Rote, VoxNTT.com – Tradisi HUS di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, kembali menggeliat. Sebuah ritual sakral yang menyatukan kekuatan spiritual, nilai estetika, dan potensi ekonomi lokal ini menjadi objek penelitian tim dosen dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani Kupang).
Pada 25 Juli 2025 lalu, Dusun Ngenuoen, Desa Mundek, Kecamatan Loaholu, menjadi saksi bangkitnya kembali tradisi HUS.
Dalam ritual itu, kuda-kuda hias tampil gagah mengelilingi arena berbentuk lingkaran, diiringi silat kampung dan tarian kebalai.
Bagi masyarakat Rote, HUS bukan sekadar tontonan. Ia adalah ekspresi spiritual dan sosial yang sarat makna.
Tokoh-tokoh adat seperti Simson Hanas, Simon Sa’u, dan Mus Mboe menyebut HUS sebagai simbol budaya inklusif, berbeda dengan kuda pacuan yang kompetitif sifatnya.
Estetika, Kesehatan, dan Nilai Ekonomi Kuda HUS
Kehadiran para peneliti dari Politani Kupang menyoroti bagaimana tradisi ini telah mengangkat derajat kuda Rote.
Ia tak lagi dipandang semata sebagai hewan pekerja, melainkan simbol budaya dengan nilai ekonomi tinggi.
“Estetika budaya memberi nilai jual tambahan,” ujar Melkianus Dedimus Same Randu, peneliti utama dari Politani Kupang kepada Voxntt.com, Minggu, 3 Agustus 2025.
Melkianus, akrab disapanya, menjelaskan kuda HUS kini dinilai dari segi keindahan dan keartistikan. Namun, menurutnya, performa di arena tetap membutuhkan kesiapan fisik dan manajemen pemeliharaan yang baik.
“Namun, untuk tampil optimal di arena yang menuntut stamina tinggi, kuda HUS harus dipersiapkan secara fisik dengan manajemen pemeliharaan yang baik,” katanya.
Rekan peneliti lainnya, Maria K. Deko dan Cipta K. N. Zebua menambahkan, pentingnya pemberian pakan berkualitas untuk mendukung ketahanan kuda selama pertunjukan.
“Dengan perpaduan antara estetika budaya dan manajemen pemeliharaan yang tepat, kuda HUS tidak hanya tampil memukau, tetapi juga menjadi aset ekonomi yang nyata bagi masyarakat Rote,” jelas Maria.
Politani Kupang Turun ke Lapangan
Tim peneliti Politani Kupang hadir langsung di lokasi pelaksanaan HUS. Tim ini terdiri atas Melkianus D. S. Randu, Yori R. Menoh, Maria K. Deko, Cipta K. N. Zebua, serta Gregorius Batafor.
Penelitian ini juga mendapat dukungan dari akademisi muda Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Mario Firmansyah.
Kehadiran mereka bukan sekadar observasi, melainkan bentuk kepedulian terhadap pelestarian warisan budaya.
Setelah kegiatan berlangsung, tim peneliti mengadakan diskusi terbatas bersama Komunitas Kuda HUS Rote Ndao.
Penggagas komunitas seperti Mesak Zadrak Lonak, Eran H. Sipa, dan tokoh lainnya menyuarakan kegelisahan mereka akan minimnya regenerasi dan dokumentasi tradisi ini.
Dalam diskusi yang juga dihadiri anggota DPRD Rote Ndao, Mikael Manu dan Adrianus Pandie, mengemuka wacana pembentukan lembaga resmi untuk mengawal pelestarian, pelatihan, serta pewarisan budaya HUS.
“Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” tegas Mikael Manu.

Simbol Keabadian dalam Arena Lingkaran
Salah satu aspek paling menonjol dalam HUS adalah bentuk arena yang melingkar.
Menurut Mesak Zadrak Lonak, yang juga Ketua Komisi I DPRD Rote Ndao, bentuk itu bukan tanpa makna.
“Seperti cincin, tak ada ujung dan pangkal,” ujarnya.
Bentuk lingkaran itu disebut sebagai simbol persaudaraan dan keabadian, merepresentasikan semangat kolektif masyarakat Rote yang tak lekang oleh zaman.
Deddy Randu menekankan pentingnya langkah konkret untuk melindungi HUS sebagai warisan budaya.
Timnya berkomitmen menyusun buku, menerbitkan artikel ilmiah, dan mendorong proses legalisasi tradisi ini.
“Tradisi HUS ini harus segera dipatenkan sebagai bagian sah dari identitas budaya orang Rote Ndao, termasuk berbagai atributnya, sebelum terlambat,” ujarnya penuh semangat.
Yori R. Menoh, peneliti yang juga putra daerah Rote Ndao, melihat HUS sebagai titik temu antara seni, sejarah, dan ekonomi.
Menurutnya, kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah dapat menjadikan HUS sebagai bagian dari pilar pariwisata berkelanjutan.
“Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah titik tolak pengakuan jati diri orang Rote,” tukasnya.
Penulis: Ronis Natom

