Oleh: Pater Darmin Mbula, OFM
Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)
Sekolah Rakyat (SR) seharusnya hadir bukan hanya sebagai tempat belajar membaca, menulis, dan berhitung.
SR sebagai ruang hidup yang mendalam, berkesadaran, bermakna dan bergembira bagi anak-anak gelandangan, keluarga miskin ekstrem, manausia gerobak, anak tukang sampah sebagai konstruksi ketidakadilan sosial dan kegagalan kebijakan pendidikan nasional yang berawatak komersialisasi pendidikan.
Pendidikan bagi mereka tidak bisa disamakan dengan pendekatan formal biasa bukan pula sekolah luar biasa hebat sebab mereka datang dari realitas keras dan penuh luka sosial ekologis, korban ketidakadilan sosial yang struktural, sistematis dan masif.
Sekolah Rakyat (SR) harus menyentuh sisi kemanusiaan yang lebih dalam untuk memberikan pengakuan sebagai warga bumi manusia, rasa aman, dan harapan kepada anak-anak yang selama ini tersisih dari kebijakan pendidikan berkualitas unggul untuk semua.
Ini bukan sekadar proses belajar, melainkan upaya menyembuhkan luka sosial dan mempertemukan anak-anak itu dengan jati dirinya yang utuh demi peradaban cinta persaudaraan manusia semesta.
SR itu ada dan hadir di bumi Nusantara demi membuat wong cilik bisa tersenyum bahagia berkelanjutan.
Bukan Sekolah Laptop
Sekolah rakyat adalah sekolah yang baik, benar, indah dan hening karena berpihak pada kemanusiaan, memerdekakan anak-anak dari belenggu ketertinggalan, ketidakadilan, dan stigma sosial, bukan sekolah laptop yang elitis, yang hanya melayani mereka yang sudah punya akses dan kemampuan.
Sekolah rakyat tidak mengejar kecanggihan teknologi sebagai tujuan utama, melainkan menumbuhkan martabat, keberanian berpikir, dan kesadaran sosial.
Bukan pula sekolah terakhir, sekolah buangan dari kumpulan yang terbuang dengan diurus seadanya saja.
Ia hadir di tengah rakyat, menyapa anak-anak miskin dan terpinggirkan dengan pendekatan yang membumi, bukan dengan jargon digital yang sering kali asing dan tak relevan bagi kehidupan mereka.
Di sinilah letak kemuliaannya: mendidik manusia, bukan sekadar mencetak pengguna teknologi.
Menurut pandangan para pakar pendidikan kritis seperti Paulo Freire dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed, Sekolah rakyat bukanlah sekolah laptop karena esensi pendidikan sejati bukan terletak pada alat atau teknologi, melainkan pada pembebasan kesadaran dan pembentukan manusia merdeka.
Freire menolak model pendidikan “bank” yang bersifat satu arah dan mekanistik di mana peserta didik dipandang sebagai wadah kosong untuk diisi, mirip dengan pendekatan teknologi yang sering menggantikan relasi kemanusiaan dengan perangkat.
Sekolah rakyat, dalam semangat Freire, adalah ruang dialogis dan transformatif yang membangun kesadaran kritis (conscientization), membebaskan rakyat dari struktur penindasan, dan tidak terjebak dalam glorifikasi digitalisasi tanpa keadilan sosial.
Lebih dari sekadar pemberian bantuan sosial, pendidikan dalam konteks ini harus benar-benar memerdekakan.
Artinya, sekolah rakyat harus membebaskan mereka dari belenggu stigma, ketertinggalan, dan determinasi nasib karena kemiskinan struktural.
Anak-anak yang hidup di jalanan atau dalam kondisi kekurangan berat tidak bisa diminta untuk “mengejar kurikulum” sebagaimana anak-anak pada umumnya, tanpa terlebih dahulu dimanusiakan.
Sekolah rakyat harus mengajarkan keberdayaan: membangun rasa percaya diri, menumbuhkan keberanian untuk bermimpi, dan menanamkan bahwa mereka berhak atas masa depan yang lebih baik. Inilah bentuk nyata dari pendidikan yang merdeka dan memerdekakan.
Bukan Sekolah Terakhir
SR bukan sekolah terakhir, bukan sekolah buangan, tetapi sekolah punya tujuan akhir demi memuliakan martabat manusia.
Sekolah rakyat adalah perwujudan nyata dari keadilan sosial karena ia berpihak pada kelompok yang paling terpinggirkan yakni anak-anak dari keluarga miskin, gelandangan, dan masyarakat marjinal lainnya.
Alih-alih mengejar label “bertaraf internasional” yang seringkali elitis dan berbiaya tinggi, sekolah rakyat hadir untuk memastikan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang sosial-ekonominya, mendapatkan hak pendidikan yang bermutu dan bermakna.
Ini sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam bukunya Pendidikan yang menekankan bahwa pendidikan harus memerdekakan dan melayani kebutuhan hidup rakyat, bukan hanya segelintir elite.
Sekolah rakyat adalah ruang pembentukan karakter bangsa, tempat nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab benar-benar dihidupkan dalam praksis sehari-hari.
Dalam semangat demokrasi dan keberadaban, sekolah rakyat mendorong partisipasi aktif, dialog, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Ia bukan tempat yang menstandarkan anak dengan ujian global atau ranking berkelas dunia, tetapi ruang yang menghidupkan budi pekerti, gotong royong, dan kesadaran kolektif.
Paulo Freire dalam Pedagogy of Freedom menyatakan bahwa pendidikan yang membebaskan tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai etika, keberanian berpikir, dan cinta kepada sesama.
Sekolah rakyat adalah medan praksis nilai-nilai tersebut yang mampu membangun manusia yang cerdas, berakhlak mulia, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Lebih dari sekadar institusi formal, sekolah rakyat menjadi ekosistem hidup yang sehat, bahagia, dan berkelanjutan.
Ia memperhatikan keseimbangan antara aspek intelektual, spiritual, emosional, dan sosial peserta didik.
Ini sejalan dengan pandangan Fritjof Capra dalam The Systems View of Life yang menekankan pentingnya pendekatan holistik dan keberlanjutan dalam membangun masyarakat masa depan.
Sekolah rakyat tidak sibuk mengejar akreditasi global, melainkan membangun akar yang kuat di tanah rakyat yaitu mendidik generasi yang sadar akan tanggung jawab sosial ekologisnya, hidup harmonis dengan alam, dan tumbuh menjadi manusia utuh yang berguna bagi sesama dan bangsa.
Oleh karena itu, pendekatan sekolah rakyat untuk anak-anak yang diurus oleh Kementerian Sosial (Kemensos) tidak boleh sekadar menjadi program pelengkap atau respons jangka pendek.
Ini adalah bentuk tanggung jawab negara untuk menjamin keadilan dan keberadaban dalam arti yang sesungguhnya. Pendidikan bagi mereka adalah hak dasar, bukan belas kasihan.
Negara wajib menghadirkan sistem yang memberdayakan mereka agar keluar dari lingkaran kemiskinan antar generasi.
Dalam konteks ini, sekolah rakyat bukan hanya proyek pendidikan alternatif, tetapi sebuah laku kemanusiaan yang adil dan beradab demi membangun fondasi masa depan dari reruntuhan ketidakadilan sosial.
Sekolah Nurani Keadilan
Sekolah Nurani Keadilan Inklusif merupakan sebuah konsep pendidikan yang menekankan pembentukan karakter berbasis nurani, keadilan sosial, dan inklusivitas.
Dalam model ini, pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik semata, tetapi juga pada pengembangan nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, kejujuran, tanggung jawab sosial, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Sekolah ini bertujuan menumbuhkan kesadaran moral siswa agar mampu memahami dan merasakan penderitaan orang lain, serta mendorong mereka untuk bertindak adil dan inklusif dalam kehidupan bermasyarakat.
Keadilan inklusif menjadi pilar utama dari pendekatan ini, di mana semua peserta didik, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, agama, atau kemampuan fisik dan mental, mendapatkan kesempatan yang setara dalam pendidikan.
Sekolah Nurani Keadilan Inklusif menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan hambatan.
Proses belajar mengajar dirancang agar mendukung partisipasi aktif setiap siswa, serta membangun solidaritas sosial di antara mereka.
Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator nilai dan pembimbing etika.Tujuan besar dari sekolah semacam ini adalah kesejahteraan rakyat.
Dengan mencetak generasi yang adil, inklusif, dan memiliki nurani yang tajam, sekolah ini berkontribusi terhadap terbentuknya masyarakat yang peduli, berkeadilan, dan harmonis.
Pendidikan yang menyentuh nurani akan melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana dan berpihak pada kemaslahatan bersama.
Dalam jangka panjang, transformasi pendidikan ini akan menjadi fondasi bagi pembangunan sosial dan ekonomi yang lebih berkelanjutan dan merata bagi seluruh rakyat.
Dampak Nyata
Sekolah Rakyat yang berhati nurani keadilan sosial memiliki dampak nyata dalam menciptakan pendidikan yang membumi dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Sekolah semacam ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar akademik, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan sosial.
Melalui pendekatan yang berpihak pada keadilan sosial, Sekolah Rakyat mengangkat suara dan kebutuhan kelompok marjinal yang sering terpinggirkan dalam sistem pendidikan formal.
Hal ini membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin, komunitas adat, serta penyandang disabilitas.
Dampak nyata lainnya terlihat dalam penguatan kesadaran kritis peserta didik terhadap isu-isu sosial di sekitar mereka.
Sekolah Rakyat menanamkan nilai keadilan sosial sejak dini melalui dialog, refleksi, dan kegiatan berbasis komunitas.
Anak-anak diajak untuk memahami ketimpangan, ketidakadilan, dan hak-hak dasar manusia. Mereka dibina agar tumbuh menjadi individu yang tidak apatis, tetapi berani menyuarakan kebenaran dan terlibat aktif dalam memperjuangkan perubahan sosial, baik di lingkup lokal maupun nasional.
Di sisi ekonomi, Sekolah Rakyat yang berlandaskan nurani dan keadilan sosial juga berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan memberikan pendidikan kontekstual yang terkait langsung dengan kebutuhan hidup sehari-hari seperti keterampilan bertani, wirausaha mikro, atau pengelolaan sumber daya alam lokal sekolah ini memberdayakan masyarakat secara langsung.
Pendidikan tidak lagi bersifat abstrak, tetapi menjadi alat praktis untuk keluar dari kemiskinan dan ketergantungan.Lebih jauh, sekolah ini juga mempererat ikatan sosial di komunitas.
Karena melibatkan orang tua, tokoh masyarakat, dan warga sekitar dalam proses belajar, Sekolah Rakyat menciptakan lingkungan pendidikan yang kolaboratif.
Nilai-nilai gotong royong, solidaritas, dan empati diperkuat dalam praktik sehari-hari, menjadikan sekolah sebagai pusat transformasi sosial yang hidup.
Dalam konteks ini, pendidikan tidak hanya membentuk individu, tetapi juga membangun komunitas yang berdaya dan adil.
Secara keseluruhan, dampak nyata dari Sekolah Rakyat yang berhati nurani keadilan sosial adalah terciptanya generasi baru yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli dan berpihak pada kebaikan bersama.
Mereka tidak terjebak pada individualisme, melainkan memiliki orientasi kolektif demi kemaslahatan rakyat.
Dengan menjadikan keadilan sosial sebagai inti dari proses pendidikan, Sekolah Rakyat membuka jalan menuju masyarakat yang lebih setara, inklusif, dan sejahtera.

