Borong, VoxNTT.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatatkan total 94 kasus HIV sejak tahun 2018 hingga Juli 2025. Namun, angka kasus HIV ini menunjukkan penurunan yang signifikan sejak tahun 2024.
Penurunan ini diungkapkan oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Manggarai Timur, Pranata Kristiani Agas, dalam sebuah keterangan pada Senin, 4 Agustus 2025. Berdasarkan data yang disampaikan, dari total 94 kasus yang tercatat, sebanyak 54 orang masih menjalani pengobatan. Sementara itu, lima orang lainnya dirujuk ke luar daerah untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“13 pasien gagal dalam proses tindak lanjut pengobatan (follow-up), dan 27 orang telah meninggal dunia akibat komplikasi terkait HIV,” ujar Pranata Agas.
Dia juga mengungkapkan bahwa pada tahun 2024, kasus HIV baru menunjukkan penurunan yang cukup berarti, hanya tercatat 15 kasus baru. Dari jumlah tersebut, 11 orang menjalani pengobatan, dua dirujuk ke luar daerah, sementara dua lainnya gagal mengikuti pengobatan dan akhirnya meninggal dunia.
Pada tahun 2025, hingga Juli, tercatat sebanyak 12 kasus baru HIV. Dari jumlah tersebut, dua orang meninggal dunia, dua orang gagal dalam tindak lanjut pengobatan, satu orang belum memulai pengobatan, dan delapan orang lainnya masih menjalani pengobatan.
Pranata Agas menilai penurunan jumlah kasus baru HIV ini sebagai hasil dari kerja sama lintas sektor dan peningkatan edukasi masyarakat terkait pencegahan dan penanganan HIV/AIDS.
“Penurunan ini menggembirakan, tapi tidak boleh membuat kita lengah. Edukasi dan layanan kesehatan harus terus dikuatkan, terutama di daerah-daerah dengan akses terbatas,” tegasnya.
Meski demikian, Dinas Kesehatan mengingatkan bahwa risiko penyebaran HIV masih tinggi, terutama di kalangan kelompok usia produktif.
Minimnya kesadaran untuk melakukan tes HIV serta masih adanya stigma sosial yang menghalangi orang untuk memeriksakan diri menjadi faktor utama yang menyebabkan banyak kasus HIV terlambat terdeteksi.
Periode 2018 hingga 2023 menunjukkan lonjakan jumlah kasus HIV yang cukup signifikan setiap tahunnya. Namun, sejak tahun 2024, dengan berbagai intervensi dan pendampingan yang diberikan kepada pasien, tren peningkatan kasus ini mulai menunjukkan perubahan positif.
“Kami ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun warga yang tidak tertangani hanya karena takut atau malu. HIV bukan akhir, tapi bisa dikendalikan dengan pengobatan dan dukungan,” pungkas Pranata Agas.
Kontributor: Isno Baco

