Close Menu
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
Facebook X (Twitter) Instagram
VoxNtt.comVoxNtt.com
Facebook X (Twitter) Instagram
Subscribe
  • NTT NEWS
  • REGIONAL NTT
  • NASIONAL
  • FEATURE
  • GAGASAN
    • OPINI
    • Podium Redaksi
  • SENI DAN BUDAYA
  • SASTRA
  • VOX POPULI
    • VOX GURU
    • MAHASISWA
    • PERAWAT
  • LAINNYA
    • VOX DESA
    • HUKUM DAN KEAMANAN
    • KOMUNITAS
VoxNtt.comVoxNtt.com
Home»Gagasan»Media Sosial: Be Your Self Vs Looking Glass Self
Gagasan

Media Sosial: Be Your Self Vs Looking Glass Self

By Redaksi28 Juli 20253 Mins Read
Facebook Twitter WhatsApp Telegram
Ilustrasi
Share
Facebook Twitter Pinterest Telegram WhatsApp

Oleh: Hayon Bening

Calon Mahasiswa IFTK Ledalero

Dunia saat ini tengah diselimuti oleh berbagai kecemasan, khususnya kegelisahan eksistensial yang muncul dari kompleksitas persoalan diri. Banyak orang merasa bahwa dunia sedang tidak berada dalam kondisi yang baik-baik saja.

Kecemasan itu melahirkan performa diri yang tidak otentik, manusia yang kehilangan jati dirinya, teralienasi dari keaslian eksistensialnya.

Manusia ideal sejatinya adalah makhluk pencari makna dan kebahagiaan sejati, yang menurut banyak filsuf dan teolog seharusnya berpuncak pada relasi yang intim dengan Tuhan.

Namun, dalam praktiknya, manusia modern cenderung mengejar kebahagiaan semu—kebahagiaan yang dibangun di atas kepuasan instan, ketenaran, dan pemenuhan hasrat.

Akibatnya, muncul ketamakan, egoisme, dan kerakusan yang justru menjauhkan manusia dari esensi kehidupannya.

Kemajuan teknologi, ilmu pengetahuan, budaya, dan berbagai dimensi kehidupan lainnya memang membawa banyak manfaat.

Namun di sisi lain, kemajuan ini juga memicu krisis nilai dan degradasi martabat manusia.

Perubahan yang cepat ini belum sepenuhnya diimbangi oleh kematangan moral dan kesadaran etis masyarakat, terutama generasi muda.

Alhasil, banyak yang terjebak dalam aktualisasi diri yang sempit, sebagaimana yang dikritik oleh Charles Horton Cooley lewat konsep looking glass self, yakni cara individu membentuk citra diri berdasarkan pandangan dan penilaian orang lain.

Fenomena media sosial memperparah kondisi ini. Alih-alih menjadi sarana ekspresi diri yang sehat, media sosial sering kali menjadi panggung pencitraan semu, tempat banyak orang berlomba mengejar validasi publik melalui jumlah likes dan followers.

Banyak generasi muda yang secara gamblang “menelanjangi” dirinya di dunia maya demi popularitas, tanpa menyadari bahwa tindakan tersebut mengikis nilai-nilai etika dan moralitas yang seharusnya dijunjung tinggi.

Kebahagiaan yang ditampilkan di media sosial bukan lagi merupakan refleksi kebahagiaan sejati, melainkan sebuah bentuk pseudo-happiness, kesenangan instan yang dibentuk oleh konsumsi visual, pengaruh kolektif, dan penilaian eksternal.

Ini sejalan dengan teori contagion dari Gustave Le Bon, yang menjelaskan bagaimana perilaku massa dapat menular dan membentuk realitas sosial yang tidak selalu rasional.

Dalam konteks ini, muncul tantangan besar: bagaimana manusia dapat tetap menjadi dirinya sendiri (be yourself) di tengah budaya looking glass self yang kian dominan?

Menjadi diri sendiri bukan berarti menolak eksistensi sosial atau mengabaikan interaksi dengan orang lain. Sebaliknya, hal itu menuntut kemampuan reflektif untuk memahami dan menyeimbangkan antara subjektivitas pribadi dan objektivitas sosial.

Aristoteles melalui konsep eudaimonia, kebahagiaan sejati yang sejalan dengan hidup bermoral, menyadarkan kita bahwa kebahagiaan tidak bisa dilepaskan dari kebajikan dan kehendak baik.

Spinoza juga menekankan pentingnya emosi aktif seperti keberanian dan kebesaran hati dalam membangun kehidupan yang bermakna.

Maka dari itu, di tengah dominasi emosi pasif yang dibentuk oleh realitas sosial dan media digital, dibutuhkan kekuatan hati untuk tidak larut dan kehilangan arah.

Keseimbangan antara be yourself dan looking glass self bukanlah sebuah dikotomi yang saling meniadakan, melainkan suatu relasi yang harus dijalin secara bijaksana.

Keduanya bisa saling melengkapi, asalkan dijalankan dengan kesadaran penuh dan nilai moral yang kuat.

Kehidupan di era kontemporer membutuhkan sintesis antara keunikan individu dan keterhubungan sosial demi mencapai common good atau kebaikan bersama.

Kesimpulannya, hidup di era media sosial dan kemajuan zaman menuntut manusia untuk tidak kehilangan jati dirinya. Dunia modern memang memberikan banyak kemudahan, tetapi juga membawa tantangan besar dalam hal menjaga keaslian diri dan kebajikan moral.

Untuk itu, diperlukan kesadaran, tanggung jawab, dan kebijaksanaan dalam menavigasi kehidupan. Hanya dengan demikian, kita bisa membangun kehidupan yang seimbang—antara ekspresi diri dan keterhubungan sosial, antara subjektivitas dan objektivitas, antara kebahagiaan pribadi dan kebaikan bersama.

Hayon Bening
Previous ArticleEsEr (SR) Itu Bukan Sekolah Laptop, Bukan Pula Sekolah Terakhir
Next Article Pembatalan ETMC 2025 di Ende, Blunder Asprov PSSI NTT yang Mencederai Rasa Keadilan Publik

Related Posts

HAM dalam Labirin Kebijakan

12 Maret 2026

Polemik Pengangkatan Sekda Ngada dan Pentingnya Menjaga Tata Kelola Birokrasi Daerah

10 Maret 2026

Saat Negara Fokus Memberi Makan, Akal Sehat Justru Terabaikan

10 Maret 2026
Terkini

Perkembangan Emosional Siswa Harus Menjadi Perhatian Serius

14 Maret 2026

Monumen Bruno Sukarto Diresmikan di STIKOM Uyelindo Kupang

14 Maret 2026

Dokumen Administrasi Sekolah Rakyat di Manggarai Masih Berproses, Pemda Tunggu KKPR

13 Maret 2026

Polisi Tangkap Pelaku Curanmor di Satarmese, Satu Orang Masih Buron

13 Maret 2026

Bupati Manggarai Minta PLN Pastikan Pasokan Listrik Jelang Idul Fitri dan Paskah

13 Maret 2026
© 2026 VoxNTT
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Kontak
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.