petani sendiri yang perbaiki,” kata Hendrikus.
Karena itu pihaknya menyambut baik peluncuran aplikasi ini dan berharap kerusakan irigasi dapat dilaporkan secara berjenjang untuk segera mendapat tindak lanjut.
Penulis: Berto Davids

